Indonesia Resesi, Rupiah Malah Menguat Jadi Juara Asia di Rp14.200-an

Indonesia Resesi, Rupiah Malah Menguat Jadi Juara Asia di Rp14.200-an Karyawati menunjukan Uang Rupiah dan Dollar AS di salah satu kantor cabang Bank BNI di Jakarta, Kamis (3/9/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
06 November 2020 10:37 WIB Lorenzo Anugrah Mahardhika Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Indonesia telah mengalami resesi, namun nilai tukar rupiah terus melanjutkan tren positifnya setelah dibuka menguat pada perdagangan Jumat (6/11/2020).

Data dari Bloomberg pagi ini, nilai tukar rupiah menguat 95 poin atau 0,66 persen menjadi Rp14.285 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS naik 0,21 persen menuju 92,719.

Penguatan tersebut sejauh ini merupakan yang terbesar di wilayah Asia. Menyusul dibelakang rupiah adalah mata uang rupee India yang menguat 0,48 persen.

Baca juga: Dampak UU Cipta Kerja untuk Sektor Industri Belum Segera Terlihat

Selanjutnya, mata uang baht Thailand juga terpantau menguat 0,25 persen disusul oleh mata uang won Korea Selatan yang menguat 0,2 persen

Sebelumnya, penguatan nilai tukar rupiah diproyeksi berlanjut dalam jangka pendek seiring dengan tingginya minat investor berpihak terhadap aset berisiko, termasuk nilai tukar negara berkembang.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa momentum penguatan rupiah kemungkinan bertahan seiring dengan pelaku pasar global tampak masih tertarik untuk masuk ke aset berisiko.

Berita mengenai Joe Biden yang kemungkinan besar menang dalam pemilihan Presiden AS telah mendorong sentimen positif ke aset berisiko tercermin dari indeks saham Asia, Eropa, hingga nilai tukar emerging market kompak menguat melawan dolar AS.

Adapun, pasar masih menanti pengumuman hasil penghitungan suara. Sejauh ini, capres dari Partai Demokrat, Joe Biden, memimpin dengan 264 suara elektoral (electoral Votes) dan Capres dari Partai Republik Donald Trump tertinggal dengan 214 electoral votes.

Baca juga: Tingkat Pengangguran Terbuka Capai Persentase Tertinggi

“Pasar lebih menyukai program Biden dibandingkan Trump karena Biden mengedepankan kolaborasi dengan negara-negara lain dibandingkan Trump yang lebih konfrontatif,” ujar Ariston.

Selain itu, rupiah berhasil menguat kendati dibayangi ekonomi Indonesia yang resmi masuk ke jurang resesi. Ariston menjelaskan, pertumbuhan ekonomi secara kuartalan yang mengindikasikan pemulihan itu telah membantu memberikan efek positif ke rupiah selain didorong euforia pilpres AS.

“Tidak hanya itu, UU Ciptakerja yang sudah disahkan dan ditandatangani juga menjadi daya tarik untuk investor berpihak terhadap rupiah, sehingga pada perdagangan Jumat (6/11/2020) rupiah berpotensi gerak di kisaran Rp14.300 per dolar AS hingga Rp14.450 per dolar AS,” papar Ariston.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2020 mencatatkan minus hingga 3,49 persen secara tahunan.

Artinya, dalam dua kuartal berturut-turut pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mencatatkan pertumbuhan negatif yang menandakan resesi ekonomi. Pada kuartal II/2020 pertumbuhan ekonomi tercatat minus 5,32 persen. 

Sumber : Bisnis.com