Advertisement
Harga Emas Dunia Tembus Rekor Baru, Konflik Iran-AS Dorong Lonjakan
Produk emas Antam. / Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan melesat mendekati US$5.600 per ons pada perdagangan Kamis (29/1/2026), didorong eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Lonjakan harga dipicu pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mendesak Iran segera kembali ke meja perundingan nuklir disertai ancaman aksi militer lebih keras. Pernyataan tersebut langsung dibalas ancaman serangan terhadap kepentingan AS dan Israel oleh pihak Iran, sehingga memperbesar kekhawatiran pasar terhadap stabilitas keamanan global.
Advertisement
Reuters melaporkan, di pasar spot, harga emas melonjak 2,1 persen ke level US$5.511,79 per ons, setelah sebelumnya menyentuh rekor intraday di posisi US$5.591,61 per ons. Penguatan ini membuat emas mencatatkan kenaikan sekitar 27 persen sepanjang tahun berjalan (year-to-date), melanjutkan tren positif setelah melonjak hingga 64 persen sepanjang 2025. Posisi emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) semakin menguat di tengah ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan ekonomi global.
Selain faktor geopolitik, kebijakan Federal Reserve yang menahan suku bunga meski inflasi masih bertahan di atas 2 persen turut menekan nilai tukar dolar AS. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi emas untuk menguat, sekaligus mendorong sejumlah bank sentral dunia meningkatkan pembelian emas sebagai strategi diversifikasi cadangan devisa.
BACA JUGA
Sentimen pasar semakin diperkuat oleh langkah perusahaan kripto Tether yang mengalokasikan sekitar 10 hingga 15 persen portofolionya ke emas fisik. Kebijakan ini dinilai menambah keyakinan investor global terhadap emas sebagai instrumen penyimpan nilai jangka panjang di tengah volatilitas pasar keuangan.
Euforia logam mulia tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak turut menguat 1,3 persen ke level US$118,06 per ons, dengan kenaikan sekitar 60 persen sepanjang 2026. Perak diprediksi segera menembus level psikologis US$120 per ons, didorong defisit suplai global yang berkepanjangan serta tingginya aktivitas spekulasi pasar.
Lonjakan permintaan juga tercermin di kawasan Asia. Antrean panjang pembeli emas dilaporkan terjadi di pusat perdagangan Shanghai dan Hong Kong, menandakan minat tinggi investor ritel terhadap aset pelindung nilai di tengah ketidakpastian global.
Analis OCBC menilai emas kini berfungsi sebagai “penyimpan nilai netral” yang krusial dalam strategi diversifikasi menghadapi perubahan rezim ekonomi dunia. Sementara itu, analis IG menyebutkan bahwa meskipun koreksi jangka pendek berpotensi terjadi, fundamental emas sepanjang sisa 2026 masih sangat solid, sehingga setiap pelemahan harga justru dipandang sebagai peluang beli.
Pergerakan logam mulia lainnya menunjukkan tren beragam. Harga platinum tercatat naik 0,5 persen ke US$2.710 per ons, sedangkan paladium terkoreksi 1,3 persen ke level US$2.048 per ons seusai rilis data industri terbaru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Wisata Bunga Sakura Asia Jadi Tren, Ini 5 Destinasi Favorit 2026
Advertisement
Berita Populer
- Ibu Rumah Tangga Bangun Aset Keluarga lewat Program Miss Cimory
- Prediksi Faisal Basri Viral Lagi, Gejolak Politik Picu Krisis Ekonomi
- Bulog Kanwil Yogyakarta Mulai Salurkan Minyakita ke Pasar Tradisional
- Menkeu Purbaya Rombak 36 Pejabat Eselon II, DJBC Dominan
- Pelaporan SPT Lewat Coretax Tembus 867 Ribu, DJP Ingatkan Sanksi Denda
- Insentif PPh 21 2026 Positif, tetapi Belum Dongkrak Daya Beli
- Harga Emas Pegadaian Hari Ini Melonjak, Galeri24 dan UBS Kompak Naik
Advertisement
Advertisement




