Industri Kecil di Sleman Terpaksa Rumahkan Karyawannya

Industri Kecil di Sleman Terpaksa Rumahkan KaryawannyaTulakir (kiri) saat melakukan kegiatan pewarnaan terhadap kerajinan tangan yang dibuatnya di rumahnya yang berada di Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Kamis (2/4/2020). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
03 April 2020 07:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Sektor industri kecil menengah (IKM) dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di wilayah kabupaten Sleman harus menelan pil pahit di tengah pandemi Covid-19 yang sampai saat ini masih berlangsung. Pasalnya, produksi yang dilakukan oleh pelaku IKM maupun UMKM banyak yang terhenti karena tidak adanya permintaan dari konsumen.

Seorang perajin kerajinan tangan (handicrafts) dari fiberglass asal Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, Tulakir mengatakan jika ia harus menutup showroom kerajinan tangannya dikarenakan tidak adanya permintaan kerajinan tangan dari konsumen

"Saya terpaksa harus menutup toko karena tidak ada pemasukan, jadinya hanya bisa memproduksi kerajinan tangan tapi tidak bisa keluar karena banyak toko toko souvenir yang tutup gara-gara Covid-19 ini, biasanya hasil produksi saya edarkan ke toko toko cenderamata," ujar Tulakir kepada Harianjogja.com, Kamis (2/4/2020).

Bahkan, kondisi sulit yang dialaminya sekarang mengharuskan Tulakir untuk merumahkan 12 karyawannya karena dirinya tidak mempunyai pemasukan sama sekali imbas dari pandemi Covid-19 yang memang berpengaruh terhadap keberlangsungan sejumlah sektor industri besar maupun kecil.

"Sejak dua Minggu ini anak anak sudah saya liburkan karena tidak ada pemasukan sama sekali. Daripada tidak ngapa-ngapain mending saya liburkan dulu menunggu situasi ini semakin kondusif dan produksi bisa berjalan lagi," ungkap Tulakir.

Lebih lanjut, ketika disinggung mengenai jumlah produksi harian yang bisa ia hasilkan sebelum pandemi Covid-19 ini muncul, Tulakir mengaku setiap minggunya ia dan karyawannya bisa membuat ribuan kerajinan tangan seperti asbak patung, miniatur Candi Prambanan, miniatur tempat yang menjadi ikon suatu daerah, dan miniatur boneka Salman yang menjadi ikon Bumi Sembada.

"Sebelum ada ini (Covid-19), per Minggu saya dan anak-anak bisa menghasilkan ribuan kerajinan tangan seperti asbak patung dan kerajinan tangan lainnya, namun seiring dengan adanya pandemi Covid-19 ya tidak bisa produksi lagi, akhirnya hanya bisa produksi untuk stok saja," jelasnya.

Adapun, hasil kerajinan tangan milik Tulakir terpampang di toko-toko kerajinan tangan yang ada di Jalan Malioboro, kota Jogja. Tidak hanya di wilayah DIY, hasil kerajinan tangan miliknya juga merambah provinsi di luar DIY seperti Jakarta, Bali, Sulawesi, dan Surabaya, Jawa Timur.

"Penurunan mencapai 100 persen, saya juga memproduksi kerajinan tangan khas dari sebuah daerah, makanya saya kirim ke luar kota juga sebagian besar, namun apa daya semua toko-toko cenderamata sekarang sudah pada tutup, sudah tidak bisa produksi akhirnya hanya jalan di tempat," keluhnya.

Kendati demikian, agar dapurnya tetap bisa mengebul Tulakir akhirnya hanya bisa melakukan upaya jasa perbaikan terhadap kerajinan tangan yang butuh perbaikan karena masih ada beberapa komponen yang harus dilakukan perbaikan dari sejumlah supplier kerajinan tangan.

Dinas Masih Lakukan Identifikasi

Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Dwi Wulandari membenarkan jika sektor industri kategori kecil dan menengah memang terkena dampak dari pandemi Covid-19.

"Hampir semua terdampak, bahkan kami (Disperindag) belum mendata IKM sampai dengan Maret ini karena kegiatan pembaharuan data industri 2020 terhenti karena adanya pandemi Covid-19," ujar Wulan, Kamis (2/4/2020).

Dwi Wulandari atau yang akrab disapa Wulan dan jawatannya terus melakukan upaya identifikasi IKM yang terdampak pandemi Covid-19. Hal tersebut dilakukan agar ia dan jawatannya bisa tahu persis permalasahan yang dihadapi oleh para pelaku IKM.

"Kami juga mengoptimalkan pemasaran online bagi pelaku IKM. Kami juga sudah melakukan pelatihan online secara masif sehingga kami yakin teman teman IKM sudah mampu memasarkan produknya secara online," terangnya

Dalam mengantisipasi penurunan omzet yang dihadapi oleh para pelaku IKM, Wulan dan jawatannya juga terus mendorong agar pelaku industri kecil dan menengah mampu memproduksi sejumlah komoditas atau barang yang sangat dibutuhkan saat pandemi Covid-19 berlangsung diantaranya masker kain (non medis) dan hand sanitzer.

"Tak lupa, kami juga mendorong IKM agar mampu berinovasi dalam aspek pemasaran misalnya dengan memberikan diskon, paket paket menarik, free ongkir untuk jarak tertentu, serta mendorong industri yang mempunyai cukup banyak untuk mensinkronisasikan kepada industri kecil yang sejenis," jelasnya.

Namun demikian, tidak semua industri mengalami penurunan omzet. Ada sejumlah industri yang justru mengalami kenaikan di tengah pandemi Covid-19 ini. Diantaranya, industri herbal (jamu), industri susu kambing, industri olahan daging beku.

"Ini merupakan sebuah anomali, karena sejumlah industri tersebut justru permintaannya dari konsumen atau pasar mengalami kenaikan, seperti halnya di sentra jamu gesikan di Merdikorejo, Tempel, Sleman mengalami kenaikan omzet sekitar 20 persen," ungkapnya.