Mal Jogja Menarik Investor Nasional & Internasional

Mal Jogja Menarik Investor Nasional & InternasionalIlustrasi makanan dan minuman di swalayan. - Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat
03 September 2018 18:30 WIB Holy Kartika Nurwigati Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Daya tarik wisata belanja di DIY masih sangat menarik, bukan hanya untuk para wisatawan. Bahkan, dengan berkembangnya pusat perbelanjaan yang ada saat ini, DIY kian dilirik investor ritel nasional maupun internasional.

Ketua DPD Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DIY Surya Ananta mengungkapkan saat ini Jogja memiliki delapan mal atau pusat perbelanjaan modern. Nanan mengungkapkan keberadaan mal yang ada saat ini sudah tampak cukup dalam memenuhi kebutuhan dan gaya hidup masyarakat kota pelajar.

"Secara industri mal, propertinya atau banyaknya mal saat ini sudah pada kondisi optimum. Posisi antara demand dan supply sudah cukup seimbang," ujar Nanan kepada Harian Jogja, Jumat (31/8).

Kendati demikian tak dipungkiri, daya tarik investor yang ingin mengembangkan pusat perbelanjaan di Jogja cukup tinggi. Nanan mengungkapkan dari sisi industri mal, investor yang akan mendirikan mal di Jogja mesti berhitung dengan cermat sebelum mengembangkan bisnisnya.

Pasalnya, pengembangan mal harus memperhatikan banyak hal. Di antaranya potensi dan peluang dari lokasi. Selain itu, terpenting adalah potensi kunjungan atau pengunjung.

"Akan tetapi, kalau investor dari sisi retailer atau pemilik toko yakni tenant-tenant, animonya mau masuk ke Jogja semakin bagus. Apalagi secara lifestyle, Jogja semakin meningkat," ungkap General Manager Plaza Ambarrukmo ini.

Sebelum beberapa mal bermunculan di Jogja, jumlah dan tenant brand yang masuk ke Jogja masih didominasi nama lokal. Kini, merek yang sebelumnya hanya ada di Jakarta, mulai berekspansi ke Jogja. Nanan mengungkapkan banyak tenant, baik fesyen, kuliner maupun hiburan yang siap memasuki pasar Jogja.

"Beberapa dari tenant ternama itu pun sukses membuka bisnisnya di Jogja. Jadi secara retailer sangat prospektif. Namun dengan konteks mereka juga perlu menentukan diri mau ada di mal mana, karena setiap mal di Jogja memiliki segmen pasarnya sendiri," jelas Nanan.