Kasus Korupsi MBG Bergulir, Menkeu Siap Buka Data ke Penegak Hukum
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa siap berbagi data dengan penegak hukum terkait penyidikan dugaan korupsi Program MBG periode 2025–2026.
Kantor Bank Indonesia Jakarta. - Antara
Harianjogja.com, JAKARTA—Bank Indonesia (BI) mengungkap pelemahan nilai tukar rupiah hingga sempat menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) lebih banyak dipengaruhi tekanan global. Konflik geopolitik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran disebut menjadi salah satu faktor utama yang memicu gejolak di pasar keuangan dunia.
Pada perdagangan Rabu (13/5/2026), nilai tukar rupiah sempat dibuka di level Rp17.541 per dolar AS sebelum akhirnya menguat tipis dan ditutup pada posisi Rp17.474 per dolar AS. Pelemahan rupiah tersebut terjadi di tengah tekanan terhadap mata uang negara berkembang atau emerging markets lainnya.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan dinamika global saat ini memberikan tekanan besar terhadap pergerakan mata uang di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Menurut Ramdan, perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran tidak hanya memicu kenaikan harga minyak dunia hingga lebih dari 40 persen, tetapi juga mendorong kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun mendekati level 4,5 persen.
Kondisi tersebut membuat arus modal global bergerak ke aset yang dianggap lebih aman sehingga memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
"Nah, faktor global, dinamika global ini yang membuat mayoritas mata uang di dunia itu juga melemah, tidak hanya rupiah. Ada Filipina Peso, ada Thailand Baht, ada India Rupee, ada mata uang Amerika Selatan, Chile, Korea Won," jelasnya saat ditemui wartawan di kompleks perkantoran BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Permintaan Dolar Meningkat
Selain faktor global, BI juga mencatat adanya peningkatan permintaan dolar AS di dalam negeri akibat faktor musiman. Ramdan menjelaskan kebutuhan dolar meningkat karena musim haji, repatriasi dividen korporasi, serta pembayaran utang luar negeri.
Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin besar dalam beberapa waktu terakhir.
BI Siapkan Langkah Stabilkan Rupiah
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI disebut telah menyiapkan tujuh langkah strategis guna menahan pelemahan rupiah. Bank sentral optimistis langkah tersebut dapat menjaga stabilitas pasar keuangan dan mendorong penguatan rupiah ke depan.
"Karena kami meyakini fundamental ekonomi Indonesia itu sangat baik dibandingkan dengan negara-negara yang lain," tuturnya.
Ramdan menegaskan BI akan terus melakukan intervensi di pasar domestik maupun internasional untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Menurut dia, pengawasan pasar dilakukan secara berkelanjutan, termasuk ketika perdagangan di Indonesia telah ditutup dan transaksi berlanjut di pasar Eropa hingga Amerika Serikat.
"Jadi, begitu pasar Jakarta tutup, kami standby di pasar Eropa. Kami kemudian standby di pasar Amerika untuk menjaga bagaimana pergerakan nilai tukar rupiah yang kalau di luar negeri dipengaruhi oleh transaksi NDF itu tetap stabil," terang Ramdan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa siap berbagi data dengan penegak hukum terkait penyidikan dugaan korupsi Program MBG periode 2025–2026.
Gempa besar di Venezuela diperkirakan berdampak pada 6,7 juta orang. Kerusakan meluas, jutaan warga berpotensi mengungsi.
AirAsia hentikan rute langsung Jakarta–Singapura mulai Juli 2026. Penumpang harus transit dan waktu tempuh bisa lebih dari 10 jam.
Pemkab Gunungkidul kaji listrik tenaga surya untuk antisipasi mati lampu, PLTS di Puskesmas Paliyan terbukti hemat hingga 50%.
Momen haru Soekarno Run 2026 Solo, Ahmad Luthfi dorong putranya di ajang lari, kirim pesan kuat tentang inklusivitas.
Prabowo targetkan BUMN tinggal 250 perusahaan tanpa PHK. Perampingan berpotensi hemat hingga Rp50 triliun per tahun.