Jika Perdebatan Dagang Tak Tuntas, Trump Ancam Kenakan Tarif pada Barang Tiongkok

Jika Perdebatan Dagang Tak Tuntas, Trump Ancam Kenakan Tarif pada Barang Tiongkok Presiden China Xi Jinping (kanan) berinteraksi dengan Presiden AS Donald Trump didampingi Melania Trump. (Reuters)
05 Desember 2018 13:17 WIB John Andhi Oktaveri Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Presiden Amerika Serikat (AS) Donald kembali memperingatkan akan mengenakan tarif pada mayoritas barang Tiongkok jika kedua pihak tak dapat menyelesaikan perdebatan, meskikup kedua negara melakukan ‘gencatan tarif’ dengan Tiongkok selama 90 hari.

Trump mengatakan tim penasihat perdagangannya dan Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer akan menentukan apakah 'kesepakatan nyata' dengan Beijing itu dimungkinkan.

"Jika ya, kami akan menyelesaikannya. Tapi kalau tidak ingat, saya adalah pria tarif," tulis Trump di sebuah unduhan di Twitter.

Ancaman perang perdagangan yang meningkat antara dua ekonomi terbesar di dunia telah membayangi pasar keuangan dan ekonomi global selama hampir sepanjang tahun. 'Gencatan tarif' yang disepakati oleh Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping akhir pekan lalu sempat membuat investor lega.

Akan tetapi, setelah perdagangan menguat pada Senin lalu, pasar melakukan aksi jual pada Selasa sebagai bentuk keraguan atas kesepakatan itu.
Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 3%, S&P 500 kehilangan 3,2% dan Nasdaq Composite jatuh 3,8%.

Trump muncul untuk mengatasi salah satu kekhawatiran dengan menunjukkan dia tidak akan menentang perpanjangan gencatan senjata 90 hari.

"Negosiasi dengan Tiongkok sudah dimulai. Kecuali diperpanjang, mereka akan berakhir 90 hari dari tanggal makan malam kami yang luar biasa dan hangat dengan Presiden Xi di Argentina," ujar Trump sebagaimaa dikutip CNN.com, Rabu (5/12/2018).

Sementara itu, Kementerian Perdagangan Tiongkok menyatakan bakal mengupayakan tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengakui keraguan investor atas hasil pembicaraan. "Pasar sedang mencoba untuk mencari tahu, apakah akan ada kesepakatan nyata pada akhir 90 hari atau tidak?," ujar Mnuchin.

Sumber : Bisnis.com