Investor Agar Lebih Konservatif di Tahun Babi Tanah

Investor Agar Lebih Konservatif di Tahun Babi TanahTransaksi asing di pasar obligasi dan saham sepanjang tahun 2018. - Bisnis/Tri Utomo
27 November 2018 13:10 WIB Tegar Arief Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Investor disarankan untuk lebih konservatif pada 2019, yang merupakan tahun Babi Tanah dalam kalander Tionghoa.

JAKARTA — Investor disarankan untuk lebih konservatif pada 2019, yang merupakan tahun Babi Tanah dalam kalander Tionghoa.

Yulius Fang, Principtal Consultant International Feng Shui Association, mengatakan bahwa 2019 merupakan Tahun Babi Tanah, yang mana babi memiliki elemen air besar dan akan bersanding dengan elemen tanah kecil.

Adanya konflik antara dua elemen ini menyebabkan dinamika bisnis tahun depan akan ditandai oleh sulitnya berpikir jernih dalam mengambil keputusan. Elemen air yang menguasai otak manusia akan cenderung terkontaminasi oleh elemen tanah sehingga seseorang cenderung menjadi kurang sabar atau mudah terhasut.

Sementara itu, elemen api yang menjadi karakter dari pasar saham memiliki peruntungan yang sedikit bagus pada semester pertama, tetapi medium pada semester kedua. Dia menyimpulkan, fluktuasi pasar yang terjadi pada tahun ini masih akan berlanjut tahun depan.

“Air akan mengontrol api, mematikan api. Jadi, aktivitas trading yang related pada unsur api akan terkena tantangan. Pasar saham akan sangat cenderung fluktuasi, khususnya pada kuartal I dan IV. Aliran uang akan mengetat,” katanya dalam acara Business Challenges 2019 yang diselenggarakan oleh Bisnis Indonesia, Senin (26/11).

Yulius mengatakan, berdasarkan opini pribadinya, sebaiknya investor mengalokasikan mayoritas investasinya tahun depan pada instrumen beresiko rendah, yakni 75% pada deposito, obligasi, atau properti. Cukup 25% yang dialokasikan pada saham, reksa dana atau unit link.

Dari segi peruntungan sektoral, dirinya menilai bisnis yang terkait elemen kayu akan mendulang untung, seperti tekstil, fasyen, medis, percetakan, buku, penerbitan, kertas, perhutanan, perkebunan, dan furniture.

Sementara itu, elemen api memiliki peruntungan bagus pada semester pertama, tetapi sedang pada semester kedua mencakup bisnis keuangan, pasar saham, hiburan, restoran, advertising, asuransi, kimia, energi, elektrik dan penerbangan.

Elemen yang akan kurang prospektif tahun depan yakni elemen air, yang mencakup bisnis tour and travel, transportasi, shipping, komunikasi, media massa, resort, bisnis jasa, IT, minuman, dan café.

Selanjutnya, elemen logam dan tanah memiliki peruntungan sedang. Logam mencakup bisnis otomotif, sparepart, alat-alat berat, perhiasan, mesin, money changer, hukum polik, perawatan kulit, salon, komputer, dan elektronik. Tanah mencakup properti, konstruksi, pertambangan, agrarian, bank, dan peternakan.

Secara makro, Tahun Babi Tanah akan menyebabkan kondisi ekonomi Indonesia secara umum melambat dengan tingkat pertumbuhan antara 5,0%—5,2%. Indonesia masih akan berada di posisi yang kurang aman di antara konflik global dan faktor domestik gelaran pemilu.

Potensi deflasi bisa muncul di tengah ekonomi yang melambat karena orang mencari aman dan berhati-hati. Potensi pengangguran yang bertambah juga harus diantisipasi. Kondisi pikiran yang keruh akan menyebabkan potensi demo buruh akan meningkat.

“Disarankan menggalakkan lebih banyak ekspor, memberikan lebih banyak insentif, meningkatkan ekonomi kreatif dan UKM,” katanya.

Konflik unsur air dan tanah yang menciptakan kekeruhan akan menyebabkan tahun 2019 ditandai banyak penipuan, manipulasi, pemalsuan, hoax, perlambatan, dan penundaan. Bencana terkait air dan tanah juga berpotensi terjadi, seperti badai dingin, banjir, gempa, dan longsor.

“Tahun ini agak kurang damai. Disarankan untuk lebih banyak bersabar dan toleransi,” katanya.

Secara global, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan melambat, atau tidak jauh berbeda dibandingkan tahun ini di kisaran 3,0% - 3,1%. Hal ini disebabkan kekhawatiran dan ketikdapastian pasar global, terutama perang dagang Amerika dan China.

Ekonomi Amerika Serikat diperkirakan akan sedang saja pertumbuhannya, antara 2,5% - 2,7%. Pasar saham Amerika juga diperkirakan akan mengalami fluktuasi pada kuartal I dan IV tahun depan dengan inflasi dan keuangan yang mengetat. Sementara itu, ekonom China diperkirakan juga melambat, tumbuh antara 6,3% - 6,5%.

Thendra Crisnanda, Kepala Riset Institusi MNC Sekuritas, mengatakan bahwa secara fundamental MNC Sekuritas menilai kondisi ekonomi tahun depan akan lebih banyak diwarnai oleh isu dan faktor domestik, khususnya faktor pemilu. Tekanan global diproyeksikan justru akan mereda.

Namun, dalam sejarahnya, umumnya kinerja pasar saham relatif positif selama periode 6 bulan sebelum pilpres, tetapi bervariasi pada periode 6 bulan setelahnya.

Secara umum, Thendra menilai fokus pada semester pertama tahun depan akan berkisar pada sektor konsumsi, infrastruktur dan pertambangan logam. Sementara itu, sektor yang direkomendasikan netral antara lain tambang batu bara, perkebunan, perbankan, otomotif, dan properti.

“MNC Sekuritas memproyeksikan skenario dengan probabilitas sebesar 60% untuk bull dan 40% untuk bear hingga semester pertama 2019,” katanya.

Sentimen-sentimen yang perlu diantisipasi yakni pengetatan moneter ECB, kenaikan tingkat inflasi domestik akibat kenaikan harga BBM pascapilpres, kekhawatiran atas strategi pembayaran serta besaran refinancing utang jatuh tempo Indonesia 2019, dan potensi kekhawatiran krisis 10 tahunan yang diestimasikan terjadi pada 2020.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia