Advertisement

Konsumsi Pertamax Green 95 di Jogja Semakin Tinggi dan Digemari

Abdul Hamied Razak
Senin, 01 September 2025 - 19:22 WIB
Abdul Hamied Razak
Konsumsi Pertamax Green 95 di Jogja Semakin Tinggi dan Digemari Petugas SPBU Pedaringan, Jebres melayani konsumen Pertamax Green 95 di Solo, Senin (28/7 - 2025)

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Meski belum signifikan, penjualan Pertamax Green 95 di wilayah Jogja mulai meningkat seiring semakin tingginya pemahaman masyarakat terkait penggunaan bahan bakar ramah lingkungan.

Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Patra Niaga JBT, Taufiq Kurniawan mengatakan minat masyarakat terhadap bahan bakar ramah lingkungan Pertamax Green 95 terus menunjukkan tren positif. Sejak Juli hingga Agustus, lanjutnya, konsumsi Pertamax Green 95 di DIY naik lebih dari dua kali lipat.

Advertisement

"Rata-rata konsumsi harian yang awalnya 929 liter di bulan Juli, saat ini menembus 1.844 liter pada Agustus atau naik 102 persen," katanya, Senin (1/9/2025).

Saat ini terdapat empat SPBU yang melayani pembelian Pertamax Green 95. Selain di Jalan Kyai Mojo Jogja dan SPBU di Babarsari, Sleman, dua outlet lainnya berada di Kulonprogo, masing-masing di Jalan Raya Dekso–Muntilan dan Tentara Pelajar Jogoyudan.

Untuk diketahui, Pertamax Green 95 merupakan gasoline bioethanol yang merupakan campuran bensin dengan 5 persen bioethanol yang berasal dari molase tebu. Energi terbarukan ini diklaim membuat pembakaran lebih optimal, tarikan mesin lebih enteng, sekaligus menekan emisi gas buang.

Kehadiran BBM berbasis bioethanol ini tidak hanya menjadi alternatif tetapi juga simbol perubahan menuju energi yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan. "Kandungan oktan Pertamax Green 95 lebih tinggi dibandingkan Pertamax reguler. Hal ini membuat pembakaran mesin menjadi lebih optimal, lebih irit, sekaligus menghasilkan emisi yang lebih rendah," paparnya.

BACA JUGA: Dorong UMKM Naik Kelas, Pertamina Gelar Pelatihan UMK Academy untuk DIY-Jateng

Taufiq menyebut hingga akhir tahun 2025 jumlah outlet SPBU yang menjual Pertamax Green 95 di Jateng dan DIY sebanyak delapan outlet. Saat ini sudah terdapat enam outlet yang tersebar di Jogja, Semarang, dan Solo. "Kami optimis melampaui target yang dicanangkan, ini tidak lepas melihat animo masyarakat," katanya.

Mulai Digemari

Berdasar hasil pantauannya, pengguna Pertamax Green 95 banyak dimanfaatkan mitra ojek online (Ojol). Bahkan, katanya, penggunaan BBM tersebut di DIY 50 persen digunakan oleh para Ojol. "Mereka merupakan sampling konsumen yang terbukti memilih Pertamax Green 95 untuk kendaraannya," kata Taufiq.

Senada dengannya, Manager SPBU Pertamina 44.552.11 Hervan Akadhina mengakui peningkatan penjualan Pertamax Green 95 di tempatnya. Penjualan BBM tersebut per hari antara 170 liter – 200 liter. Selain memiliki keunggulan lebih ramah lingkungan, juga dinilai sebagai BBM berkualitas.

"Kalau Pertamax Green 95 yang banyak peminatnya pengendara motor matic, Ojol juga. Apalagi sekarang kan banyak motor yang teknologinya bagus, jadi diberi BBM yang bagus juga," ujar Hervan.

Selain di Jogja, penjualan Pertamax Green 95 di Solo juga mendapat respons positif dari masyarakat. Salah satunya di SPBU Pedaringan, Jebres milik Pemkot Solo. "Sehari sekitar 150 liter. Mungkin karena masih produk baru ya. Tapi dari hari ke hari pertumbuhannya bagus," kata Direktur Operasional Perumda PAU Pedaringan, Suryo Baruno.

