Laba Perbankan Semester I/2018 Tertekan, Berikut Penjelasannya

Laba Perbankan Semester I/2018 Tertekan, Berikut PenjelasannyaStiker Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tertempel di pintu salah satu bank di Jakarta. - Bisnis Indonesia/Abdullah Azzam
02 Agustus 2018 16:30 WIB Amanda Kusumawardhani Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Kinerja perbankan pada semester I/2018 menunjukkan perlambatan saat mencetak laba bersih. Situasi ini merupakan imbas dari kenaikan beban biaya dana yang menggerus margin bunga bersih.

Berdasarkan rekapitulasi Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) terhadap 15 bank papan atas yang telah mempublikasikan laporan keuangan pada semester I/2018, hanya lima bank yang mencatatkan tren kenaikan laba dibandingkan dengan semester I/2017.

Adapun 10 bank lain membukukan perlambatan, meski secara tahunan laba masih positif. Namun, dari 10 bank itu ada yang beberapa mencatatkan penurunan laba.

Bank yang membukukan kenaikan laba, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Bank pelat merah ini pada semester I/2018 mencatat kenaikan laba 11% secara year on year (yoy), naik dibandingkan dengan kinerja semester I/2017 yang tumbuh sebesar 10,4% (yoy).

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. juga mencatatkan kenaikan laba 28,7% (yoy) dari periode sebelumnya 11,6%. Selain itu, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, PT Bank Mega Indonesia Tbk, dan PT Bank Bukopin Tbk mencatatkan pertumbuhan laba (lihat tabel).

Ada lima bank yang mencatatkan tren perlambatan laba, seperti PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, dan PT Bank OCBC NISP Tbk.

Ada pun, lima bank lain tidak hanya mencatatkan perlambatan, tetapi membukukan penurunan laba, yakni PT Bank Danamon Indonesia Tbk, PT Bank Panin Tbk, PT Maybank Indonesia Tbk, PT Bank Permata Tbk, dan PT Bank DBS Indonesia Tbk.

Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Kartika Wirjoatmodjo menyampaikan, dalam kondisi ekonomi seperti saat ini, tidak gampang bagi bank untuk mendulang laba hingga dua digit, apalagi hanya mengandalkan pendapatan bunga.

Menurut Tiko, begitu biasa disapa, ruang ekspansi kredit perbankan relatif kecil karena likuiditas bank mulai mengetat. Belum lagi, efek dari kenaikan bunga acuan Bank Indonesia membuat biaya dana meningkat. Hal itu membuat margin bunga bersih menyusut.

“Memang tahun ini untuk perbankan tidak mudah, karena suku bunga naik dan pertumbuhan dana tidak terlalu tinggi, NIM turun sekitar 20 bps-30 bps,” kata Tiko yang juga Dirut Bank Mandiri, saat berkunjung ke Redaksi JIBI, Rabu (1/8/2018).

Dalam kondisi seperti ini, tuturnya, bank harus memaksimalkan pendapatan dari nonbunga, seperti pendapatan berbasis komisi atau fee based income. Bank Mandiri mencatat penurunan rasio NIM menjadi 5,51% dari 5,65% pada periode yang sama tahun lalu.

Menurut Tiko, kinerja Bank Mandiri pada semester I/2018 terbantu oleh pendapatan nonbunga, karena memberi berkontribusi sekitar 30% dari total laba.

Pendapatan komisi Bank Mandiri ditopang oleh empat lini bisnis, yakni transaksi ritel pada kanal elektronik bank, EDC, administrasi simpanan hingga uang elektronik. Segmen ini berkontribusi di atas 50% dari total pendapatan komisi. Kemudian ada pendapatan komisi dari bisnis tresuri, trade finance, dan penagihan.

“Dengan berbagai engine tersebut, pertumbuhan fee based kami dapat tumbuh baik, sementara pertumbuhan dari bunga cukup sulit saat ini,” kata Tiko.

NIM Turun

Hal serupa dirasakan BRI. Meskipun mendulang pertumbuhan laba, bank pencetak laba terbesar di Tanah Air itu mencatatkan penurunan NIM dari semester I/2017 sebesar 8,02% menjadi 7,64% pada semester I/2018.

Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengatakan penurunan margin bunga bersih perseroan karena bunga kredit belum mengalami penyesuaian pasca-kenaikan suku bunga acuan, padahal beban bunga dana meningkat. “Sejak Juli suku bunga simpanan sudah naik 25 basis poin, Agustus akan naik lagi 25 basis poin. Untuk suku bunga kredit perlu kami kaji lagi paling tidak sampai Desember,” ujarnya, Selasa (31/7).

