Kurs Labil, Saatnya Berinvestasi yang Lain

Kurs Labil, Saatnya Berinvestasi yang LainObligasi - JIBI
13 September 2018 18:30 WIB Emanuel B. Caesario & Ilman A. Sudarwan Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Di tengah kondisi pasar modal yang tertekan, pemodal mengalihkan investasinya pada instrumen lain. Misalnya produk saving bonds retail (SBR) yang aman tetapi memberikan return tinggi.

Pengalihan investasi tersebut terlihat dari lonjakan pemesanan instrumen SBR. Setelah dipasarkan secara daring oleh 11 mitra distribusi sejak Senin (20/8), nilai pemesanan investor ritel atas instrumen SBR terbaru seri 004 sudah mencapai Rp7,04 triliun hingga pukul 19.00 WIB, berdasarkan publikasi Investree.id.

Masa penawaran instrumen ini akan berakhir hari ini, Kamis (13/9) pukul 10.00 WIB. Nilai pemesanan ini melonjak tajam dibandingkan dengan seri sebelumnya yang juga diterbitkan tahun ini, yakni SBR003 pada Mei 2018 yang hanya Rp1,93 triliun. Penjualan seri SBR004 ini juga sudah melampaui penjualan seri SBR tertinggi, yakni SBR002 pada 2016 yang senilai Rp3,93 triliun.

Dari segi strukturnya, instrumen SBR004 sangat menarik. Produk ini ditawarkan dengan tingkat bunga mengambang sebesar 255 bps di atas suku bunga BI 7-Days Repo Rate. Dengan BI 7-DRR saat ini sebesar 5,50%, bunganya menjadi 8,05%.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan karakter investasi ini menarik sebab tren suku bunga cenderung terus meningkat, sehingga kupon instrumen ini pun akan terus naik.

Di sisi lain, saat ini instrumen pasar modal lainnya tengah sangat tertekan dan bergerak fluktuatif sehingga potensi risikonya meningkat, SBR004 justru hadir dengan bunga yang cenderung terus meningkat, serta dijamin keamanannya oleh pemerintah.

Kupon SBR004 masih lebih tinggi dibandingkan dengan yield surat utang negara (SUN) tenor 2 tahun di pasar sekunder sudah mencapai 7,78%.

Padahal, yield ini sudah meningkat dari 7,09% ketika SBR004 mulai dipasarkan. “Dengan SBR004, investor justru bisa maintain investasinya di tengah perkembangan tingkat suku bunga acuan, karena mereka juga melihat potensi suku bunga acuan akan terus meningkat di masa mendatang,” katanya, Rabu (12/9/2018).

SBR004 layak mendapat predikat primadona, sebab dibandingkan dengan instrumen sejenis pun lebih menguntungkan. Kuponnya lebih tinggi dari bunga deposito yang hanya 5,82%. Pajak imbal hasilnya pun hanya 15%, sedangkan deposito 20%. Dibandingkan dengan obligasi ritel Indonesia (ORI) atau sukuk ritel (Sukri), instrumen ini lebih unggul sebab kuponnya bersifat mengambang. Harga ORI dan Sukri akan turun di pasar sekunder seiring dengan naiknya suku bunga acuan. Menurut Adi, instrumen SBR seharusnya bisa lebih didorong dibandingkan dengan ORI atau Sukri yang selama ini bisa ditransaksikan di pasar sekunder.

Pasalnya, ORI dan Sukri cenderung cepat berpindah tangan ke investor institusi lagi. Apalagi, pemesanan SBR004 ini sudah hampir menyaingi pemesanan ORI014 tahun lalu yang senilai Rp8,98 triliun dan Sukri SR-010 tahun ini yang senilai Rp8,44 triliun.

Luki Alfirman, Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, mengatakan pemerintah terus meningkatkan komunikasi dengan pelaku pasar, terutama mitra penjual, untuk menyampaikan concern dan strategi pembiayaan pemerintah. Tujuannya, agar lebih banyak investor lokal bisa dijaring.

Dana Bank

Secara terpisah, Anggota Dewan Komisioner merangkap Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan mengatakan, kehadiran instrumen SBR004 mendorong perbankan agar bersaing lebih keras dalam menghimpun dana. Mengetatnya likuiditas perbankan serta peningkatan suku bunga acuan sebe sar 125 bps sepanjang tahun ini membuat bank menaikkan counter deposit rate.

Suku bunga pasar simpanan rupiah meningkat sebesar 12 bps menjadi 5,66%, sedangkan suku bunga pasar simpanan valuta asing naik 10 bps menjadi 0,98% pada periode 6 Agustus—4 September 2018. Dengan kondisi tersebut, LPS memutuskan untuk kembali mengerek tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah naik 25 bps menjadi 6,5%, dan valas naik 50 bps menjadi 2%.

Adapun, tingkat bunga simpanan bank perkreditan rakyat (BPR) naik 25 bps menjadi 8,75%. Namun, Direktur Konsumer PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Budi Satria menampik instrumen SBR menghambat penghimpunan dana simpanan.

Sumber : Bisnis Indonesia