GUGUR GUNUNG EKONOMI DIY: Optimistis, Ekonomi DIY Tumbuh 5,66% di Akhir 2021

GUGUR GUNUNG EKONOMI DIY: Optimistis, Ekonomi DIY Tumbuh 5,66% di Akhir 2021Diskusi Panel yang diselenggarakan Harian Jogja bertajuk Gugur Gunung Percepatan Pemulihan Ekonomi Perekonomian DIY, Rabu (9/6/2021). - Harian Jogja/Sunartono.
09 Juni 2021 13:47 WIB Sunartono Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi DIY terus membaik di 2021. Hingga akhir tahun ini diperkirakan tumbuh sekitar 5,66%, bahkan di awal triwulan pertama 2021 ini mencapai angka 6,15%. Hal itu terungkap dalam diskusi Panel yang diselenggarakan Harian Jogja bertajuk Gugur Gunung Percepatan Pemulihan Ekonomi Perekonomian DIY, Rabu (9/6/2021).

Diskusi panel ini dibagi dalam dua termin, pada pertama mengangkat tema khusus yaitu Kolaborasi Pemerintah dan Perbankan Mendorong pemulihan perekonomian DIY. Kemudian diskusi panel kedua bertajuk Investasi sebagai Peta Jalan Pemulihan Perekonomian DIY.

Diskusi ini diikuti oleh para pelaku UMKM, perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sejumlah perguruan tinggi, pelaku wisata, pelaku usaha serta sejumlah Kepala Dinas di lingkungan Pemda DIY dan kabupaten serta kota, perwakilan DPRD DIY.

Diskusi ini didukung oleh Bank BPD DIY, Badan Otorita Borobudur (BOB), Pemda DIY dan Hotel Harper Malioboro, dengan dimoderatori oleh Presiden Direktur Aksara Dinamika Jogja Arif Budisusilo.

Wakil Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY Miyono dalam kesempatan itu menjelaskan pertumbuhan ekonomi DIY 2019 sebesar 6,15%, meski pun tahun sebelumnya sempat lebih tinggi. Namun saat 2020 pandemi langsung mengalami minus. Bahkan pada triwulan kedua mengalami minus 6,5% atau kedua setelah Bali. Tetapi pada 2021 perekonomian DIY cukup menghentakkan data nasional, karena pada triwukan pertama mencapai angka yang fantastis yaitu 6,14%. Angka ini jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

“Pada 2021 triwulan pertama ini cukup menghenyakkan masyarakat, perekonomian DIY tumbuh fantastis capai 6,14 %, ini tentu bukan tanpa upaya, upaya terus diilakukan. Faktor pertumbuhan dari infokom, ini tumbuh cepat 30% lebih, pertanian 10,8%, konstruksi masih ada pembangunan jalan kereta, bandara dan JJLS dan proyek lain, ini memberikan dampak positif. Tetapi yang perlu dicatat triwulan 1 tumbuh baik,” katanya dalam diskusi panel termin pertama, di Hotel Harper Jalan Mangkubumi, Kota Jogja, Rabu (9/6/2021).

Ia menambahkan secara umum, kegiatan ekonomi Jogja ditopang oleh kerumunan, semakin banyak orang maka makin buka kemungkinan ekonomi Jogja akan tumbuh. Karena sekitar 68% ekonomi DIY didorong dari konsumsi. Ketika konsusmsi tumbuh, ekonomi pasti akan melesat. Tetapi konsumsi bisa tumbuh jika aktivitas manusia diperlonggar baik di restoran maupun konsumsi kebutuhan lain seperti kendaraan bermotor.

“Ini jadi kunci, pergerakan manusia itu pasti mendorong ekonomi karena orang bergerak orang butuh energi dan makan. Kalau wisata Jogja misal dibuka, saya yakin ekonomi cepat, cuma ada risiko, sehingga harus hati-hati,” ujarnya.

Tetapi fakta di lapangan di Gunungkidul misalnya, setiap akhir pekan bus sudah banyak. Baik mereka menginap di Jogja atau tidak, namin kucuran konsumsi pasti sudah ada. Dalam upaya pemulihan ekonomi, pemerintah dan Bank Indonesia sudah kerja sama melalui pembiayaan defisit fiskal.

“Kita bisa mengatasi pandemi dan pemulihan tinggal eksekusi di lapangan, ini yang perlu ditingkatkan, agar korporasi dapat pembiayaan, perbankan, sehingga intermediasi perbankan berjalan baik,” katanya.

Miyono juga menyinggu soal keluhan kredit susah, ia tak menampik memang saat pandemi, tidak mungkin perbankan dengan mudah memberikan pinjaman maka seleksi harus ketat. Namun sepanjang usaha produktif, pasti akan bisa dibiayai. Di sisi lain restrukturisasi kredit juga mulai menurun, per April 2021 sekitar 27% dari semula Desember 2020 sekitar 31%.

Ia menilai penanganan akibat pandemi di DIY relatif terkendali, bahkan di awal DIY dinilai terbaik nasional. Percepatan stimulus fiskal menjadi kuncinya di lapangan dan Bank Indonesia menjembatani dari sisi moneter.

Miyono mengatakan secara umum prediksi pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan II DIY berada di angka 6,57%, kemudian secara tahunan di 2021 akan landing di angka 5,66%. Ekonomi DIY digerakkan dari pariwisata dan pendidikan. Sebenarnya pariwisata hanya 10% dan pendidikan kontribusinya 8,1 %, tetapi efek dari keduanya ke sektor lain sampai 46,1% sehingga kalau dijumlahkan bisa capai 64,6% dengan sektor pendukungnya.

“Betapa pentingnya Jogja untuk pariwisata dan pendidikan. Selama ini tulang punggung konsumsi dari kedua sektor itu,” katanya.