Bank Indonesia Diprediksi Menahan Suku Bunga karena Ancaman Resesi

Bank Indonesia Diprediksi Menahan Suku Bunga karena Ancaman ResesiGubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (18/8 - 2020), Dok. Bank Indonesia
16 September 2020 20:27 WIB Maria Elena Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-Ancaman resesi pada masa pandemi Covid-19 membuat banyak ekonom memprediksi Bank Indonesia (BI) bakal mempertahan suku bunga acuan di level 4%.

Berdasarkan konsensus Bloomberg, mayoritas ekonom memperkirakan BI 7 Day Reverse Repo Rate akan tetap bertahan di 4%.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menilai suku bunga acuan saat ini sudah sangat rendah, sehingga pemangkasan tidak perlu dilakukan dalam RDG BI kali ini.

"Saya perkirakan BI masih menahan suku bunga," katanya kepada Bisnis.com, jaringan Harianjogja.com Rabu (16/9/2020).

Piter mengatakan, penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) telah menyebabkan adanya tekanan pada pasar keuangan dan nilai tukar rupiah.

Justru, dia menilai berisiko jika BI kembali menurunkan suku bunga. Penurunan suku bunga acuan bisa mengganggu sentimen investor di tengah cukup besarnya tekanan nilai tukar rupiah.

"Saya kira BI tidak ingin menambah tekanan itu dengan menurunkan suku bunga acuan," jelas Piter.

Di samping itu, menurut Piter, BI juga perlu memberikan waktu kepada perbankan untuk merespon penurunan suku bunga yang Lalu. Pasalnya, transmisi ke suku bunga kredit perbankan belum turun sebesar penurnan suku bunga acuan.

Senada, Kepala Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardhana merekomendasikan agar suku bunga acuan tetap bertahan di 4 persen.

Menurut Wisnu, perdagangan dan transaksi berjalan memang terlihat membaik, tercermin dari neraca perdagangan Indonesia yang mencetak surplus sebesar US$2,3 miliar pada Agustus 2020.

Ekspor mengalami kontraksi sebesar -8,4% secara tahunan (year-on-year/yoy), membaik dari Juli 2020 yang terkontraksi -9,9% yoy.

Kontraksi

Sementara, impor juga mengalami kontraksi yang menyempit sebesar -24,2% yoy, dibandingkan dengan -32,6 persen pada Juli 2020, terutama impor barang modal.

Namun demikian, kata Wisnu, meski perdagangan dan transaksi berjalan membaik, arah kebijakan moneter secara umum bergantung pada aliran modal atau finansial.

"Beberapa faktor seperti tren kenaikan inflasi global dan domestik, serta volatilitas rupiah belakangan ini juga perlu dicermati. Permintaan kami kebijakan suku bunga tetap ditahan," jelasnya.

Sebagai catatan, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III di kisaran 0 persen hingga minus -2,1 persen. Jika realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak bisa mencapai angka positif pada kuartal tersebut, maka secara teknikal Indonesia akan mengalami resesi. 

Sumber : JIBI/Bisnis.com