Didera Pandemi, Sebisa Mungkin Pengusaha Batik Ini Pertahankan Perajinnya

Didera Pandemi, Sebisa Mungkin Pengusaha Batik Ini Pertahankan PerajinnyaMiftahuddin Nur Ihsan (kanan) berbincang bersama seorang perajin batik, belum lama ini. - Istimewa
26 Juli 2020 17:47 WIB Salsabila Annisa Azmi Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pandemi mengakibatkan industri kerajinan batik hancur lebur. Omzet para perajin terus drop, bahkan hingga mencapai titik nadir, akibatnya, beberapa perajin pun dirumahkan. Sebagai pemilik Smart Batik yang telah menyabet beberapa penghargaan, Miftahuddin Nur Ihsan, 27, melakukan segala cara untuk mempertahankan para perajinnya.

Bagi Ihsan, sapaan akrab Miftahuddin Nur Ihsan, kunci utama kesuksesan Smart Batik adalah dari tangan perajin. Itulah sebabnya, meski pandemi membuat usahanya harus kelimpungan, dia tetap berdarah-darah mempertahankan para perajinnya.

Pertengahan Maret 2020, kasus positif Covid-19 kali pertama muncul di DIY. Saat itu pula, masyarakat langsung mengunci diri mereka di dalam rumah masing-masing.

Alhasil, seluruh aktivitas ekonomi pun terhenti. Kondisi itu membuat seluruh sektor bisnis terpuruk, termasuk kerajinan batik. Penurunan omzet pun akhirnya benar-benar terjadi. “Omzet langsung anjlok lebih dari 50 persen,” kata Ihsan kepada Harianjogja.com, Jumat (17/7/2020).

Beberapa stok batik menumpuk di gerainya. Seketika, Ihsan mengamati para pengusaha batik di sekelilingnya, mayoritas dari mereka merumahkan beberapa pengrajin mereka.

Tetapi tidak dengan Ihsan. “Kalau saya, prinsipnya saya akan pertahankan perajin yang bekerja sama dengan Smart Batik. Selama masih bisa diusahakan, ya saya akan mengusahakan. Dari awal pandemi hingga saat ini, kami tetap bekerja sama dengan semua perajin kami,” kata Ihsan.

Di awal pendirian Smart Batik, perajin memang berperan penting. Menurut Ihsan, para perajin menjadi latar belakang didirikannya Smart Batik.

Tumbuh dengan kondisi ekonomi pas-pasan dan melihat kedua orangtuanya banting tulang mencari rezeki, Ihsan ingin Smart Batik bisa menjadi oase bagi kesejahteraan para perajin yang umumnya mengalami keterbatasan ekonomi.

Dengan modal Rp5 juta, Ihsan merintis Smart Batik yang mengusung konsep tematik. Saat itu puluhan perajin bersedia diajik kerja sama.

Bhinneka Tunggal Ika

Berbagai tema telah digarap Smart Batik seperti pendidikan, kesehatan, transportasi, dan pertanian. Bahkan, Smart Batik memanfaatkan isu aktual dan mengangkat tema persatuan Bhinneka Tunggal Ika.

Berbagai desain buatan Ihsan telah dengan sabar dikerjakan oleh para perajin menjadi selembar kain batik bermotif unik. Kini, mereka telah beberapa bulan berhenti menerima pesanan pembuatan kain batik dari beberapa perajin batik. Mereka hanya mengandalkan pesanan dari Smart Batik.

“Mereka sudah lama tidak terima pesanan. Perajin lainnya jual batik kan di toko, nah, toko-toko itu masih pada tutup. Jadi orderannya dihentikan. Saat ini saya masih mengusahakan agar selalu ada order yang mereka kerjakan,” kata Ihsan.

Seperti pengusaha batik lainnya, Smart Batik juga sudah berbulan-bulan mengalami penurunan omzet sejak pandemi. Pesanan baru sangat minim.

Mulai Bergerak

Meskipun begitu, Ihsan putar otak agar pesanan tetap datang dan pengrajin bisa tetap bekerja. Dia mengandalkan hubungan baik dengan para pelanggan setianya.

“Sebelum pandemi, saya selalu jalin hubungan baik dengan para pelanggan setia. Tidak hanya ketika transaksi, pokoknya kalau ada momen saya sowan dengan beliau-beliau. Alhamdulillah, ketika sudah mulai masuk masa kebiasaan baru [new normal], kantor sudah pada masuk, order seragam dari mereka langsung berdatangan,” kata Ihsan.

Roda bisnisnya pun perlahan mulai bergerak. Dengan pesanan seadanya, perajin mulai bekerja lagi. Sejak didirikan pada 2015, Ihsan berkomitmen hanya melayani pesanan minimal 100 lembar kain.

Dia menganggap itu bagian dari idealismenya berbisnis. Akan tetapi di saat pandemi, dia harus berkompromi dengan idealisme itu demi mempertahankan bisnis dan ikatan kerjasama dengan para perajin.

“Kalau saat ini, ada yang pesan sedikit langsung saya ambil. Meskipun itu hanya 15 lembar kain, tetap saya kerjakan dengan perajin saya. Menurut saya lebih baik sedikit daripada tidak sama sekali. Para perajin saat ini hanya terima order dari Smart Batik,” kata Ihsan.