Menurut Suryo, konsumen Pertamax Green 95 tidak hanya kalangan menengah atas, tetapi juga pengguna motor seperti Ojol. "Konsumen BBM ini Segmennya mereka yang sadar atas BBM ramah lingkungan. Pengendara roda dua maupun roda empat,” ujar Baruno.

Salah satu pengguna Pertamax Green 96, Umar Rois mengaku selain pertimbangan untuk mesin kendaraan lebih baik, juga sebagai langkah nyata mendukung hadirnya energi baru terbarukan. "BBM ini lebih ramah lingkungan. Untuk mesin performa semakin bagus, karena pembakaran sempurna, tenaga lebih kuat," kata Rois.

BACA JUGA: Pertamina Sukses Terbangkan Pesawat Berbahan Bakar Minyak Jelantah

Pengguna Pertamax Green lainnya, Muhyidin mengaku, meski belum lama menggunakan BBM tersebut namun dia merasakan baiknya performa Pertamax Green untuk kendaraannya. "Tarikan ke mesin lebih enteng. Enak jadinya saat berkendara. Kalau dari segi harga wajar, gak terlalu mahal juga," ujarnya.

Terus Didorong

Sebelumnya, Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai Pertamax Green 95 memiliki daya tarik dan pasar tersendiri. Dari segi harga, lanjut Fahmy, bisa dibilang wajar. Alasannya, produksi BBM itu membutuhkan tambahan biaya untuk bahan lainnya, yakni etanol.

Menurutnya, pencampuran 5% etanol dan 95% bahan fosil di awal pengembangan biofuel ini tergolong sudah cukup bagus. Bukan tidak mungkin, selanjutnya persentase penggunaan bioetanol semakin tinggi sementara porsi bahan fosil dapat terus dikurangi.

"Sebagai tahap awal saya kira cukup bagus [dengan Pertamax Green]. Nanti ke depan bisa secara bertahap campuran etanolnya akan semakin meningkat sehingga itu akan memberikan dampak, terutama dalam penyediaan etanol tadi," kata Fahmy.

Bahan etanol sebagai campuran biofuel salah satunya bisa diambil dari tanaman tebu. Apabila Pertamax Green 95 pemakaian etanolnya semakin meningkat, maka permintaan etanol juga akan melonjak. Dampaknya bahan baku pembuatan etanol seperti tebu juga akan meningkat dari sektor petani.

"Jadi petani tebu misalnya, itu akan semakin meningkat [permintaannya]. Jadi itu akan berdampak cukup positif," ucap dia.

Fahmy pun optimistis dalam pengembangan biofuel ini. Jika porsi etanol dalam BBM bisa terus meningkat seperti biodiesel yang mencapai B40, tentu negara bisa mengurangi impor Pertamax. Caranya dengan penambahan penggunaan bioetanol secara bertahap.

"Kalau campurannya sudah 40 persen begitu ya, maka secara signifikan dia akan mengurangi juga impor Pertamax, Kemudian di sisi yang lain itu akan memberikan dampak ekonomi juga, khususnya dalam bahan baku etanolnya," ujar dia.

Jika jangkauan Pertamax Green 95 semakin luas dan meng-cover seluruh wilayah Indonesia, kata Fahmy, maka penggunaan bahan fosil akan berkurang. Sementara bioetanol yang dibutuhkan semakin banyak dan menyerap hasil pertanian masyarakat penghasil bahan baku etanol.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Prakiraan Cuaca di Jogja 25 Januari 2026, Hujan dan Gelombang Sedang

Prakiraan Cuaca di Jogja 25 Januari 2026, Hujan dan Gelombang Sedang

Jogja
| Minggu, 25 Januari 2026, 06:57 WIB

Advertisement

Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan

Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan

Wisata
| Sabtu, 24 Januari 2026, 15:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement