Advertisement

Perkarya Pemahaman Media tentang Bank Sentral, BI DIY Gelar Capacity Building

Media Digital
Minggu, 29 Oktober 2023 - 21:17 WIB
Anisatul Umah
Perkarya Pemahaman Media tentang Bank Sentral, BI DIY Gelar Capacity Building (Ki-Ka) Chief Content Officer Katadata, Heri Susanto ,Kepala Unit Kehumasan BI DIY, Maya Mulyawati, dan Corporate Creative Director Katadata, Lambok E. Hutabarat dalam Capacity Building, Jumat (27/10/2023) di The Anvaya Beach Resort Bali. Anisatul Umah- Harian Jogja.(Harian Jogja - Anisatul Umah)

Advertisement

BALI— Bank Indonesia (BI) Perwakilan DIY menggelar Capacity Building bertajuk Penguatan Komunikasi Media di Era Digital Melalui Visualisasi Data untuk wartawan ekonomi DIY pada 27-29 Oktober 2023, di The Anvaya Beach Resort Bali. Berbagai materi dihadirkan terkait peranan BI sebagai bank sentral, hingga visualisasi data.

Pada hari pertama, Jumat (27/10/2023) disampaikan materi tentang visualisasi data oleh Chief Content Officer Katadata, Heri Susanto dan Corporate Creative Director Katadata, Lambok E. Hutabarat.

Advertisement

Kepala Unit Kehumasan BI DIY, Maya Mulyawati mengatakan BI selalu menjalin relasi dengan media khususnya untuk mengomunikasikan kebijakan terkini dari BI. Media juga menjadi channel penghubung untuk meningkatkan kepercayaan publik dan kredibilitas organisasi BI. "Sehubungan dengan tugas pokok kami, serta tujuan utama fungsi dari media ini kami menyelenggarakan kegiatan Capasity Building untuk mendukung tugas kami termasuk media dalam membuat pemberitaan," ucapnya.

Baca Juga: Kegiatan Dunia Usaha Triwulan III 2023 di Jogja Melambat, Ini Penjelasan Bank Indonesia

Di era digital menurutnya visualisasi data bisa memudahkan dalam menyampaikan informasi yang lebih mudah dipahami. Visualisasi data juga bisa membantu di dalam pengambilan keputusan sebab bisa menberikan gambaran yang jelas.

"Melalui Capasity Building ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman rekan wartawan ekonomi tentang kebijakan BI," paparnya.

Kolaborasi BI dan Media

Kepala Divisi Relasi Media Massa dan Opinion Maker (DROM) Departemen Komunikasi BI, Syachman Perdymer menyampaikan pentingnya kolaborasi BI dan media. Dia mengatakan dulu bank sentral melihat dirinya mesti tertutup, namun seiring berjalannya waktu bank sentral berpandangan keterbukaan informasi adalah hal yang penting.

Melalui komunikasi yang apik, kebijakan dan sasaran yang ingin dicapai oleh BI lebih efektif tersampaikan ke masyarakat. Dia menyebut secara teori, ekonomi bisa berpengaruh pada ekspektasi dan pengambilan keputusan, misalnya terkait dengan investasi.

Baca Juga: Bank Indonesia Proyeksikan Inflasi DIY Melandai hingga Akhir 2023

Melalui keterbukaan, maka kebijakan yang bakal diambil bank sentral lebih mudah ditebak. Semakin sulit kebijakan ditebak, akan menjadi sentimen negatif bagi pelaku pasar atau pelaku ekonomi.

"Namanya kejutan pasti tidak berdampak positif bagi pelaku pasar, pelaku bisnis dan lainnya. Mereka maunya semua bisa diprediksi sehingga lebih tenang dalam menjalankan usaha mereka. Semakin sulit bank sentral ditebak mereka semakin tidak tenang dan itu ada costnya," jelasnya.

Dia menjelaskan kondisi bank sentral Indonesia ada di tengah-tengah, meskin bukan yang terbaik namun tidak terlalu buruk. Dalam setahun rata-rata bank sentral menggelar rapat dewan gubernur (RDG) 8-12x dan BI menggelar 12x kali dalam setahun. Hasil rapat disampaikan dalam bentuk konferensi pers.

Baca Juga: Pekerjaan Rumah Bank Indonesia

Beberapa hal yang dikomunikasikan di antaranya kondisi ekonomi global, misalnya berkaitan dengan perang dagang. Kondisi ekonomi domestik  misalnya berkaitan dengan gross domestic product [GDP], nilai tukar, dan lainnya. Kemudian proyeksi ekonomi ke depan, kebijakan moneter dan faktor risiko.

Kepala Tim Implementasi KEKDA BI DIY, Rifat Pasha mengatakan BI selalu berupaya meminimalkan gap literasi dengan memahamkan target stakeholder yang disasar. Melalui edukasi, sosialisasi, dan komunikasi yang sudah menjadi agenda rutin.

Dia menjelaskan literasi gap merupakan perbedaan pemahaman. Misalnya terkait dengan inflasi, sebagian orang berpadangan kenaikan harga tertentu bisa berdampak ke inflasi, padahal dalam penghitungan inflasi banyak komoditas yang dihitung.

"Memang penting terutama bagi media untuk bisa memahami aspek-aspek teknis dalam penyusunan kebijakan, makanya kita melakukan edukasi juga kepada media salah satunya kegiatan ini," paparnya. (BC)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

alt

Tak Paham Sejarah Keistimewaan DIY, NasDem Tuntut Ade Armando Minta Maaf

Jogja
| Minggu, 03 Desember 2023, 23:47 WIB

Advertisement

alt

Jelang Natal Saatnya Wisata Ziarah ke Goa Maria Tritis di Gunungkidul, Ini Rute dan Sejarahnya

Wisata
| Jum'at, 01 Desember 2023, 19:12 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement