Gejolak Global Gerus Optimisme Pebisnis

Gejolak Global Gerus Optimisme PebisnisPresiden Joko Widodo (tengah) berbincang dengan Menko Perekonomian Darmin Nasution (kiri) dan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono (kanan) saat pembukaan Indonesia Palm Oil Conference 2018 and 2019 Price Outlook (IPOC 2018) di Nusa Dua, Bali, Senin (29/10/2018). - ANTARA/Fikri Yusuf
06 November 2018 11:10 WIB Puput Ady Sukarno Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Optimisme pelaku bisnis pada kuartal III/2018 turun dibandingkan dengan kuartal sebelumnya dan berpotensi berlanjut pada kuartal berikutnya. Kondisi tersebut diduga sebagai imbas dari tekanan global. n

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada kuartal III/2018, Indeks Tendensi Bisnis (ITB) tercatat 108,05 atau turun dibandingkan dengan kuartal II/2018 sebesar 108,05. Adapun pada kuartal IV/2018 diperkirakan turun ke level 106,45.

Menurut komponen pembentuk perkiraan ITB pada kuartal IV/2018, order dari luar negeri mencatatkan posisi terendah yakni 102,12, sedangkan komponen order dari dalam negeri menduduki posisi tertinggi yakni 115,07.

Ekonom PT Bank Central Asia David Sumual menilai bahwa menurunnya tingkat optimisme pelaku bisnis di Tanah Air yang tercermin pada ITB kuartal III/2018 sebesar 108,05 lebih disebabkan oleh faktor eksternal.

David melihat bahwa meskipun ITB pada kuartal ketiga tahun ini lebih rendah dibandingkan dengan kuartal II/2018, tetapi kondisi saat ini masih relatif baik.

"Tapi mereka [pebisnis] khawatir, karena ini akibat dari kondisi eksternal yang masih banyak turbulensi yang pengaruhnya negatif ke rupiah, dan juga suku bunga yang memuncak. Itu mengapa indeks ekspektasinya sedikit menurun juga ke depan," tegasnya, Senin (5/11).

Namun demikian, dia melihat ke depan seharusnya masih ada pengaruh yang positif dari faktor musiman yang biasanya muncul pada kuartal IV/2018.

Menurutnya, sejumlah faktor musiman pada kuartal keempat yang dapat berkontribusi positif terhadap iklim bisnis itu antara lain Natal dan Tahun Baru.

"Jadi kalau saya melihat memang karena faktor eksternal, makanya pada kuartal IV/2018 pelaku usaha lebih banyak berharap pada order dalam negeri dari pada luar negeri," ujarnya.

David menilai bahwa pelaku usaha juga memang sudah tepat berharap banyak dari ekonomi domestik yang masih bagus karena daya beli masih baik, sehingga pelaku usaha berharap dari sektor konsumsi.

"Untuk konsumsi, mungkin momen kampanye pemilu juga bisa ada pengaruhnya nanti, selain dari faktor musiman seperti Natal dan Tahun Baru tadi," ujarnya.

Kepala BPS Suhariyanto menerangkan, komponen pembentuk ITB kuartal III/2018 meliputi penurunan pendapatan usaha dan penurunan penggunaan kapasitas usaha, meskipun pada rata-rata jumlah jam kerja mengalami peningkatan indeks.

Indeks pendapatan usaha menurun menjadi 111,36 dari sebelumnya 122,98. Kemudian untuk penggunaan kapasitas usaha juga menurun dari 114,60 menjadi 110,80, sedangkan untuk rata-rata jumlah jam kerja meningkat menjadi 102,00 dari sebelumnya 100,89.

Untuk proyeksi kuartal IV/2018, Suhariyanto menjelaskan, persepsi pebisnis masih tumbuh karena berada di atas 100. “Tapi tingkat optimismenya berkurang sedikit, diproyeksikan hanya sebesar 106,45," tutur Suharyanto.

Menurutnya, pada kuartal IV/2018 pebisnis berharap pada kondisi order dalam negeri dan harga jual produk yang masih bagus. Pasalnya, kata Suharyanto, jika ditilik berdasarkan komponen pembentuknya, order dari dalam negeri masih menempati indeks tertinggi yakni 115,07 dan juga harga jual produk sebesar 106,24.

"Sedangkan kalau untuk order dari luar negeri yang sebesar 102,12 memang tidak sebagus order dalam negeri. Para pebisnis menyadari pertumbuhan ekonomi di negara tujuan juga sedang mengalami perlambatan," ujarnya.

Konsumen

Sementara itu, terkait Indeks Tendensi Konsumen (ITK) pada kuartal III/2018 yang juga merosot signifikan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, David menilai kondisi tersebut dipicu oleh pelemahan rupiah dan juga adanya kebijakan PPh impor yang menyebabkan sejumlah barang impor mengalami kenaikan harga.

"Kalau indeks konsumen pada kuartal ketiga ini yang turun drop mungkin juga terkait dengan pelemahan rupiah. Itu kan banyak produk-produk kita yang harus diimpor itu pengaruh ke barang konsumsi," ujarnya.

Apalagi, lanjut David, belum lama ini pemerintah menerapkan kebijakan penaikan tarif pajak impor untuk sejumlah barang konsumsi tertentu, termasuk barang-barang mewah atau luxurious.

"Barang konsumsi tertentu ini kan dikenakan pajak impor yang lebih tinggi oleh pemerintah, nah itu bisa juga membuat sentimen konsumen melemah. Dari yang tadinya dia mau beli barang itu, tapi enggak jadi, karena harganya naikkan," ujarnya.

Kemarin, BPS juga merilis kondisi optimisme pengusaha atau pelaku bisnis di Tanah Air pada triwulan III/2018 mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya.

Pada bagian lain, Bank Indonesia (BI) juga merilis hasil Survei Konsumen pada Oktober 2018 yang menunjukkan bahwa optimisme konsumen tetap terjaga.

Hal tersebut terindikasi dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober 2018 yang tetap berada pada zona optimistis atau masih tetap di atas 100, yakni 119,2.

Namun demikian, apabila dibandingkan dengan IKK bulan sebelumnya yang mencapai sebesar 122,4, angka tersebut mengalami penurunan.

BI menilai, tetap terjaganya optimisme konsumen tersebut terutama ditopang oleh terjaganya ekspektasi terhadap kondisi ekonomi ke depan.

“Indeks Ekspektasi Konsumen [IEK] tetap tinggi, ditopang ekspektasi penghasilan pada 6 bulan mendatang,” tulis keterangan resmi BI, Senin (5/11).

Meski demikian, lebih rendahnya IKK terutama dipengaruhi oleh optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini yang cenderung menurun.

Penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) terdalam terjadi pada persepsi konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini.

Tekanan kenaikan harga pada 3 bulan mendatang diperkirakan sedikit menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya, didukung oleh persepsi positif konsumen terhadap ketersediaan barang dan jasa yang terjaga dan stabilnya harga BBM subsidi.

Hasil survei juga menunjukkan ekspektasi konsumen terhadap tekanan harga akan terus mengalami penurunan pada 6 dan 12 bulan mendatang, seiring dengan distribusi barang yang lancar dan meningkatnya ketersediaan barang, terutama kebutuhan pokok.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia