Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Yogyakarta: Kerja Keras, Terus Belajar dan Berinovasi

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Yogyakarta: Kerja Keras, Terus Belajar dan BerinovasiKepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Yogyakarta, Hengky Aritonang./ Ist. - dok. pribadi
10 Maret 2020 11:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bekerja keras, terus belajar dan mengembangkan inovasi hal yang coba dibawa Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Yogyakarta, Hengky Aritonang, dalam menjalani kariernya.

Hengky berkarier di Kantor Bea dan Cukai sudah sejak 1997. Sejumlah posisi jabatan pernah diembannya selama mengabdi di Kantor Bea dan Cukai. Misalnya, ia pernah ditempatkan pada bidang Penindakan dan Penyidikan (P2), unit pengawasan hingga menjadi Kepala Kantor di Kendari.

Selama menjalani karier, dia memiliki banyak suka duka yang dilalui. Salah satunya saat dia berjuang untuk mendorong untuk pemberantasan narkotika. Ia mengatakan turut membangun kesadaran pegawai bea dan cukai untuk memerangi narkotika yang akan diselundupkan. “Narkotika jadi musuh nasional. Garda terdepan ketemunya kan bea cukai. Jadi ada training dulu untuk pegawai,” ucap Hengky, Senin (9/3).

Ia mengungkapkan ada sejumlah peluang dan tantangan yang ada di DIY seiring berkembangnya daerah ini. Pertama, akan beroperasinya penuh Yogyakarta International Airport (YIA) menjadi tantangan untuk semakin meningkatkan pengawasan, baik narkotika maupun warga negara asing (WNA). Hal tersebut tidak lepas dari prediksi akan meningkatnya jumlah penerbangan di DIY.

Hal kedua yaitu DIY dan Jawa Tengah termasuk DIY menjadi tujuan pengembangan kawasan industri, pabrik-pabrik, yang semula banya dibangun di Tangerang sudah bergeser. Transportasi juga semakin mudah dan terjangkau. Di titik inilah kembali ada tantangan untuk memberikan pelayanan maupun dalam hal pengawasan.

Ketiga yaitu Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Yogyakarta, turut didorong dalam mengembangkan industri kecil dan menengah (IKM). “Banyak fasilitas untuk IKM, seperti penundaan biaya masuk impor atau pembebasan. Itu memberikan kemudahan impor bahan baku untuk tujuan ekspor. Diharapkan dengan begitu IKM dapat berkembang dan mampu bersaing,” ujar pria yang memiliki hobi olahraga sepeda itu.

Menurut dia, dalam perjalanan kariernya selama ini. Ia mencoba terus bekerja keras, terus belajar dan berinovasi. Hal tersebut dirasanya akan mendorong karier yang dirintis dan dapat memajukan kantor tempat bekerja.