PT MERAPI PESONA JOGJA : Bangun Kepercayaan dan Inovasi

PT MERAPI PESONA JOGJA : Bangun Kepercayaan dan InovasiBobby Ardyanto Setyo Ajie/ Ist. - dok. Pribadi
23 Maret 2020 23:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Mulai berkecimpung dan mengenal banyak pelaku wisata pada 21 tahun silam, Bobby Ardyanto Setyo Ajie merintis PT Merapi Pesona Jogja pada 1999. Tentu situasi kala itu tak mudah lantaran krisis ekonomi sempat menyapa Indonesia.

Bobby sapaan akrabnya mulai mendirikan PT Merapi Pesona Jogja, saat krisis ekonomi. Ia diperkenalkan oleh teman sekaligus mentornya yang merupakan owner Jogja Village Inn hotel untuk mengelola counter desk hotel tersebut dalam melayani kebutuhan tour & transport. “Perjuangan dari zero kami lakukan sebagai counter desk di Jogja Village Inn 11 tahun,” ucap Bobby, Senin (23/3).

Pada 2004 ia mulai membuka counter desk di hotel-hotel lain sebagai pengembangan. Kemudian pada 2009 mulai mengerjakan proyek kapal pesiar dan mendapatkan kepercayaan dari whole seller dan agen di Eropa. Pada 2013 juga mulai membangun dua propert boutique hotel, yaitu Java Villas dan Joglo Mandapa, sebagai pengembangan bisnis.

Menurut dia, bisnis tour and travel memiiki banyak tantangan. Di antaranya dalam membangun kepercayaan dan inovasi produk hingga harus selalu berinovasi dan memberikan garansi. Pria yang memiliki hobi travelling ini mengatakan kunci sukses menjalankan usaha juga selalu ditanamkan pada pegawainya. “Komitmen, konsisten, disiplin, inovatif dan kreatif,” ujarnya.

Ke depan pria lulusan Ekonomi UPN Veteran Yogyakarta itu ingin mengembangkan dunia perhotelan dan restoran sebagai diversifikasi usaha. “Saya pikir tourism industry itu everlasting, tidak akan pernah habis, apabila suatu daerah atau negara mengelolanya dengan benar. Sustainable tourism wajib digiatkan agar industri ini benar-benar bisa diwariskan ke anak cucu kita,” ujarnya. 

Ketua GIPI

Sebagai Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby menyampaikan organisasi ini terdiri dari orang-orang yang ahli di bidangnya sehingga bisa mendukung perkembangan wisata. Hal yang utama perlu menjadi perhatian, kata dia, adalah produk dari wisata itu sendiri. “Produk harus ada standar wisata yang benar. Yang sudah benar sesuai pasar, kami harapkan ending-nya peningkatan wisatawan khususnya di Jogja,” katanya.

Untuk mencapai peningkatan wisatawan tersebut, Bobby mengakui ada banyak tantangan. Utamanya karena pariwisata dunia terus berubah. Misalnya, perubahan di era Revolusi Industri 4.0. “Perubahan world tourism mendorong untuk peningkatan pelayanan dan menyesuaikan standar dunia. Artinya harus bisa mempersiapkan destinasi produk mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.

Begitu produk yang ditawarkan sesuai standar yang telah ada, hal yang harus diperhatikan adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sebab tanpa adanya perbaikan dari bawah, akan sulit memajukan pariwisata.