Peluang Ekspor Fesyen Muslim Besar tapi Belum Banyak Dilirik

Peluang Ekspor Fesyen Muslim Besar tapi Belum Banyak DilirikModel membawakan busana koleksi dari Zoya dalam gelaran fesyen 'Sustainable Muslim Fashion 2021' di Jakarta Convention Centre (JCC), Senayan, Jakarta, Jumat (29/10/2021). Fesyen yang merupakan serangkaian acara dari Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-8 Tahun 2021 itu menampilkan 157 perancang busana, 41 brand aksesoris, 797 karya perancang mode Indonesia dan anggota Industri Kreatif Syariah Indonesia (IKRA) sektor fesyen dan aksesoris. - Antara/M Risyal Hidayat.
12 November 2021 09:37 WIB Iim Fathimah Timorria Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Ekspor fesyen muslim masih minim padahal peluang Indonesia untuk memperbesar pangsa ekspor produk fesyen muslim masih terbuka lebar. Kinerja yang belum optimal tak lepas dari jenis produk tekstil yang belum beragam dari sisi bahan baku.

Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (Ikatsi) Suharno Rusdi mengatakan potensi belanja produk fesyen di kalangan konsumen muslim mencapai US$368 miliar pada 2021 jika mengacu pada State of Global Islamic Economy.

“Sementara ekspor fesyen muslim kita sampai Agustus 2021 baru US$2,91 miliar. Masih sangat kecil, hanya 0,81 persen dari potensi pasarnya,” kata Suharno, Kamis (11/11/2021).

Untuk meningkatkan pangsa ekspor, kata Suharno, para perancang mode Indonesia harus terus berkreasi dan mulai melakukan diversifikasi bahan baku yang bersifat khusus seperti serat rami, serat bambu, serat kenaf, dan lainnya.

“Jenis kain dari bahan-bahan khusus itu sejauh ini 100 persen masih impor, padahal negara kita kaya dengan bahan dasar tersebut,” katanya.

Dia menyarankan agar pemerintah dan pemangku kepentingan mulai menangani dengan serius pengembangan bahan baku spesifik tersebut. Menurutnya, Indonesia telah memiliki modal sumber daya manusia yang mumpuni untuk pengembangan fesyen muslim.

Baca juga: Promosikan Film Alang-Alang, Aksa Bumi Langit Roadshow di 5 Kota

“Desainer kita sebetulnya sangat kreatif dan mampu bersaing dengan para perancang dari negara lain. Namun kalau bahan baku masih diimpor, maka harga produk akan sulit bersaing dengan mereka,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa mengatakan banyak pelaku usaha yang belum menekuni produk fesyen muslim dengan serius. Di sisi lain, industri tekstil di Tanah Air terus mengalami tekanan akibat masuknya produk impor.

“Selama ini belum digarap maksimal. Misal untuk hijab selama ini banyak didatangkan dari impor dan eksportir terbesar fesyen muslim bahkan China,” kata Jemmy.

Namun dia meyakini industri fesyen muslim berpeluang tumbuh, seiring dengan penataan tata niaga yang mendukung iklim usaha. Salah satunya adalah kebijakan pembatasan perdagangan lintas batas melalui dagang-el untuk produk fesyen muslim yang diterapkan berbagai platform dagang-el.

Sekretaris Perusahaan PT Pan Brothers Tbk (PBRX) Iswardeni mengatakan bahwa perusahaan belum menjajal ekspor produk fesyen muslim. Di sisi lain, ekspor ke kawasan berpenduduk muslim besar seperti Timur Tengah hanya dilakukan untuk pakaian olahraga dan technical products dan ketika terdapat permintaan dari pembeli.

“Kami masih tiarap, restrukturisasi masih belum selesai. Setelah restrukturisasi baru bisa bergerak lebih leluasa. Pengiriman produk ke Timur Tengah juga hanya dilakukan jika ada permintaan brand saja,” kata Iswardeni.

Sumber : bisnis.com