Advertisement

Pertamina Bawa Mitranya Pameran ke Luar Negeri

Media Digital
Jum'at, 01 Maret 2024 - 21:07 WIB
Mediani Dyah Natalia
Pertamina Bawa Mitranya Pameran ke Luar Negeri Suasana ruang produksi Anggun Rotan di Bantul, Kamis (28/12/2023).Harian Jogja - Sirojul Khafid

Advertisement

JOGJA—Melalui pendampingan dan dukungan pendanaan, Pertamina mengajak usaha mikro kecil menengah (UMKM) binaannya untuk semakin mengembangkan produknya. Salah satunya dengan mengajak menjadi peserta pameran di dalam dan luar negeri.

Anggun Rotan di Bantul merasakan manfaat dari pameran dalam meningkatkan pemasaran dan penjualan produk tas rotannya. Sebelum bergabung menjadi mitra Pertamina, Anggun Rotan pertama kali menggelar pameran di Kompleks Kraton Jogja 2002. Pameran ini bekerja sama dengan dinas yang kala itu bernama dinas perindustrian, perdagangan, dan koperasi (disperindagkop).

Advertisement

Pemilik Anggun Rotan, Panut, mengatakan pameran pertamanya cukup menarik perhatian para pengunjung. Banyak yang membeli. Bahkan Panut harus terus membuat tas rotan sembari menjaga stan pameran, lantaran stoknya menipis.

Di tahun-tahun awal, Anggun Rotan bisa memproduksi puluhan tas. Jumlah yang terus bertambah seiring berjalannya waktu, dengan banyak inovasi bentuk tas dan juga pemasarannya. Pameran menjadi salah satu garda terdepan Anggun Rotan dalam memasarkan produknya.

Melalui salah satu pembeli produknya, Panut mendapat informasi peluang menjadi mitra Pertamina. Setelah mencari berbagai informasi terkait, dia mengajukan pinjaman dan menjadi mitra Pertamina dalam mengembangkan usahanya. Di samping mendapatkan bantuan modal, Anggun Rotan juga diajak Pertamina pameran di dalam maupun luar negeri.

“Tentu bantuan pendanaan itu penting, tapi manfaat yang lebih besar berupa pembinaan dan pameran. Pertamina mengajak pameran baik di dalam maupun luar negeri. Itu jauh lebih penting,” kata Panut, beberapa waktu lalu.

Area Manager Communication, Relations, & Corporate Social Responsibility (CSR) Regional Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga, Brasto Galih Nugroho, mengatakan Pertamina berkomitmen membantu UMKM untuk mengembangkan usahanya. Anggun Rotan menjadi salah satu contoh yang mendapatkan pendanaan, pada 2015 dengan Rp40 juta dan 2018 sebesar Rp100 juta.

Sejak 2023, model pemberian bantuan pendanaan UKM berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Apabila sebelumnya Pertamina yang langsung turun tangan, sejak 2023 proses dari pengajuan, survei, sampai evaluasi diserahkan kepada lembaga finansial, dalam hal ini Bank Rakyat Indonesia. Bantuan pendanaan yang berasal dari CSR Pertamina terbuka untuk semua jenis UKM, termasuk kerajinan seperti Anggun Rotan.

“[Setelah mendapat pendanaan] omzet Anggun Rotan meningkat dari Rp40 juta menjadi 90 juta,” kata Brasto. “Kami juga mengajak Anggun Rotan pameran di Semarang, kami juga ikutkan dan mereka telah berkiprah di Inggris dan Aljazair. Mitra binaan kami bisa laku di pasar domestik dan internasional termasuk sebuah kebanggaan juga.”

Saat ini, dalam sebulan Anggun Rotan bisa memproduksi hingga 1.500 tas. Jumah karyawan 25 orang. Harga tas mulai Rp125.000 sampai Rp400.000. “Kami juga ekspor ke Amerika, Jepang, dan Iran. Produk dengan bahan rotan masih jarang di berbagai negara, cuma ada di Indonesia dan Vietnam,” kata Panut. “Banyak peminatnya, karena lebih ramah lingkungan dan ada nilai seninya. Semoga yang memakai tas rotan, nantinya jadi semakin anggun, seperti nama usahanya.”

Menengok Awal Mula Anggun Rotan Berdiri

Sebelum punya usaha sendiri, Panut bekerja sebagai karyawan yang memproduksi mebel berbahan rotan sejak tahun 1990. Dari awal mulai kerja di tempat orang, dia sudah punya keinginan bahwa suatu saat nanti ingin punya usaha sendiri. Panut pindah-pindah kerja ke banyak tempat, dari Cirebon, Salatiga, sampai Sukoharjo.

“Kenapa begitu? Pengen cari pengalaman, bukan pindah kerja karena faktor X,” kata Panut.

Awalnya, Panut menjadi pegawai biasa. Sampai terakhir sempat menjadi manajer produksi. Ada salah satu pengalaman yang dia ingat, saat mendapat tugas sebagai asisten teknisi dari Filipina di tempatnya bekerja. Tugas itu membuat Panut paham banyak tentang rotan, dari proses menggambar sampai pembuatan berbagai bentuk. Pelajaran yang cukup berharga untuk dia gunakan ke depannya.

Memasuki 1998, Panut membuat usaha produksi keranjang rotan bersama temannya. Namun sekitar dua tahun setelahnya, dia lebih memilih membuka usahanya sendiri pada 2001. Bersama tujuh karyawan, Panut membangun Anggun rotan, dengan spesialisasi produksi tas dan keranjang. “Lebih fokus ke produksi tas, karena pengen cari pasar baru, waktu itu produksi tas rotan masih sangat sedikit,” kata laki-laki berusia 56 tahun ini.

Meski semua nampak indah dan lancar, bukan berarti Anggun Rotan berjalan tanpa tantangan. Mereka sempat vakum akibat gempa Bantul tahun 2006 dan Covid-19 sekitar 2020. Saat Covid-19, hampir enam bulan tidak ada produksi tas maupun keranjang rotan sama sekali.

“Sempat jualan soto juga di rumah karena pandemi Covid-19. Untungnya perlahan bisa bangkit dan berjalan lagi, meski belum sebesar seperti sebelumnya,” kata Panut.

Namun seiring dengan meredanya Covid-19, usaha Anggun Rotan kembali beroperasi. Berbagai inovasi, serta pembinaan, salah satunya dari Pertamina membuat Anggun Rotan semakin berkembang. (***)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

alt

Alert! Stok Darah di DIY Menipis, PMI Dorong Instansi Gelar Donor Darah

Jogja
| Sabtu, 20 April 2024, 13:47 WIB

Advertisement

alt

Kota Isfahan Bukan Hanya Pusat Nuklir Iran tetapi juga Situs Warisan Budaya Dunia

Wisata
| Jum'at, 19 April 2024, 20:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement