GAS Fest 2026 Hadirkan Panggung Lintas Genre, Dihadiri Ribuan Penonton
GAS Fest 2026 di Stadion Mandala Krida Jogja menghadirkan TIPE-X, Aftershine, Dipha Barus hingga Mentik Wangi dalam konser lintas genre.
Pertumbuhan ekonomi ilustrasi./Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Bank Indonesia (BI) Perwakilan DIY memperkirakan ke depan inflasi DIY akan terus berada di kisaran targetnya. Kepala Perwakilan BI DIY, Ibrahim mengatakan kondisi ini didukung oleh upaya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY dalam menjaga pasokan dan kestabilan harga.
Melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), seperti operasi pasar dan pasar murah yang telah dilakukan sebanyak 360 kali, serta implementasi Strategi Pengendalian Harga Pangan (SPHP) oleh Bulog. Juga dengan optimalisasi Kios Segoro Amarto sebagai price reference store untuk menjaga daya beli.
Upaya lainnya dengan penguatan Kerjasama Antar Daerah (KAD) baik antar provinsi maupun intra provinsi. Serta terus memantau risiko El Nino secara periodik, salah satunya melalui pemanfaatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
"Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan inflasi DIY akan terus berada pada kisaran targetnya," ucapnya, Kamis (2/11/2023).
Inflasi DIY pada Oktober 2023 tercatat dalam kisaran sasaran 3 plus minus 1%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,25% (month-to-month/mtm) pada Oktober 2023. Sementara secara tahunan (year-on-year/yoy) inflasi DIY tercatat sebesar 3,44%, dan secara tahun kalender (year-to-date/ytd) sebesar 2,44%.
"Terjaganya inflasi dimaksud merupakan hasil koordinasi yang erat dan serangkaian implementasi kebijakan stabilisasi harga dan pemenuhan pasokan dari TPID DIY," ucapnya.
Dia menjelaskan tekanan inflasi disumbang dari kelompok pendidikan, makanan, minuman dan tembakau, serta kelompok Bahan Bakar Minyak (BBM). Andil biaya pendidikan terjadi seiring penyesuaian biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang berlaku sejak 2013.
"Kondisi tersebut berdampak terhadap inflasi DIY, terlebih terdapat 128 perguruan tinggi di DIY. Pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau inflasi dipengaruhi oleh kenaikan harga beras dan cabai rawit serta rokok putih," jelasnya.
BACA JUGA: Inflasi DIY Oktober 2023 3,44%, Biaya Pendidikan dan Beras Jadi Pemicu Utama
Menurutnya, kenaikan harga beras disebabkan oleh berkurangnya pasokan akibat El Nino. Harga cabai rawit juga meningkat akibat kekeringan yang memicu penurunan produktivitas cabai sehingga berdampak pada pasokan yang terbatas.
Inflasi Oktober 2023 tertahan akibat penurunan harga sejumlah komoditas, seperti telur ayam ras, daging ayam ras, dan bahan bakar rumah tangga. Pasokan yang terjaga menjadi sebab turunnya harga telur ayam ras dan daging ayam ras.
"Terjaga karena produksi telur yang memadai. Penurunan lebih lanjut dipicu oleh penyesuaian harga bahan bakar rumah tangga yang dilakukan oleh pelaku usaha."
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
GAS Fest 2026 di Stadion Mandala Krida Jogja menghadirkan TIPE-X, Aftershine, Dipha Barus hingga Mentik Wangi dalam konser lintas genre.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 31 Juli 2026 tersedia 15 perjalanan. Tarif tetap Rp8.000 dengan layanan dari Yogyakarta hingga Palur.
Pemkab Kulon Progo dan BBWS Serayu Opak mengeruk Sungai Serang untuk mitigasi banjir sekaligus memanfaatkan sedimen bagi infrastruktur Porda DIY 2027.
DPC PDIP Sleman menggelar sarasehan dan nobar film Kudatuli di Minggir sebagai pendidikan politik serta penguatan soliditas kader menuju Pemilu 2029.
PSS Sleman memastikan seluruh pemain lokal anyar telah tiba di Sleman dan menjalani MCU. Persiapan tim terus dimatangkan untuk musim kompetisi 2026.
Citilink mengoperasikan 43 pesawat hingga Juni 2026. Dukungan Danantara mendorong transformasi Garuda Indonesia Group dan ekspansi rute.