Marwiyah, Simbol Kebangkitan Kopi Menoreh

Marwiyah, Simbol Kebangkitan Kopi MenorehMarwiyah (ketiga dari kanan) berfoto bersama sejumlah petani binaannya di sela-sela kegiatan studi banding. - Istimewa/Dok. Pribadi
28 Desember 2020 08:17 WIB Lajeng Padmaratri Ekbis Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Tak banyak petani kopi yang mengantongi ilmu pertanian tanaman kopi sejak dari hulu ke hilir. Marwiyah, 51, warga Pegunungan Menoreh di Kabupaten Kulonprogo ini adalah salah satunya. Ia bahkan banyak memberikan motivasi ke sesama petani untuk bisa mengembangkan pertanian dan usaha kopinya.

Sejak lama, kopi menjadi komoditas tak terpisahkan dari masyarakat di Pegunungan Menoreh. Dari sana, varian kopi Menoreh menambah ragam citarasa kopi Nusantara.

Marwiyah adalah salah satu petani di sana. Tepatnya di Dusun Madigondo, Kalurahan Sidoharjo, Kapanewon Samigaluh, Kulonprogo. Turun temurun keluarganya menjadi petani kopi. Profesi itu pun turut ditekuninya.

Semasa masih muda, banyak petani di kampungnya menanam kopi dengan cara tradisional. Ilmu pertanian mereka tentang tanaman kopi masih terbatas, sehingga seringkali asal tanam saja. Sebab, para petani kopi hanya belajar dari pengalaman mereka bertani.

Begitu sekitar 1980-an, banyak penyuluh pertanian lapangan (PPL) masuk ke desanya. Penyuluh ini memberikan ilmu pertanian dan budi daya tanaman. Sehingga, petani banyak belajar.

Menurut Marwiyah, sejak ada penyuluh, petani kopi menjadi bertambah pengalamannya mengenai bagaimana menangani hama dan penyakit, bagaimana mengatur jarak tanam, dan bagaimana merawat pohon kopi.

Selain itu, mereka juga diajari soal pemupukan dan pengamatan mingguan. Pemupukan pada tanaman kopi hanya dilakukan dua kali selama satu tahun, yaitu Desember-Januari atau Juli-Agustus.

Dalam pengamatan mingguan, petani diajak untuk menyiangi gulma dan pemangkasan. Seringkali pemangkasan dilakukan terhadap tunas utama, cabang balik, dan bagian tanaman yang tidak produktif.

Berkat dibimbing oleh penyuluh, Marwiyah merasa kegiatan pertanian kopinya lebih produktif. Ia pun akhirnya juga memutuskan untuk menjadi penyuluh bagi petani yang lain. Sejak 2007, ia menjadi penyuluh pertanian swakarsa.

"Dengan berkembangnya teknologi di bidang pertanian ini, saya juga ikut jadi penyuluh swakarsa. Kegiatannya banyak berbagi ke petani lain mengenai ilmu bertani kopi sebagai bentuk solidaritas antar petani," kata Marwiyah kepada Harian Jogja, belum lama ini.

Meski sudah melakoninya secara swadaya sejak lama, keaktifannya sebagai penyuluh rupanya kemudian diakui oleh pemerintah. Pada 2016, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah mengakuinya sebagai penyuluh di bidang industri pengolahan hasil pertanian. Kemudian, pada 2018 dia juga telah mendapatkan rekomendasi sebagai penyuluh pertanian dan perkebunan dari Kementerian Pertanian.

Sebagai penyuluh swakarsa, ia banyak mengisi forum diskusi bersama berbagai kelompok tani dan kelompok wanita tani di sekitar kediamannya. Namun, tak jarang juga ia diundang untuk memberi penyuluhan di Magelang, Jawa Tengah.

Kelompok Tani

Kepada para petani kopi, dia tak hanya mengajak mereka berdiskusi tentang bagaimana metode pertanian kopi yang produktif hingga pemasaran, melainkan juga memotivasi mereka untuk membentuk kelompok tani yang dapat membuat mereka saling belajar dan berbagi satu sama lain.

"Apalagi kalau ilmu pertanian itu sekarang sudah gampang ya karena ada Youtube, jadi petani kalau mau belajar bertani itu lebih mudah, sumber ilmu lebih banyak," kata Marwiyah.

Untuk itu, dia tak hanya fokus pada penyuluhan kegiatan pertanian, namun mengajak mereka untuk membentuk kelompok tani sebagai sarana berbagi ilmu. "Penting sekali ya membentuk kelompok tani itu, apalagi saat ini pemerintah banyak memiliki program pengembangan pertanian untuk petani kopi. Untuk mengaksesnya, lebih mudah dengan berkelompok," ujar dia.

Dengan bergabung ke dalam kelompok, baik itu kelompok tani maupun kelompok wanita tani, akses informasi mengenai program pemerintah untuk petani kopi akan lebih cepat. Di mana ada kompok, di situlah yang akan mendapatkan informasi lebih dulu.

Dalam setiap forum pertanian, termasuk ketika berada di forum non-petani kopi, Marwiyah juga akan selalu mempromosikan keuntungan menjadi petani kopi. Ia berharap dengan begitu akan semakin banyak petani yang tertarik untuk budidaya kopi.

"Jadi petani kopi itu enak. Petani kopi kan sebenarnya pengusaha juga, ya. Kita selalu memotivasi petani bahwa mereka sebenarnya pengusaha. Bahkan, pengusaha dari bertani kopi lebih menguntungkan daripada petani komoditas lain," ujar dia.

Pasalnya tanaman kopi tergolong ke dalam tanaman yang berumur panjang. Marwiyah menyebutkan, jika sudah menanam sekali saja, dalam kurun waktu 30 tahun tidak perlu melakukan tanam lagi. Sehingga, tinggal panen biji kopi.

Hal ini dirasa sangat menguntungkan. Selain itu, petani kopi juga tak harus setiap hari datang ke kebun kopi. Dalam waktu seminggu, petani kopi cukup seminggu sekali merawat tanaman kopi. Sehingga enam hari lainnya bisa digunakan untuk melakukan pekerjaan yang lain.