Ini Dia Sektor-Sektor Industri yang Tetap Bisa Diandalkan selama Pandemi

Ini Dia Sektor-Sektor Industri yang Tetap Bisa Diandalkan selama PandemiAktivitas karyawan di pabrik karoseri truk di kawasan industri Bukit Indah City, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (13/2). - Bisnis.com/NH
19 Juni 2020 13:47 WIB Newswire Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Industri logam dasar dan industri makanan menjadi andalan ekspor karena masih mampu memberikan kontribusi signifikan bagi devisa di tengah dampak pandemi Covid-19.

“Catatan positif dari sektor industri logam menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi bisa berjalan baik dan mampu meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri serta dapat memenuhi kebutuhan pasar internasional,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Jumat (19/6/2020).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada periode lima bulan pertama tahun ini, nilai pengapalan industri pengolahan nonmigas melampaui US$51 miliar (sekitar Rp725,5 triliun) atau menyumbang hingga 79,25% pada total nilai ekspor nasional yang mencapai US$64,4 miliar (sekitar Rp916,2 triliun). “Kami bertekad terus memacu industri yang berorientasi ekspor guna mendorong roda perekonomian nasional,” kata Menperin.

Salah satunya, industri logam dasar yang mampu memberi kontribusi ekspor pada Januari-Mei 2020 sebesar US$9,2 miliar (Rp130,8 triliun) atau naik 41% dibanding perolehan di periode yang sama 2019 sekitar US$6,5 miliar (Rp92,4 triliun).

Selain itu industri makanan juga mampu memberi kontribusi yang besar. Selama Januari-Mei 2020, nilai pengapalan industri makanan menembus angka US$11,4 miliar (Rp162,1 triliun) atau naik 8% dibanding capaian di periode yang sama 2019 sekitar US$10,5 miliar (Rp149,3 triliun).

“Sesuai aspirasi roadmap Making Indonesia 4.0, kami menargetkan industri makanan dan minuman akan menjadi sektor yang mampu merajai di wilayah Asia Tenggara,” kata Agus.

Sektor manufaktur lainnya yang memberikan kontribusi ekspor signifikan antara lain adalah industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia yang mencatatkan ekspornya sebesar US$4,9 miliar (Rp69,7 triliun); kemudian diikuti oleh industri pakaian jadi US$2,8 miliar (Rp39,8 triliun).

“Pada industri kimia, kami menargetkan sektor tersebut akan menjadi pemain terkemuka di industri biokimia. Sedangkan untuk industri tekstil dan busana, pemerintah memfokuskan agar bisa menjadi produsen functional clothing terkemuka,” kata dia.

Agus meyakini kinerja industri manufaktur akan bergerak cepat seusai penanganan Covid-19 selesai. Pasalnya izin operasional telah diberikan bagi kelompok industri strategis, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Tidak boleh [jarak aspek produktivitas] terlalu jauh, harus terus mepet dan tidak boleh ketinggalan, sehingga nanti new normal paling tidak ketika vaksin sudah ditemukan industri manufaktur tidak butuh waktu lama untuk bisa rebound kembali ke titik seperti sebelum Covid-19 itu hadir,” katanya.

Sumber : Antara