Bawang Putih Picu Inflasi Februari

Bawang Putih Picu Inflasi FebruariKepala BPS DIY Heru Margono - Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah
03 Maret 2020 08:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Badan Pusat Statistik (BPS) DIY menyebutkan pada Februari 2020 inflasi yang terjadi sebesar 0,40%. Adapun andil terbesar yang mendorong terjadinya inflasi adalah bawang putih yang mengalami kenaikan sebesar 42,22%.

Kepala BPS DIY Heru Margono menyebutkan perkembangan harga berbagai komoditas pada Februari 2020 secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan BPS pada bulan Februari 2020, di Kota Jogja terjadi inflasi 0,40%, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 104,63 pada Januari 2020 menjadi 105,33 pada Februari 2020. "Tingkat inflasi tahun kalender [Februari 2020 terhadap Desember 2019] sebesar 0,67 persen dan tingkat inflasi dari tahun ke tahun [Februari 2020 terhadap Februari 2019] sebesar 3,08 persen," kata dia dalam Berita Resmi Statistik (BRS) BPS DIY di Kantor BPS DIY, Bantul, Senin (2/3).

Ia menjelaskan inflasi terjadi karena naiknya harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran. Kelompok itu yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,92%; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,28%; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,21%; kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,03%; kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,27%; kelompok pendidikan sebesar 0,06%; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,14%, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik sebesar 0,34%.

Sedangkan kelompok yang mengalami deflasi yaitu kelompok kesehatan sebesar 0,05%; kelompok transportasi sebesar 0,72%. Adapun kelompok yang relatif stabil yaitu kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar lainnya.  

Bahan Pangan Utama

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Februari 2020 sehingga memberikan andil mendorong terjadinya inflasi di antaranya bawang putih naik 42,22% dengan memberikan andil 0,15%. Cabai merah naik 32,85% dengan memberikan andil 0,09%; beras naik 1,40% dengan memberikan andil sebesar 0,04%; wortel, telur ayam ras dan semangka naik 12,87 %, 2,16% dan 19,24% dengan masing-masing memberikan andil sebesar 0,02%.

Emas perhiasan, mi, rokok putih, rokok kretek filter, tarif parkir, minyak goreng, tukang bukan mandor, cabai rawit, mie kering instant, daun melinjo, salak, mi kering instan, gula pasir, mesin cuci, tas sekolah, jeruk dan pir naik 1,72%, 1,17%, 1,52%, 0,81%, 2,57%, 1,32%, 0,99%, 6,23%, 37,41%, 14,68%, 2,09%, 1,60%, 2,06%, 2,96%, 2,55%, dan 10,48% dengan memberikan andil masing-masing 0,01%.

Sebaliknya komoditas yang turun harga sehingga menahan laju inflasi di antaranya angkutan udara turun 5,87% dengan memberikan andil sebesar -0,08%; bensin turun 0,73% dengan memberikan andil sebesar -0,03%; bahan bakar rumah tangga, jambu batu, brokoli, daging ayam ras dan tissu turun 0,44%, 25,07%, 11,09%, 0,90% dan 3,46% dengan masing-masing memberikan andil sebesar -0,01%.

"Kondisi inflasi Februari masih dalam kategori yang terkendali. Pemerintah tahu kalau pemicunya adalah bahan pangan utamanya bawang putih dan cabai merah. Artinya, bisa diantisipasi dengan menjaga pasokan. Kalau bisa terjaga terus, saya yakin sampai akhir tahun inflasi DIY tidak sampai tiga persen," ujar dia.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag DIY Yanto Apriyanto sempat mengungkapkan harga bawang putih dan cabai merang memang sempat melambung pada Februari. Namun, harga bawang putih dan cabai saat ini cenderung turun.  

Berdasarkan pantauan harga rata-rata di pasaran pada Senin (2/3), harga cabai merah keriting turun dari Rp42.000 per kilogram (kg) menjadi Rp36.333 per kg. Harga cabai merah besar turun dari Rp58.667 per kg menjadi Rp54.667 per kg. Kemudian, bawang putih kating Rp42.000 dan bawang putih sinco Rp34.667 per kg.