Inflasi Jogja Capai 0,46%, Liburan Akhir Tahun Bisa Picu Kenaikan

Inflasi Jogja Capai 0,46%, Liburan Akhir Tahun Bisa Picu Kenaikan Ilustrasi pedagang bawang merah - JIBI/Harian Jogja/Holy Kartika N.S
04 Desember 2018 22:30 WIB Holy Kartika Nurwigati Ekbis Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Kenaikan harga bawang merah mengerek inflasi Jogja pada November 2018 dengan pencapaian 0,46%. Inflasi tersebut membuat Jogja menempati urutan kedua sebagai daerah dengan inflasi bulanan yang lebih tinggi dari nasional yang tercatat hanya 0,27%.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY JB Priyono mengatakan inflasi Kota Jogja terjadi akibat naiknya indek kelompok bahan makanan sebesar 1,25%, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan naik 0,49%, serta kelompok sandang yang naik sebesar 0,57%.

"Andil terbesar yang mendorong inflasi November adalah komoditas bawang merah sebesar 0,08 persen," ujar Priyono dalam Berita Resmi Statistik di Kantor BPS DIY, Senin (3/12).

Komoditas bawang merah mengalami kenaikan harga mencapai 28,75%. Selain komoditas tersebut juga naiknya angkutan udara sebesar 3,50% dengan andil 0,05%, cabai merah dan telur ayam ras dengan kenaikan 16,03% dan 4,18% dengan andil 0,03%.

Priyono menambahkan beberapa komoditas menekan laju inflasi dengan penurunan harga. Antara lain terjadi pada komoditas bahan bakar rumah tangga, bawang putih, minyak goreng, semangka dan petai.

"Petai mengalami penurunan harga paling tinggi yakni sebesar 24,38 persen. Namun andil terbesar yakni turunnya harga bahan bakar rumah tangga andilnya 0,010 persen," imbuh Priyono.

Bank Indonesia menilai secara akumulatif inflasi sepanjang 2018 di DIY tercatat sebesar 2,08% year to date (ytd) dan laju inflasi tahunan sebesar 3%. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DIY Budi Hanoto mengatakan pencapaian tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan nasional sebesar 0,27% month to month (mtm).

"Apabila dibandingan dengan kondisi inflasi kota-kota di Pulau Jawa, Jogja menempati urutan kedua tertinggi setelah Kota Serang yang mengalami inflasi bulanan sebesar 0,47 persen," ungkap Budi.

Kondisi tersebut, kata dia, perlu diwaspadai, mengingat tekanan inflasi dapat berlangsung lebih tinggi sejalan dengan peningkatan permintaan saat libur akhir tahun. Budi menambahkan tekanan harga pada sejumlah komoditas kelompok strategis juga dapat menjadi faktor pendorong inflasi, terutama komoditas volatile food seperti bawang merah, telur ayam, cabai merah, beras dan daging ayam ras.

Selain itu, kenaikan harga pada komoditas beras, bawang merah dan aneka cabai juga terjadi seiring dengan berakhirnya panen raya dan masuknya musim tanam di beberapa wilayah sentra produksi. Sementara itu, kelompok administered price tercatat lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu 0,34% (mtm). Tekanan harga dari tarif angkutan udara dan komoditas bensin nonsubsidi menjadi penyumbang utama inflasi di November 2018.

"Penyelenggaraan event internasional di DIY maupun Borobudur mendongkrak kenaikan tarif angkutan udara akibat melonjaknya permintaan terhadap tiket transportasi baik udara maupun darat," jelas Budi.

Budi mengungkapkan guna mengantisipasi berlanjutnya tekanan inflasi ke depan, terdapat beberapa upaya pengendalian inflasi dari TPID DI. Antara lain melakukan sidak atau pemantauan harga dan pasokan di pasar tradisional, pasar modern serta distributor bersama dengan Satgas Pangan dan aparat keamanan untuk menjamin kelancaran suplai dan distribusi bahan pangan, melakukan operasi pasar komoditi lainnya serta operasi pasar beras.

"Dengan demikian diharapkan stabilisasi harga di daerah dapat terus terjaga dan sasaran inflasi 2018 sebesar 3,5%±1% (year on year/yoy) dapat tercapai," imbuh Budi.