Perekonomian DIY 2019 Diproyeksi Tumbuh Lampaui Target

Perekonomian DIY 2019 Diproyeksi Tumbuh Lampaui TargetIlustrasi pertumbuhan ekonomi. - IST
06 Desember 2018 07:30 WIB Holy Kartika Nurwigati Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Di tengah kondisi perekonomian global yang tengah tidak stabil, sejumlah tantangan harus siap dihadapi para penggerak ekonomi di DIY. Kendati demikian, pertumbuhan ekonomi pada 2019 mendatang secara optimis akan melampaui target.

Dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2018, dikemukakan sejumlah tantangan dan proyeksi pertumbuhan perekonomian DIY, maupun secara nasional. Acara yang digelar Bank Indonesia menggandeng Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY ini mengusung tema Sinergi untuk Ketahanan dan Pertumbuhan.

"Perekonomian nasional pada 2018 ini menghadapi berbagai tantangan, bahkan kondisi ekonomi global juga masih diliputi ketidakpastian. Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut hingga 2019 mendatang," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Auditorium Kampus 2 Gedung Thomas Aquinas Universitas Atma Jaya, Rabu (5/12).

Budi menjelaskan di tengah kondisi tersebut, perdagangan global kemungkinan besar volumenya akan mengalami penurunan. Disamping itu, harga-harga sejumlah komoditas global juga akan ikut terpengaruh turun.

Lebih lanjut Budi memaparkan apabila kondisi tersebut terus berlanjut, maka akan memengaruhi kinerja ekspor. Dampaknya, juga akan memengaruhi kinerja ekspor komoditas di daerah.

"Lalu apa yang perlu disikapi, tentu saja melalui peningkatan infrastruktur. DIY mulai melakukan dengan dibangunnya bandara baru yang lebih besar kapasitasnya. Selain itu, terpenting adalah menyiapkan sumber daya manusia yang harus memiliki kompetensi tinggi," jelas Budi.

Peranan sumber daya manusia (SDM) dalam menggerakkan perekonomian di daerah sangat penting. Budi mengungkapkan dengan adanya infrastruktur yang mulai dibangun, baik pembangunan bandara dan pemanfaatan teknologi di segala aspek, semestinya dapat ditopang dengan SDM yang bagus dan berkualitas.

"Dengan demikian, semua sektor bisnis yang ada di DIY nantinya bisa bergerak. Sedangkan dari sisi ekspor, harus ada terobosan dalam meningkatkan ekspor. Pasarnya jangan generik lagi, yakni Amerika Serikat dan Tiongkok. Pasar baru harus mulai dibidik, sehingga harapannya investasi akan meningkat," papar Budi.

Dalam pertemuan tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber antara lain Kepala Bappeda DIY Tavip Agus Rayanto, Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) DIY Buntoro dan akademisi Universitas Atma Jaya. Tavip mengungkapkan pembangunan infrastruktur yang dilakukan DIY di segala aspek akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah ini.

Lampaui Target

Tavip mengaku optimistis pada 2019, pertumbuhan ekonomi DIY akan melampaui target. Menurut dia, dari pengalaman pembangunan bandara di daerah lain, pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut biasanya akan tumbuh sekitar tujuh poin.

"Karena transportasinya, hotel atau akomodasi maupun pariwisatanya akan laku. Ada pergeseran dari ekonomi tradisional ke ekonomi yang lebih modern. Itu pengalaman dari beberapa daerah," ungkap Tavip.

Sejalan dengan proyeksi yang disampaikan Bank Indonesia tentang pertumbuhan ekonomi DIY, infrastruktur memberikan sumbangan yang cukup tinggi. Tavip mengatakan diproyeksikan pembangunan infrastruktur DIY akan menyumbang sekitar 6,2% terhadap produk domestik bruto (PDB). Padahal 2019, bandara baru Kulonprogo belum beroperasi 100%, pembangunan juga belum 100% selesai.

"Artinya, sudah ada banyak orang yang akan datang ke Jogja, sehingga di tengan pembangunan yang masih berjalan, investasi juga masih terus masuk. Saya yakin geliat ekonomi DIY akan lebih tinggi, karena DIY memang dominan di infrastruktur dan perdagangan," jelas Tavip.