Clenovia Kenalkan Indonesia lewat Teknologi

Clenovia Kenalkan Indonesia lewat TeknologiCo-founder sekaligus CEO Clenovio Ambar Setyawan menunjukkan produk flashcard yang menggunakan teknologi augmented reality (AR), Jumat (2/11). - Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara.
03 November 2018 12:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bermula dari komunitas, ide tentang mengenalkan potensi Indonesia dalam dunia pendidikan lantas berkembang lebih serius. Melalui startup Clenovio, potensi tersebut dituangkan lewat produk berteknologi tinggi.

Ambar Setyawan ingat betul dua tahun yang lalu, gim Pokemon Go jadi fenomena baru yang ngetren hampir di seluruh belahan dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Gim yang menggunakan teknologi augmented reality (AR) ini mencandukan segala usia, baik anak-anak hingga orang tua. Mereka rela berburu pokemon yang terlihat nyata di layar gawai mereka berkat teknologi AR. Padahal sebenarnya menurut Ambar, teknologi AR ini sudah ada sejak 2012 lalu. Namun dari Pokemon Go inilah, inspirasi untuk mengembangkan produk serupa di dunia pendidikan mengemuka. Ide itu pun digodog bersama anggota komunitas Clenovio Nusantara dan diwujudkan dalam bentuk flascard.

“AR ini bisa diterapkan untuk bidang apapun. Di sisi lain, saya banyak baca artikel yang menyebut bidang pendidikan yang memanfaatkan teknologi atau disebut juga e-learning juga bakal berkembang pesat tahun-tahun ke depan,” katanya saat ditemui oleh Harian Jogja, Jumat (2/11).

Setelah dua kali mengikuti pameran pendidikan, ia tak menyangka ternyata banyak orang tua maupun anak-anak yang tertarik membeli produk yang menggabungkan antara pendidikan dengan teknologi ini. Ambar lantas menggandeng kawan-kawannya dari berbagai bidang, baik pendidikan, IT, maupun bisnis untuk menggarap ide ini dengan lebih serius. Melihat potensi Indonesia yang kaya akan keberagaman budaya, adat istiadat, bahasa, potensi alam, bangunan bersejarah, hingga flora dan fauna mulai dari ujung barat hingga timur, Ambar dan kawan-kawan pun berusaha mengangkatnya melalui produk yang lantas dinamai Clenovio Nusantara.

Ambar lantas mengeluarkan sekotak kartu dengan beragam gambar. Ia memilih satu kartu bergambar Tugu Jogja dan memindainya melalui aplikasi Clenovio lewat gawainya. Di layar gawai terpampang Tugu Jogja dalam wujud gambar 4 dimensi (4D). Tak hanya itu, ada keterangan audio tentang bangunan bersejarah di Jogja tersebut dan dilengkapi dengan keterangan berupa tulisan singkat. Ambar lantas beralih pada kartu lain bergambar batik dan melakukan hal yang sama. Menurutnya dengan model pembelajaran seperti ini, akan tercipta suasana belajar yang lebih interaktif dan menarik. Kini Ambar mengaku dari produk flashcard, kini telah berkembang menjadi kaos dan peta. Saat ini, flashcard Clenovio Nusantara bisa dipesan secara online di situs resmi www.clenovio.com dan juga tersedia di situs e-commerce. Selain itu ia dan timnya tengah mengembangkan teknologi virtual reality (VR) dan gabungan antara AR+VR. “Yang VR kami sudah punya yang berisi pembelajaran tentang anatomi gigi,” imbuhnya.

Meski sebenarnya teknologi ini bisa dikembangkan dalam bidang apapun, Ambar mengaku merasa terpanggil untuk mengembangkannya dalam dunia pendidikan. Pasalnya pembangunan dunia pendidikan Indonesia butuh banyak perhatian dari berbagai pihak. Termasuk para anak muda yang punya kelebihan di bidang teknologi. Di sisi lain, Co-Founder sekaligus CEO Clenovio ini sadar betul nantinya ia akan menjadi orang tua yang memiliki putra/putri. Jika tak ada kepedulian generasi muda untuk dunia pendidikan, maka tak menutup kemungkinan saat anaknya besar nanti Indonesia sudah tertinggal jauh dengan negara-negara lainnya.

Maka Ambar bersama timnya pun berusaha sebisa mungkin berkontribusi sekaligus berinvestasi dalam bidang ini. Keseriusan mereka pun terus dikembangkan dengan mematangkan tim baik di bidang pengembangan teknologi maupun bisnis. Ia berharap startup asli Kota Gudeg yang tergolong masih kecil ini mampu dilirik oleh investor agar terus dapat berkembang dan berinovasi. Ambar tak menampik untuk soal pengembangan teknologi, modal besar sangat diperlukan. Ia moncontohkan teknologi gabungan AR + VR yang tengah Clenovio kembangkan harus mengimpor alat dari Israel yang harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Setelah mendapatkan alat, mereka masih harus develop konten yang juga butuh waktu yang tak singkat. “Kami semua berharap niat mulia ini bisa terlaksana, ini mimpi kami ke depan. Tak hanya terbatas pada dunia pendidikan, semoga nantinya teknologi ini juga bisa dikembangkan lebih luas sehingga Jogja bisa menjadi smart city,” ujarnya sambil tersenyum.