Advertisement
Harga Sembako di Asia Tertinggi sejak 2008, Beras Jadi Biang Keladi
Pedagang beras di Pasar Beringharjo menimbang berasnya, Jumat (8/9/2023). - Harian Jogja/Stefani Yulindriani\\r\\n\\r\\n
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Para Gubernur bank sentral Asia berupaya menurunkan laju inflasi karena kenaikan harga bahan makanan pokok, utamanya harga beras.
HSBC Holdings Plc. mencatat harga bahan pokok di Asia pada periode kali ini mengalami peningkatan harga tertinggi sejak 2008. Ingatan akan ketakutan akan lonjakan harga pangan Asia pada tahun 2008 masih membekas," kata Ekonom HSBC Holdings Plc. yang dipimpin oleh Frederic Neumann melalui riset, yang dilansir melalui Bloomberg, Minggu (17/9/2023).
Advertisement
Neumann menyampaikan pada periode 2008, kenaikan harga beras di beberapa negara dengan cepat merembet ke pasar-pasar lain karena para konsumen dan pemerintah di seluruh wilayah berebut untuk mengamankan pasokan.
“Kondisi ini mengangkat harga-harga bahan makanan pokok lainnya, seperti gandum, karena para pembeli beralih ke bahan makanan alternatif,” jelasnya.
BACA JUGA
Tercatat, harga ekspor beras dari Thailand, yang merupakan patokan global, melonjak menjadi lebih dari US$600 per ton atau naik hampir 50 persen dari tahun sebelumnya.
Hal ini menjadi perhatian bagi para pembuat kebijakan karena beras tidak seperti tomat dan bawang, yang cenderung cepat kembali normal setelah lonjakan karena siklus panen yang pendek. Neumann mengatakan, harga beras cenderung bertahan lebih lama.
Dia mengatakan impor beras global telah meningkat sekitar dua kali lipat selama 25 tahun terakhir, dan naik sekitar 4 poin persentase sejak kenaikan harga pangan pada 2008.
“Ini berarti bahwa gangguan di satu perekonomian dapat berdampak jauh lebih besar pada perekonomian lainnya dibandingkan di masa lalu," katanya.
Cuaca yang tidak menentu dan kekeringan di berbagai belahan dunia saat ini menghambat panen, mengurangi pasokan, dan memicu kenaikan harga.
Eksportir beras terbesar di dunia, India, pun telah memberlakukan pembatasan pengiriman beras ke luar negeri untuk menekan harga di tingkat lokal, yang semakin membatasi pasokan global.
Neumann menambahkan Malaysia dan Filipina merupakan dua negara Asia yang paling bergantung pada impor beras, diikuti oleh Korea Selatan dan Taiwan. Negara-negara Asean lainnya, seperti Indonesia juga terdampak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Rentenir dan Pinjol Ilegal Kini Bisa Dipidana, Ini Aturannya
- Pemerintah Tanggung PPh 21 Pekerja 5 Sektor Padat Karya 2026
- Venezuela Punya Cadangan Minyak Terbesar, tapi Produksi Anjlok
- Penjualan Tiket KAI Tembus 4 Juta pada Arus Balik Nataru
- GIPI DIY: Nataru Ramai, Lama Tinggal Wisatawan Masih Jadi PR
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Harga Emas Hari Ini 7 Januari 2026, UBS dan Galeri24 Melonjak
- Rentenir dan Pinjol Ilegal Kini Bisa Dipidana, Ini Aturannya
- Ekonomi Vietnam Tumbuh 8,02 Persen pada 2025, Tertinggi 3 Tahun
- Konsumsi Dex Series di Jateng-DIY Naik 35,6 Persen Saat Nataru 2026
- Libur Nataru, Konsumsi Listrik di DIY Meningkat 16 Persen
- 75 Persen Tiket Nataru Dibeli Lewat Access by KAI
Advertisement
Advertisement