Kondisi yang sama dialami oleh BCA. Bank milik Djarum Group itu mengalami penurunan rasio NIM dari periode sebelumnya 6,3% menjadi 6%. Menurut Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, penurunan pendapatan bunga terjadi karena suku bunga simpanan sudah menyesuaikan kenaikan suku bunga acuan, tetapi perseroan masih menahan kenaikan bunga kredit.

“Kami sudah tiga kali menyesuaikan suku bunga deposito. Untuk suku bunga kredit rencananya akan naik sebesar 0,25 persen Agustus mendatang,” katanya beberapa waktu lalu

BNI pun mengalami penurunan rasio NIM sebesar 10 basis poin menjadi 5,45% pada semester I/2018 dari 5,55% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama BNI Achmad Baiquni menyampaikan meskipun rasio NIM tergerus, perseroan masih bisa mendorong lini bisnis pada sektor seperti payroll loan, korporasi, manufaktur, komunikasi, dan transportasi yang masih memiliki potensi untuk terus tumbuh.

Laba bersih BNI pada semester I/2018 naik 16% menjadi Rp7,44 triliun. Kenaikan laba bersih didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang disertai perbaikan kualitas aset.

Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tercatat sebesar Rp17,45 triliun, naik 13,3% dibandingkan dengan periode sebelumnya Rp15,40 triliun.

Hal berbeda dialami Bank Danamon. Laba bank publik itu terkoreksi 1% menjadi Rp2,01 triliun yang disebabkan oleh penurunan kinerja kredit mikro.

Chief Financial Officer Bank Danamon Satinder Ahluwalia mengatakan kredit mikro perseroan mengalami penurunan sekitar 40% menjadi sebesar Rp4,5 triliun dari total portofolio pada semester I/2017 sekitar Rp7 triliun.

Meskipun pertumbuhannya masih cukup stabil, Danamon mencatatkan rasio NIM sebesar 9,2%, turun sedikit dari posisi tahun lalu sebesar 9,3%.

Menurut Satinder penurunan NIM tersebut disebabkan oleh kenaikan suku bunga deposito ditetapkan sebesar 25bps - 40 bps mengikuti kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.

Sementara itu, Direktur Keuangan dan Tresuri BTN Iman Soeko Nugroho menyatakan meski kinerja tengah tahun belum maksimal, perseroan masih cukup optimistis dengan target pertumbuhan laba senilai 20% pada akhir tahun ini.

“Ini tantangan yang harus dihadapi untuk BTN yang di semester I laba baru tumbuh 12 persen, dan akhir tahun lalu tumbuh 15 persen. Tahun ini prognosa kami masih bisa tumbuh sesuai target,” katanya.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan agak sulit menggambarkan kinerja bank besar secara umum berdasarkan pertumbuhan laba hingga tengah tahun ini karena kinerjanya yang bervariasi.

“Tidak bisa diambil rata-rata dan dicari penyebabnya dari luar perbankan seperti penurunan margin bunga bersih ,” katanya kepada JIBI, Selasa (31/7/2018).

Menurutnya, ekspektasi perbankan pada tahun ini sejatinya cukup positif, karena penyaluran kredit lebih baik dan kualitas kredit membaik. Namun, Piter mengatakan bahwa pada praktiknya, kedua hal tersebut juga tidak menjamin keuntungan bank akan ikut melesat.

“Tahun lalu misalnya kita lihat bank untung besar walaupun penyaluran kreditnya rendah. Keuntungannya lebih disebabkan oleh perlakuan akuntansi seperti revaluasi aset,” jelasnya.

Piter mencontohkan, BRI dan BCA yang mencatatkan rekor keuntungan terbesar di tengah penyaluran kredit yang rendah. Cukup sulit bagi bank-bank tersebut untuk mengulang prestasi serupa pada tahun ini. Hal ini membuat adanya kesan pertumbuhan yang melambat pada laba industri perbankan.

Dia juga mengatakan bahwa kenaikan suku bunga kebijakan juga tidak dapat disimpulkan sebagai pertumbuhan laba yang melambat. Menurutnya, kondisi perekonomian secara umum yang akan lebih menentukan tingkat profitabilitas bank.

“Prinsipnya bank itu follow the trade, kalau perekonomian global dan domestik membaik, maka peluang bank meningkatkan keuntungan terbuka lebar,” katanya.

Sumber : Bisnis Indonesia