Perbankan di DIY Tetap Solid, Kredit Malah Turun di Awal 2026
Perbankan DIY tetap stabil Maret 2026. Aset dan DPK tumbuh, tapi kredit justru turun 1,48%.
Ilustrasi pasokan BBM/ Ist
Harianjogja.com, JOGJA—PT Pertamina menaikkan harga BBM RON 92 atau Pertamax dari Rp13.300 menjadi Rp14.000 per liter per 1 Oktober 2023 lalu. Disparitas harga yang kian tinggi disebut memicu konsumen kembali beralih ke BBM bersubsidi.
Pengamat Ekonomi Energi UGM, Fahmy Radhi mengatakan kenaikan ini menyebabkan disparitas harga hingga Rp4.000 per liter antara BBM RON 90 atau Pertalite dengan Pertamax.
Disparitas yang tinggi ini akan memicu konsumen untuk beralih ke Pertalite. Jika migrasi ini tidak bisa dicegah akan menyebabkan kuota Pertalite jebol. Bakal terjadi antrean panjang dan mungkin juga menyebabkan kelangkaan.
"Sebagian besar konsumen Pertamax akan pindah ke Pertalite, kecuali mungkin bagi pemilik mobil-mobil mewah, dia akan bertahan. Tetapi bagi konsumen kelas menengah yang pakai Pertamax akan pindah [ke Pertalite]," ucapnya, Kamis (5/10/2023).
BACA JUGA: Daftar Harga BBM Pertamina di Seluruh Indonesia, Mulai Oktober 2023 Naik Lagi
Untuk memperkecil disparitas ini salah satu opsinya adalah menaikkan harga Pertalite misalnya Rp2.000 per liter. Namun, jika harga dinaikkan, hal itu berisiko pada inflasi dan mengurangi daya beli masyarakat.
Solusi lainnya adalah dengan melakukan pembatasan pembelian Pertalite. Sehingga Pertalite benar-benar dikonsumsi oleh masyarakat yang membutuhkan subsidi. Pasalnya, selama ini banyak yang salah sasaran dalam jumlah besar.
"Kalau pembatasannya Pertamina bersikukuh dengan MyPertamina enggak efektif, gak bisa untuk pembatasan," paparnya.
Dia mengusulkan pembatasan yang realistis dan mudah diaplikasikan adalah dengan membuat aturan BBM Pertalite dan Solar hanya diperuntukan bagi sepeda motor dan angkutan. Selebihnya dipaksa membeli Pertamax. "Ini bisa mencegah migrasi mobil pribadi ke Pertalite. Barangkali ini yang bisa dilakukan pemerintah dengan risiko yang enggak terlalu besar," ujar dia.
Lebih lanjut dia mengatakan kenaikan Pertamax tidak bisa dihindarkan, sebab penetapan harganya berdasarkan mekanisme pasar yang dipengaruhi harga minyak dunia. "Harga minyak dunia sudah mendekati US$ 100 per barel, sehingga harus dinaikkan," kata dia.
Menurutnya harga kenaikan harga BBM non subsidi tidak serta merta memicu kenaikan inflasi, yang menurunkan daya beli masyarakat. Proporsi konsumen BBM nonsubsidi relatif kecil, hanya sekitar 11,5% dari total pengguna BBM yang umumnya konsumen kelas menengah ke atas.
Selain Pertamax, kenaikan juga berlaku untuk Pertamax Green 95 naik dari Rp15.000 per liter menjadi Rp16.000 per liter. Harga Pertamax Dex naik dari Rp16.900 per liter menjadi Rp17.900 per liter.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Perbankan DIY tetap stabil Maret 2026. Aset dan DPK tumbuh, tapi kredit justru turun 1,48%.
Penjualan tiket KAI tembus 1,21 juta saat long weekend Iduladha 2026. Rute Jakarta–Jogja jadi favorit, mobilitas melonjak tajam.
Bandara Soekarno-Hatta mencatat 104.150 penumpang selama libur Iduladha 2026. Terminal 3 menjadi penyumbang trafik terbesar.
Arab Saudi menyatakan penyelenggaraan Haji 2026 sukses dengan 1,7 juta jamaah dan dukungan sistem keamanan serta layanan terintegrasi.
Wisata PG Madukismo Bantul menawarkan pengalaman naik kereta diesel klasik dan melihat langsung proses produksi gula saat musim giling tebu.
Progres pembangunan Jalan Kompleks Yudikatif IKN mencapai 19,35 persen, melampaui target dan ditopang berbagai inovasi konstruksi dari WIKA.