BGN DIY Pecat Pegawai SPPG Bantul yang Ejek Korban Keracunan MBG
Pegawai SPPG Bantul diduga mengejek korban MBG yang hilang ingatan. BGN DIY mengambil langkah pemberhentian dan evaluasi internal.
Foto ilustrasi pertumbuhan ekonomi. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Kantor Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (KPw BI DIY) menebar optimisme terhadap performa ekonomi Bumi Mataram dengan memproyeksikan pertumbuhan pada triwulan I 2026 akan lebih tinggi dibandingkan capaian triwulan IV 2025.
Deputi Kepala Perwakilan BI DIY, Hermanto, mengungkapkan bahwa akumulasi kekuatan ekonomi di awal tahun ini dipicu oleh perpaduan antara kenaikan konsumsi rumah tangga, implementasi Upah Minimum Provinsi (UMP) terbaru, hingga pencairan gaji ke-13.
Lonjakan mobilitas masyarakat yang bertepatan dengan momentum Ramadan dan Idulfitri 1447 H menjadi mesin utama penggerak aktivitas finansial di wilayah Yogyakarta.
Daya beli masyarakat di triwulan I 2026 diperkirakan melampaui angka 5,94% (year-on-year/yoy) yang sempat tercatat pada pengujung tahun lalu.
Hermanto menjelaskan bahwa sektor akomodasi serta makan dan minum (Akmamin) menjadi lapangan usaha yang paling diuntungkan seiring dengan membludaknya kunjungan wisatawan dan pemudik.
Kondisi ini secara otomatis memicu akselerasi pada industri pengolahan pangan untuk memenuhi kebutuhan stok Lebaran, yang kemudian diikuti oleh geliat sektor perdagangan di berbagai pusat perbelanjaan dan pasar tradisional DIY.
Selain sektor konsumsi, geliat ekonomi juga ditopang oleh percepatan proyek konstruksi fisik yang mulai digeber pemerintah sejak awal tahun. Pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) pada periode ini turut menjadi stimulus tambahan yang memperkuat struktur pertumbuhan dari sisi pengeluaran masyarakat.
Di sisi lain, sektor pertanian juga menunjukkan tren positif karena memasuki masa panen raya, sehingga kontribusi sektor primer ini semakin melengkapi diversitas pertumbuhan ekonomi DIY dari triwulan sebelumnya.
Meski demikian, terdapat beberapa faktor penghambat yang perlu diwaspadai, seperti tingginya angka impor bahan baku serta ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi mengerem minat konsumsi warga.
Pandangan sedikit berbeda datang dari Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo, yang menilai pertumbuhan secara kuartalan (quarter-to-quarter) mungkin akan menunjukkan pergerakan yang sangat tipis.
Menurutnya, meskipun Lebaran menjadi pendorong kuat, namun optimalisasi belanja pemerintah melalui APBN dan APBD biasanya baru akan terlihat masif saat memasuki akhir semester I atau awal semester II mendatang.
Susilo menambahkan bahwa realisasi belanja negara cenderung menumpuk di paruh kedua tahun hingga bulan November, sehingga pada awal tahun tumpuan ekonomi murni berada pada konsumsi masyarakat.
Pemerintah daerah diharapkan terus menjaga stabilitas harga pangan selama periode puncak Lebaran agar inflasi tidak menggerus daya beli yang sedang tumbuh.
Sinergi antara pemangku kebijakan dan pelaku usaha menjadi kunci agar momentum pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 di DIY tetap berada di jalur positif di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pegawai SPPG Bantul diduga mengejek korban MBG yang hilang ingatan. BGN DIY mengambil langkah pemberhentian dan evaluasi internal.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Minggu 27 September 2026 tersedia 10 perjalanan. Cek jadwal dari Jogja dan Kutoarjo selengkapnya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 27 September 2026 dari Palur menuju Jogja/Tugu tersedia mulai pukul 05.00 WIB. Simak jadwal lengkapnya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 27 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal setiap stasiun dan tarif Rp8.000.
DPRD Gunungkidul menegaskan Perubahan APBD 2026 harus berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar besarnya anggaran.
HP mulai bermasalah? Kenali tanda pada layar, baterai, dan suhu sebelum memutuskan mengganti perangkat.