Aprindo Sebut Bisnis Ritel Kembali Tersendat

Aprindo Sebut Bisnis Ritel Kembali TersendatSuasana lengang terlihat di salah satu pusat perbelanjaan usai adanya anjuran untuk menjaga jarak sosial dan beraktivitas dari rumah untuk mencegah penyebaran virus corona di Jakarta, Senin (23/3/2020). Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) juga memprediksi penurunan penjualan ritel kuartal pertama 2020 turun hingga 0,4 persen dibanding dengan kuartal pertama tahun lalu. Bisnis - Nurul Hidayat
19 Juni 2021 09:37 WIB Iim Fathimah Timorria Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memangkas target pertumbuhan bisnis ritel apabila lonjakan kasus Covid-19 seusai Lebaran baru bisa tertanggulangi pada penghujung kuartal III/2021.

Jina berkaca pada asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia versi Bank Dunia yang dipatok berada di angka 4,4 persen pada tahun ini, Ketua Umum Aprindo Roy N. Mandey mulanya optimistis bisnis ritel bisa tumbuh di kisaran 2,5 sampai 3,0 persen dibandingkan dengan pertumbuhan pada 2020 yang hanya di kisaran 1,4 persen.

Namun, perkembangan lonjakan kasus Covid-19 pada akhir kuartal II ini membuat Roy mengubah proyeksi tersebut. Dia mengatakan bisnis ritel bisa mengulangi pertumbuhan landai yang tercetak pada tahun lalu karena kehilangan potensi penjualan pada periode Juni sampai Agustus.

“Kami harap dengan kebijakan PPKM [pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat] mikro yang ketat lonjakan kasus bisa ditanggulangi dalam kurun Juli sampai Agustus, artinya terjadi ketika low season penjualan ritel. Artinya performa kurang baik hanya pada bulan-bulan setelah Lebaran yang kecenderungannya memang turun,” kata Roy, Jumat (18/6/2021).

Jika aktivitas perekonomian mulai membaik pada akhir Agustus sampai awal September dan berlanjut ke akhir tahun, Roy mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa dipertahankan di kisaran 3 persen.

Dengan demikian, penjualan ritel yang erat kaitannya dengan konsumsi domestik dapat ikut tumbuh di kisaran 1,2 sampai 1,5 persen.

“Kami menganggap ini sebagai badai 2021, bedanya dengan badai 2020 adalah momennya setelah Lebaran atau low season. Berbeda dengan tahun lalu yang terjadi sebelum Ramadan Lebaran,” kata dia.

Belajar dari pengalaman tahun lalu, dia berharap agar pemerintah tidak melakukan pembatasan mobilitas yang ekstrem karena dia nilai tidak efektif dalam menanggulangi pandemi dan menjaga roda ekonomi.

Dia mengharapkan supaya sektor-sektor vital seperti perdagangan ritel tetap diberi izin beroperasi dan didukung agar bisa terus berkontribusi pada perekonomian.

 “Karena 2021 ada harapan pemulihan ekonomi, kebijakan gas dan rem itu kami harap dapat maksimal. Yang digas adalah sektor perdagangan yang terdampak. Bagaimana caranya yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, terutama yang menopang konsumsi tetap diberi jaminan operasional. Kami ingin 12 jam beroperasi agar tidak ada kerumunan,” kata Roy.

Sumber : JIBI/Bisnis.com