Advertisement
Lonjakan Harga Plastik Tekan UMKM Makanan Minuman di DIY
Foto ilustrasi kantong plastik, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA — Kenaikan harga plastik di DIY mulai menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama sektor makanan dan minuman. Dampak ini dirasakan sejak beberapa pekan terakhir dan berpotensi memperburuk margin keuntungan yang sudah tipis.
Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, menyebut kenaikan harga kemasan plastik membuat biaya produksi melonjak. Banyak pelaku UMKM enggan menaikkan harga jual karena takut kehilangan pelanggan, sehingga menanggung sendiri beban tambahan hingga risiko finansial meningkat.
Advertisement
“Jika tidak disikapi, risiko paling nyata adalah penutupan usaha atau pengurangan tenaga kerja,” jelas Yuna, Senin (6/4/2026).
Berdasarkan laporan pedagang grosir, harga plastik naik hingga 70% menjelang Lebaran. Contohnya gelas cup naik dari Rp220 menjadi Rp440 per piece, sementara kantong kresek naik dua kali lipat.
BACA JUGA
Yuna menilai lonjakan ini dipicu oleh gangguan pasokan global, termasuk penutupan Selat Hormuz yang meningkatkan biaya logistik, energi, dan bahan baku plastik.
Produksi hulu industri plastik domestik turun hingga sepertiga kapasitas, menyebabkan harga di tingkat produsen naik 30-60% dan hingga 100% di pedagang. “Kenaikan seragam di semua jenis plastik terjadi karena penyesuaian dari pabrik,” katanya.
Owner Toko Plastik dan Bahan Kue Jawara Oetama, Zuli, menuturkan kenaikan ini menurunkan penjualan sekitar 20% setelah Lebaran.
“Kalau harga minyak masih tinggi, harga plastik akan tetap tinggi karena pasokan terbatas. Banyak pabrik yang menutup pesanan, sehingga stok toko tidak sebanyak biasanya,” ujarnya.
Meski begitu, kontribusi plastik terhadap inflasi DIY masih kecil, hanya 0,02% untuk plastik bungkus, sementara botol minuman dan lemari plastik masing-masing 0,11% dan 0,09%, menurut Ketua Tim Distribusi dan Jasa BPS DIY, Sudiyana.
“Yang masuk komponen inflasi hanyalah produk plastik yang sudah bahan jadi,” jelasnya.
Disperindag DIY kini memantau anomali harga di tingkat lokal, sambil mengkaji jalur distribusi dan dampaknya terhadap UMKM agar lonjakan biaya tidak mematikan usaha mikro dan menengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik hingga Akhir 2026
- Forbes April 2026: Kekayaan Elon Musk Tembus Rp13.746 Triliun
- Rahasia Kongo Gumi Bertahan 1.400 Tahun Lebih
- Mensesneg: Harga BBM Belum Berubah, Warga Diminta Tak Terpengaruh Isu
- KPK: Deadline Makin Dekat Banyak Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
Advertisement
WFH di Pemkot Jogja Dibatasi, Sebagian Besar ASN Tetap Masuk
Advertisement
Mekar Hanya Beberapa Hari, Bunga Bangkai di Palupuh Diserbu Turis
Advertisement
Berita Populer
- Selat Hormuz Lumpuh, Industri Plastik RI Berburu Bahan Baku ke Afrika
- Harga Plastik Naik Tajam Imbas Penutupan Selat Hormuz
- Harga Cabai Rawit Tembus Rp83 Ribu, Ayam dan Beras Ikut Bergerak
- Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik hingga Akhir 2026
- Gelombang Penutupan BPR Berlanjut, Enam Bank Dicabut Izin
- Syawalan Kadin Dorong Kolaborasi Ekonomi DIY
- Denda Puluhan Miliar Digelontorkan, Pelanggaran Pasar Modal Disikat
Advertisement
Advertisement






