Asian Games Tak Berdampak Signifikan pada Pariwisata Jogja, Tanya Kenapa?

Asian Games Tak Berdampak Signifikan pada Pariwisata Jogja, Tanya Kenapa?Pelancong menikmati suasana kawasan pedestrian Malioboro, Yogyakarta yang lengang seperti terlihat pada Senin (29/05/2017). - Harian Jogja/Desi Suryanto
31 Agustus 2018 16:30 WIB Rheisnayu Cyntara & Holy Kartika N.S Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Gelaran olahraga terbesar se-Asia, Asian Games 2018 yang diselenggarakan di Jakarta dan Palembang dirasa tak berdampak signifikan pada kunjungan wisatawan di Jogja. Namun berdasarkan pengamatan Dinas Pariwisata DIY kunjungan wisatawan asing memang meningkat pada semester II/2018 ini.

Ketua Asita DIY Udi Sudiyanto mengakui hingga kini efek dari penyelenggaraan Asian Games 2018 belum terasa di Jogja. Menurutnya belum ada ofisial ataupun atlet dari negara lain yang memesan paket wisata kepada salah satu anggota Asita. Udi memperkirakan hal tersebut dikarenakan Jogja belum menjadi destinasi pilihan para atlet dan timnya untuk berlibur. "Hingga saat ini belum ada pemesanan dari ofisial. Biasanya mereka pasti akan berangkat dalam tim besar dan pesan jauh-jauh hari. Jadi memang dampaknya belum signifikan," katanya kepada Harian Jogja, Kamis (30/8).

Udi melanjutkan dari segi supporter yang mungkin hadir menyaksikan atlet mereka berlaga dalam Asian Games juga belum terlihat pergerakannya menuju Jogja. Meskipun ada, Udi memperkirakan mereka tidak datang dalam jumlah yang besar dan tidak menggunakan jasa travel agent.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata DIY Arya Nugrahadi mengatakan ada peningkatan jumlah wisatawan asing ke Jogja pada semester II/2018 ini. Namun menurutnya peningkatan tersebut mulai terjadi selepas Hari Raya Idulfitri atau bertepatan dengan libur musim panas. Artinya penambahan tersebut belum bisa dikatakan merupakan efek dari Asian Games. "Penambahannya signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu tetapi kami tidak bisa memilah itu karena efek Asian Games atau tidak," tuturnya.

Namun demikian, Arya mengaku ada tren menarik dalam kunjungan wisatawan asing ini. Wisatawan asing mulai gemar mendatangi objek-objek wisata yang selama ini hanya dikunjungi oleh wisatawan lokal, seperti Tebing Breksi dan juga Wanawisata Budaya Mataram di Dlingo begitu juga kawasan wisata Malioboro. "Semenjak ada perbaikan dan pengubahan wajah baru Malioboro dan juga objek-objek wisata lain, makin banyak wisatawan asing yang datang. Pada semester ini saja kami telah melampaui target kunjungan wisatawan asing," katanya.

Standardisasi Pariwisata

Guna menarik lebih banyak wisatawan mancanegara, sangat penting menentukan indikator dan standardisasi pengelolaan destinasi yang tepat. Hal itu juga perlu didukung dengan kesadaran wisata, tidak hanya dari pelaku dan pemangku wisata tetapi juga masyarakat di destinasi yang ada.

Pakar Ekonomi sekaligus Rektor Universitas Widya Mataram Edy Suandi Hamid mengungkapkan pariwisata merupakan sektor strategis yang dapat mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi. "Secara makro, sektor pariwisata ini merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan. Ibaratnya, pariwisata itu produk yang unik untuk dijual," ujar Edy, Kamis.

Edy mengatakan sebagai daerah yang memiliki banyak potensi wisata, DIY harus lebih gencar dalam memasarkan destinasi yang ada. Berbagai potensi wisata alam dan budaya yang dimiliki DIY memungkinkan untuk lebih gencar dipasarkan.

Lebih lanjut Edy menambahkan dengan adanya objek wisata yang beragam ini, pengemasan setiap objek juga perlu diperhatikan seksama. "Sadar wisata juga harus lebih ditingkatkan, salah satunya hospitality yang baik dari para pelaku wisata, pemangku dan masyarakat. Semangat orang dalam pengembangan wisata belum serempak," imbuh Edy.

Ketua Asita DIY Udhi Sudiyanto mengungkapkan dalam pengembangan wisata DIY, masih ada beberapa kelemahan. Salah satunya dari sisi destinasi belum ada penataan yang tepat. Pembangunan infrastruktur atau bangunan di suatu objek wisata, belum memerhatikan estetika yang baik. "Misal adanya bangunan di atas destinasi, seperti warung-warung. Boleh membangun tetapi harusnya di luar destinasi," ungkap Udhi.

Pentingnya standardisasi yang tepat dalam pengelolaan suatu destinasi wisata juga perlu diperhatikan. Udhi menegaskan hingga saat ini belum ada standardisasi yang tepat pada suatu destinasi. Suatu destinasi yang baik itu harus memiliki indikator apa saja, hal itu yang masih belum ada di DIY.

Saat ini, pemerintah terus menggiatkan upaya untuk menarik lebih banyak kunjungan turis mancanegara. Untuk itu, penentuan indikator guna mendapatkan standardisasi yang tepat sasaran mesti disusun secara jelas.

"Jika memang mau meng-grab wisatawan mancanegara, maka indikator yang ditentukan harus sesuai dengan standarisasi internasional. Misalnya, toilet atau infrastrukturnya harus seperti apa," jelas Udhi.