Ada Pandemi Corona, Ini Komoditas Usaha Kecil paling Merugi di DIY

 Ada Pandemi Corona, Ini Komoditas Usaha Kecil paling Merugi di DIYSeorang pengunjung melihat batik thinting di Sanggar Budaya Singlon di Jalan Kawijo 17 Kecamatan Pengasih, Kulonprogo, Kamis (13/12/2018). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
26 April 2020 00:17 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Pandemi Covid-19 memukul sektor industri kecil dan menengah (IKM). Kerugian pun diperkirakan mencapai Rp8,023 miliar.

Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda DIY Ni Made Dwipanti menjelaskan berdasarkan data yang ia dapat dari Disperindag DIY ada 726 IKM yang terdampak.

"IKM itu bergerak di bidang usaha 11 komoditas yaitu pangan, alat permainan edukatif (APE) kayu, kerajinan, kerajinan bambu, kerajinan kayu, mebel bambu, mebel kayu, sandang, kulit, logam, dan batik. Dari 726 itu di dalamnya ada 2.839 tenaga kerja," kata dia ketika ditemui di ruangannya di Kompleks Kepatihan, Jogja pertengahan April 2020.

Dari 11 sektor komoditas tersebut ada tiga sektor yang mengalami potensi kerugian yang paling besar. Potensi kerugian sektor kerajinan sebesar Rp2,195 miliar, sektor pangan Rp1,859 miliar, dan batik Rp 1,380 miliar.

Untuk sektor lain yakni alat permainan edukatif (APE) kayu potensi kerugiannya Rp85 juta, kerajinan bambu Rp577 juta, kerajinan kayu Rp150 juta, mebel bambu Rp160 juta, mebel kayu Rp663,545 juta, sandang Rp666 juta, kulit Rp150 juta, dan logam Rp138 juta. "Potensi kerugian total dari 11 sektor tersebut Rp8.023.545.000," ujar dia.

Ia menjelaskan dampak yang dialami masing-masing sektor beragam. Adapun dampak yang dialami misalnya penjualan turun sehingga omzet turun, produksi berkurang bahkan berhenti, harga bahan baku naik misalnya gula pasir dan empon-empon, produk sudah terlanjur dibuat tetapi tidak jadi dibeli, penurunan penjualan yang drastis bahkan hampir tidak ada penjualan.

Selain itu ada juga yang mengalami pesanan sebagian dibatalkan, pesanan yang dikirim tetapi belum dibayar, banyak produk yang menumpuk dan belum terjual, pembatalan pesanan, pesanan gagal kirim.

"IKM juga mengeluhkan modal habis untuk operasional, mobilitas terbatas, tagihan macet, adanya pengeluaran tambagan untuk karyawan seperti untuk masker dan sanitizer, tidak ada pembeli, dan esulitan likuiditas," ujar dia.

Atas persoalan yang dihadapi, IKM tersebut membutuhkan bantuan agar tetap bisa bertahan di tengah pandemi. Bantuan yang dibutuhkan seperti tambahan modal dalam peralatan produksi, pemasaran, bantuan modal, penundaan angsuran cicilan, bantuan modal untuk melanjutkan usaha jika sudah kondusif. Mereka juga membutuhkan pengadaan bahan baku dan bahan penolong dengan harga murah, keringanan pembayaran angsuran kredit, memberikan anggaran dana untuk kerugian IKM, serta bantuan penggantian modal dan biaya produksi.

"Ada pula yang butuh bantuan makanan karena tidak memiliki pendapatan, program padat karya, pinjaman lunak, hibah untuk pelaku usaha, pinjaman modal tanpa bunga, restrukturisasi pembayaran utang, dan pembebasan/penundaan pembayaran listrik,PAM, dan telepon," kata dia.