BI Evaluasi Target Pertumbuhan Kredit Perbankan

BI Evaluasi Target Pertumbuhan Kredit PerbankanGubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo membacakan sumpah saat acara pengambilan sumpah jabatan di Makamah Agung, Jakarta, Kamis (24/5). - Bisnis Indonesia/Abdullah Azzam
12 Maret 2020 09:22 WIB Maria Elena & Ni Putu Eka Wiratmini Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan akan kembali mengevaluasi proyeksi pertumbuhan kredit perbankan. Kebijakan ini ditempuh lantaran pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan hanya tumbuh 5,2%. 

Seperti diketahui, pada Februari 2020 Bank Indonesia telah mengumumkan pemangkasan target pertumbuhan kredit menjadi sebesar 9%-11%. Penurunan target terjadi karena dampak dari virus Corona yang semakin merebak ke negara di luar China, termasuk negara-negara maju.

Perry mengatakan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan tumbuh 5%-5,4% tahun ini, kemungkinan hanya mencapai 5,1%. Jika didorong oleh stimulus fiskal dan moneter, maka pertumbuhan dapat menyentuk angka 5,2%. "Yang harus kami kalkulasi lagi kreditnya, apa masih bisa sampai 9%-11% itu yang nanti kami umumkan.  Proyeksinya akan kami sampaikan lagi di Rapar Dewan Gubernur BI (RDG), kami akan menghitung implikasi lebih lanjut," katanya, Rabu (11/3).

Perry mengatakan kredit pada 2021 justru akan tumbuh lebih kencang dikisaran 10%-12%, karena stimulus yang akan terus dilancarkan regulator, dan efek perlambatan sementara dari virus corona.

Imbuhnya, BI bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan juga telah melancarkan berbagai stimulus, agar kualitas kredit perbankan juga tetap terjaga di samping mendorong stabilitas perbankan agar kredit lebih ekspansif.

Seperti diketahui, pada awal Maret 2020, Bank Indonesia telah memutuskan untuk memangkas rasio GWM valas dari semula 8% menjadi 4% dari dana pihak ketiga bank. BI juga menurunkan sebesar 50 basis poin GWM Rupiah dari 5,5% menjadi 5%, yang dikhususkan untuk bank yang melakukan pembiayaan ekspor dan impor.

Jika dikalkulasikan, perbankan mendapat tambahan likuiditas sebesar Rp22 triliun. Kemudian pada 2019 lalu, BI juga memangkan GWM sebesar 100 bps. Sehingga tota likuiditas tambahan bank sebesar Rp73 triliun.

Selain itu, OJK juga memberikan pelonggaran untuk pengaturan penilaian kualitas aset kredit, yakni plafon sampai dengan Rp 10 miliar yang hanya didasarkan pada satu pilar yaitu ketepatan pembayaran pokok dan/atau bunga terhadap kredit kepada debitur di sektor yang terdampak penyebaran virus Corona.

Relaksasi pengaturan restrukturisasi kredit juga dilakukan yakni yang terkait dengan debitur di sektor yang terdampak penyebaran virus Corona. Relaksasi pengaturan tersebut akan diberlakukan sampai dengan satu tahun sejak ditetapkan, namun dapat diperpanjang bila diperlukan. 

Perbankan Bersiap

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk masih belum mengoreksi pertumbuhan kredit, hanya masih ada kemungkinan peluang loan growth akan berada di bawah 10% pada tahun ini. Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Royke Tumilaar mengakui saat ini mulai ada penurunan permintaan kredit. Namun Bank Mandiri belum mengoreksi perubahan target pertumbuhan kredit. 

Berdasarkan presentasi analyst meeting kuartal IV/2019, Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 8%-10% hingga akhir tahun ini. Rasio kredit bermasalah atau gross nonperforming loan (NPL) ditargetkan berada dikisaran 2,1%-2,3%.

Pada 2019, Bank Mandiri menyalurkan kredit senilai Rp907 triliun atau tumbuh 10,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai gross NPL berada di angka 2,33%. Bank Mandiri kemungkinan akan mempertimbangkan koreksi pertumbuhan kredit setelah semester I/2020 berlalu yakni tepatnya antara Juni atau Juli 2020. Penurunan pertumbuhan kredit merupakan suatu kepastian karena adanya ketidakpastian kondisi ekonomi global dan dampak corona virus (Covid-19). "Ya kami belum ukur, mungkin di bawah 10 persen pasti," katanya, Rabu (11/3).

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiaatmadja mengatakan adanya virus Corona dan redemption reksa dana akan berdampak pada pertumbuhan kredit tahun ini. BCA mengharapkan target pertumbuhan kredit setidaknya bisa sama dengan tahun lalu.

Menurutnya, apabila melihat realisasi tahun lalu,  pertumbuhan kredit industri perbankan dapat mencapai 7,1%. Setidaknya, pada tahun ini, pertumbuhan kredit secara industri perbankan kemungkinan akan sebesar 6%. BCA tetap optimistis mampu mencapai target pertumbuhan kredit sebesar 5% hingga 7%.

Sumber : Bisnis Indonesia