BI DIY Dukung Recovery Ekonomi

BI DIY Dukung Recovery EkonomiAkselerasi pengguna QRIS - Ist
18 Agustus 2021 08:07 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Sebagai upaya menjaga recovery ekonomi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia di DIY bersama sama dengan stakeholder terkait bersinergi dalam beberapa program pemulihan ekonomi. Mulai dari Sinergi Wisata Ngayogyakarta (Siwignyo), bersama dengan Dinas Pariwisata DIY dan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, dengan program percepatan vaksinasi pelaku pariwisata, pengembangan aplikasi Visiting Jogja dan mendorong pengembangan pariwisata new normal di DIY.

“Aplikasi itu memudahkan untuk reservasi, dan jika terjadi ditemukan kasus Covid-19, dapat dengan mudah trackingnya. Untuk wisata kami juga memberi dukungan sinergi, termasuk bantuan sosial kemarin ke pelaku wisata. Sektor wisata multiplier effectnya besar. Sehingga jika wisata ini berjalan baik, kami meyakini ekonomi dapat bangkit kembali,” ucap Deputi Kepala Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan DIY, Miyono.

Dukungan digitalisasi juga dilakukan pada sektor pariwisata dengan QRIS Gumaton (Tugu, Malioboro dan Keraton), bersama dengan Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY, Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) di DIY. Kegiatan ini sebagai akselerasi implementasi QRIS di daerah dan mendukung pariwisata new normal di DIY.

Dukungan BI DIY lainnya selalu mencoba bersinergi, bersama dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY dan Kabupaten Kota dengan KOPI JOSS atau Koordinasi Pengendalian Inflasi Jogja dan Sekitarnya. Kegiatan pengembangan klaster komoditas pangan, pengembangan big data inflasi, dan mendorong Kerjasama Antara Daerah (KAD).

Selain itu, melihat potensi UMKM yang besar di DIY, BI DIY juga melakukan berbagai upaya untuk mendorong UMKM di DIY dapat naik kelas.

Dikatakan Miyono, dukungan BI kepada UMKM sudah sejak dahulu. Berbagai program seperti Grebeg UMKM DIY, meski di masa pandemi Grebeg UMKM DIY juga terus dilakukan, dengan adaptasi ke digital. Melalui web grebegumkmdiy.com, berbagai produk UMKM DIY ditawarkan. Diharapkan dengan begitu dapat memperluas pangsa pasar baik di lokal maupun mancanegara.

Selain itu juga ada Semar School, yang merupakan sekolah nonformal yang memberi pengetahuan praktis kepada para pedagang dan masyarakat untuk menghadapi lingkungan bisnis online di masa depan yang sudah menjadi keniscayaan. Kemudian bentuk dukungan untuk UMKM yaitu dengan inisiasi Forkom ekspor impor dan pengembangan aplikasi ekspor impor bersama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY dan Bea Cukai DIY.

Upaya lainnya dengan JOGJA Berwakaf, bersama dengan Pemda, Kabupaten Sleman dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) di DIY. Program Jogja Berwakaf dimaksud sebagai bagian dari pengentasan kemiskinan melalui alternatif pembiayaan selain dari APBD.

Miyono mengungkapkan program nasional saat ini memang mendukung ekonomi syariah. Seperti dukungan untuk menggerakan di pesantren dengan Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren).

Miyono juga mengatakan BI DIY mendorong Elektronifikasi Transaksi Pemerintah (ETP) di DIY. Saat ini, DIY telah membentuk Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD), baik di provinsi maupun kabupaten/kota. Selain itu, BI DIY juga melakukan edukasi ke generasi muda dan masyarakat umum dengan program BI Mengajar. Diharapkan juga dengan kegiatan itu, pemahaman tentang kondisi ekonomi dapat diterima.

Optimisme Tumbuh Positif

Miyono mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi di DIY pada akhir tahun pada kisaran 4,5%-5,3% (yoy) Meski begitu proyeksi ini akan tetap dilihat, karena di tengah pandemi Covid-19 saat ini, kondisi ekonomi sangat dinamis. “Mudah-mudahan terus tumbuh baik. Perlu didukung seperti percepatan vaksinasi, sehingga menyentuh target dan herd immunity terbentu. Ketika sudah tervaksin tentunya harus tetap menjaga protokol kesehatan. Agar kesehatan pulih, dan ekonomi akan baik, orang bisa kembali bekerja,” ujar Miyono.

Harapan kami lainnya proyek infrastruktur dapat di kawal ketat, agar tercapai terselesaikan sesuai target, karena DIY memerlukan itu. Bandara Internasional kalau belum ada konektivitas yang bagus, dari Semarang, Solo, Jawa Tengah kurang maksimal. “Kalau gak ada tol sulit. Pembangunan itu harus diselesaikan tepat waktu, jangan molor-molor,” ucapnya. (ADV)