Nyaris Tiarap, Pengusaha Hotel Banting Setir

Nyaris Tiarap, Pengusaha Hotel Banting SetirIlustrasi kamar hotel. - Harian Jogja
17 Mei 2020 16:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Nyaris tiarap terimbas pandemi Covid-19, hotel dan desa wisata beramai-ramai menyiapkan program alternatif. Jumlah tamu yang anjlok memang menuntut mereka untuk tetap kreatif agar roda bisnis tetap berputar.

Pengelola Desa Wisata Tembi Daud Subrata mengatakan sebelum pandemi, desa wisata yang ia kelola mengandalkan keberadaan penginapan dan homestay yang menawarkan suasana perdesaan. Akan tetapi selama pandemi, dia tak menampik pandemi membuat jumlah tamu yang datang anjlok.

Dia mengatakan kunjungan wisatawan ke Tembi anjlok selama pandemi Covid-19 ini. Untuk itu dia berupaya berinovasi menyusun sejumlah program alternatif agar pendapatan ke desa wisata Tembi tetap ada. "Semua kegiatan pariwisata lumpuh total. Maka dari itu, kami inisiasi program-program alternatif seperti katering dan warung-warung kecil," kata dia, kepada Harianjogja.com, Minggu (17/5/2020).

Public Relations Manager Hyatt Regency Yogyakarta, Winda Sukma, mengatakan hotelnya kini tengah menyiapkan sejumlah program untuk mendukung masyarakat agar bisa tetap beraktivitas dengan nyaman di tengah momok pandemi.

Saat ini kami ada program delivery buka puasa. Lalu Golf Course kami juga masih buka. Kami ngajakin orang untuk bisa olahraga keluar rumah namun tetap menerapkan physical distancing. Tamu juga bisa sekaligus berjemur. Nah, golf adalah olahraga yang memenuhi kriteria itu. Jadi, kami promosikan golf lebih gencar," ujar Winda

Selain itu, imbuh dia, Hyatt juga punya program guna mewadahi pecinta hewan peliharaan anjing di tengah pandemi Covid-19. Program seperti Walk The Dog di Bogeys Teras bisa dinikmati para dog lovers. Program tersebut dibuat karena berangkat dari masyarakat yang khawatir terhadap aspek kesehatan mereka jika jalan-jalan dengan anjingnya di tengah pandemi Covid-19.

Rasa Empati

Meski terpukul akibat pandemi, dia mengaku Hyatt tidak fokus mencari revenue yang tinggi di tengah pandemi Covid-19. Dia sadar betul promo tarif tidak akan berdampak cukup signifikan terhadap kedatangan tamu. Bahkan, promo gila-gilaan menurut dia justru mencitrakan Hyatt kurang memberikan rasa empati kepada masyarakat di tengah adanya pandemi Covid-19 ini.

"Sebenarnya dalam situasi seperti ini tujuan kami bukan cari revenue sebanyak-banyaknya untuk menutupi kurangnya pendapatan, kita justru membuat Hyatt lebih care ke karyawan, tamu, dan community. Jadi, meskipun situasi pandemi, harus tetap jaga kesehatan, bahagia, dan enggak boleh stres," kata dia.

Situasi sulit di tengah pandemi Covid-19 juga memaksa desa wisata Tembi yang berada di Jl. Tembi Km 8,6, Desa Timbulharjo, Sewon, Bantul untuk banting setir. Kunjungan wisatawan ke Tembi nihil selama pandemi Covid-19. Pengelola akhirnya dipaksa untuk memutar otak agar pendapatan tetap ada.