Permintaan Anjlok, Hampir Semua Pengembang Batalkan Proyek Apartemen

Permintaan Anjlok, Hampir Semua Pengembang Batalkan Proyek ApartemenJajaran gedung perkantoran di Jakarta, Senin (24/8/2020)./Bisnis - Abdurachman
18 September 2020 09:17 WIB M. Syahran W. Lubis Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Hampir semua pengembang apartemen menunda atau bahkan sepenuhnya membatalkan peluncuran proyek baru pada kuartal II/2020 akibat permintaan anjlok yang disebabkan pandemi Covid-19.

Menurut data Colliers International Indonesia yang dipublikasikan pada Kamis (17/9/2020), ini belum ada proyek baru yang selesai pada kuartal II/2020 sehingga total apartemen di Jakarta tetap di 211.944 unit. Namun, masih ada kemungkinan satu proyek diserahkan pada kuartal tersebut.

Baru dua proyek yang diperkenalkan pada kuartal II, pertama adalah Savyavasa di Jakarta Selatan yang terdiri dari tiga menara, dan satu lagi menara pertama Tamansari Equine yang berlokasi di Jakarta Timur.

BACA JUGA : Lindungi Mata Air, Warga Tolak Rencana Pembangunan 

Kedua proyek tersebut diharapkan mampu memasok total 1.041 unit. Selanjutnya berdasarkan estimasi Colliers, untuk sisa 2020, unit apartemen baru yang akan selesai adalah 2.011 unit, turun sekitar 85 persen dari proyeksi yang dibuat pada akhir tahun lalu.

Pasokan akumulatif apartemen di Jakarta

Pasokan itu akan diikuti oleh 11.293, 14.792 dan 13.571 unit masing-masing pada 2021, 2022, dan 2023. Namun, jumlah sebenarnya bisa lebih rendah karena pekerjaan konstruksi di sebagian besar proyek terganggu oleh pandemi.

Pandemi juga berdampak pada konsumen, yang digambarkan oleh stagnasi tingkat penyerapan secara keseluruhan sebesar 87,7 persen, naik 0,1 persen q-o-q atau naik 0,4 persen y-o-y.

Banyak proyek mengalami penurunan progres besar, bahkan nyaris nol, dalam hal penjualan dan permintaan. Akibatnya, pada semester I/2020 baru terjual 1.214 unit atau sekitar 26 persen dari total penjualan 2019.

BACA JUGA : Pemkab Gunungkidul Usulkan Pembangunan Rusunawa 

Pengembang dipaksa membuat perubahan drastis pada strategi pemasaran mereka. Sebelum Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan, sebagian besar promosi dan penjualan canvassing dilakukan secara offline.

Pada praktik umum, galeri pemasaran dengan show unit dibuka, diadakan acara open house, dan ada partisipasi dalam acara offline di mal atau tempat pameran.

Selama PSBB, pengembang mencoba beralih ke platform online untuk menjangkau pembeli potensial, termasuk dengan menyediakan tampilan digital virtual reality dan presentasi streaming langsung untuk memikat lebih banyak pembeli.

BACA JUGA : Warga Korban Pembangunan Apartemen di Jogja Diminta

Meskipun mungkin belum banyak penjualan online yang diselesaikan menjadi transaksi, setidaknya pengembang dapat terlibat dengan pembeli dan berpotensi menyiapkan pemasaran offline di kemudian hari.

Menurut Colliers, pengembang dengan rekam jejak yang terbukti dalam penyelesaian proyek tepat waktu akan dapat mengatasi krisis.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia