Telur Ayam Bertunas Beredar di Pasaran, Harga Jadi Anjlok

 Telur Ayam Bertunas Beredar di Pasaran, Harga Jadi AnjlokIlustrasi telur ayam. - Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat
04 Mei 2020 04:47 WIB Choirul Anam Ekbis Share :

Harianjogja.com, MALANG—Peternak ayam petelur yang tergabung Koperasi Petemak Unggas Sejahtera ( Putera ) Blitar, Jawa Timur, melaporkan ke Satgas Pangan Polri terkait dengan peredaran telur bertunas (HE) dan telur infertil ke pasar karena berdampak harga ayam telur layer menjadi anjlok.

Ketua Koperasi Putera Blitar Sukarman mengatakan Satgas Pangan Polri sangat responsif. Informasi  terbaru sudah ada penangkapan terhadap distributor telur HE  dan perusahaan yg menjual sudah dilakukan BAP, " katanya dihubungi dari Malang, Jawa Timur, Minggu (3/5).

Dia menegaskan di masa pandemi Covid-19 permintaan telur terus menurun sehingga menekan harga. Hal itu terjadi karena beberapa toko dan pasar di Jakarta sebagai pasar utama justru tutup sehingga permintaan telur berkurang. “Tekanan pada peternak ayam petelur semakin meningkat dengan beredarnya telur HE dan infertil, telur reject dari pabrikan produsen DOC,” ujarnya.

Momen menjelang Ramadan dan Lebaran, kata dia, secara tahunan pabrikan biasanya memang mengurangi DOC hingga 40%. Telur yang rusak kemudian merembes ke pasar telur.

Meski jumlah telur ayam HE dan infertil yang tidak banyak, kata dia, secara psikologis memengaruhi volatalitas harga telur layer. Harga telur layer menjadi anjlok. “Selain karena permintaan turun karena Covid-19, tengkulak di Jakarta akhirnya memainkan harga dengan tidak mau menyerap telur layer, kecuali dengan harga yang mereka tentukan,” ujarnya.

Tengkulak bisa memaksa harga telur layer turun karena harga telur HE dan infertile rendah, hanya Rp5.000-Rp6.000/kilogram (kg), sedangkan harga telur layer jauh lebih tinggi. Mengacu harga pokok produksi (HPP) saja, mencapai Rp18.000-19.000/kg di tingkat peternak. Dengan HPP sebesar itu, maka otomatis harga di pasar di atasnya.

Namun karena peredaran telur HE dan infertil, maka harga telur layer ditekan tengkulak dan turun di bawah HPP menjadi Rp12.500-Rp13.000/kg sejak Kamis (30/4), sedangkan Rabu (29/4) mencapai Rp13.600-Rp14.300/kg.

Sesuai Surat Edaran No. 2E04/PK.420/F/04/2017 perihal Pelarangan Peredaran Telur Bertunas (HE) dan Telur Infertil ke PasarTradisional dari Dirjen PKH Kementrian Pertanian dan Permentan No. 32/2017 disitu jelas jelas melarang telur HE dan infertil dijual dipasar. “Kalau itu dibiarkan bisa mengancam peredaran telur ayam layer dan akibatnya peternak ayam layer akan gulung tikar,” ujarnya.

Karena itulah, Koperasi Putera Blitar dan Paguyupan Peternak Rakyat (PRRN) Nasional menyurati Kepala Satgas Pangan Polri Brigien Daniel Tahi Monang Silitonga pada 30 April 2020. Intinya, Koperasi Putera dan PRRN meminta agar Satgas Pangan Polri untuk menindak menindak dengan tegas kepada penjual telur HE dan telur infertil serta pabrik yang memproduksi telur tersebut.

Selain itu, kata Sukarman, perlu ada intervensi dari pemerintah agar harga telur layer tidak terus terpuruk. Bentuknya, selain penertiban peredaran telur HE dan interfil, juga pemerintah bisa menyerap telur rakyat untuk dimanfaatkan kegiatan bantuan sosial. Dengan cara itu, maka permintaan telur bisa meningkat dan harganya ikut merangkak ke arah harga normal, harga yang di atas HPP, setidaknya sama.

Sumber : Bisnis Indonesia