Nilai Tukar Dolar AS Menjulang, Industri Tempe Tahu Terpukul

Nilai Tukar Dolar AS Menjulang, Industri Tempe Tahu Terpukul Tempe kedelai. - Solopos/Ivanovich Aldino
04 April 2020 10:22 WIB Andi M. Arief Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu (Gakoptindo) menyatakan pasar tempe dan tahu pada akhir kuartal I/2020 telah susut hingga 30%. Situasi ini disebabkan melemahnya rupiah atas dolar Amerika Serikat.

Ketua Gakoptindo Aip Syarifudin mengatakan tren penyusutan tersebut akan berlanjut pada kuartal II/2020. Selain serapan, lanjutnya, pabrikan juga dihadapkan naiknya harga bahan baku akibat pelemahan kurs rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).  "Sekarang [harga kedelai] di Jakarta saja Rp8.500 per kilogram (kg). Jadi, sudah naik kira-kira 30 persen lebih kurang. Tidak ada alternatif lain kecuali minta tolong pemerintah," ujarnya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Jumat (3/4).

Bantuan yang diharapkan Aip adalah masuknya tempe maupun tahu dalam daftar bantuan sosial (bansos) yang akan diberikan Kementerian Sosial kepada keluarga prasejahtera. Seperti diketahui, pemerintah akan memberikan bantuan sosial (bansos) berupa sembako pada pihak yang terdampak wabah Covid-19 dan keluarga prasejahtera.

Menurutnya, produksi tempe tahu masih akan lebih rendah sekitar 10% secara tahunan pada semester I/2020. Namun demikian, Aip meramalkan produksi tempe tahu akan merosot hingga 20% tanpa adanya intervensi pemerintah.

Aip berpendapat walaupun volume produksi akan masih susut, arus kas pabrikan akan terbantu dari tekanan tingginya harga bahan baku. Pasalnya, lanjutnya, pabrikan tidak bisa menaikkan harga tempe tahu di pasaran.

Seperti diketahui, harga tempe tahu di pasaran berkisar Rp15.000 per kg atau Rp2.000-Rp3.000 per potong (200-250 gram). Harga jual tersebut ditentukan dengan harga bahan baku yang berkisar di Rp6.500-Rp6.700. "Pada 2008 dulu kami ini demo nasional karena harga kedelai sudah [di kisaran] Rp9.000-Rp10.000, dan [harga kedelai saat] ini sudah dekat," ucapnya.

 

Alternatif Bahan Bakar

Aip menyatakan strategi yang digunakan sebagian pabrikan untuk meringankan beban arus kas adalah mencari alternatif bahan bakar. Aip menyampaikan kini sebagian pabrikan beralih dari menggunakan tabung gas tiga kg sebagai bahan baku menjadi kayu bakar dan plastik bekas.

Aip mendata saat ini sekitar 30%-40% pabrikan menggunakan kayu bakar, 55%-65% memakai LPG tiga kg, sedangkan 5% dari total pabrikan tempe memilih menggunakan plastik bekas. Karena itu, Aip sebelumnya telah meminta kepada Presiden Joko Widodo agar harga gas yang dinikmati oleh produsen tempe tahu sama dengan yang dinikmati industri secara umum. "Pengerajin tempe tahu di seluruh Indonesia ada 150.000 unit. Kalau [kebutuhan] tiga hari saja satu tabung gas, berarti butuh 50.000 tabung tiap hari. Apa kurang banyak itu [kebutuhannya]?" ucapnya.

Di sisi lain, Aip menyatakan pabrikan tempe tahu tida bisa memilih jalur pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk meringankan arus kas pabrikan. Pasalnya, 97% dari total pabrikan tempe di dalam negeri merupakan usaha keluarga. Aip mencatat tenaga kerja langsung industri tempe tahu sekitar 1,5 juta orang. "Kalau dengan [anggota] anggota keluarga bisa 5 juta orang yang terlibat."

Sumber : Bisnis Indonesia