MSCI Ancam Downgrade, Saham Bank dan Tambang Berguguran
Foto ilustrasi perdagangan saham. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Saham perbankan berkapitalisasi besar atau big banks mengalami tekanan jual tajam pada perdagangan sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (16/10/2026). Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) terkoreksi hampir 14%, sementara saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) juga merosot.
Berdasarkan data RTI Business pada pukul 11.30 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 630,778 poin atau ke level 5.233,002. Sepanjang sesi pertama, indeks bergerak pada rentang 5.193,222 hingga 5.404,508 setelah dibuka di posisi 5.393,924.
Tekanan jual terjadi secara luas di pasar saham domestik. Sebanyak 771 saham melemah, hanya 14 saham menguat, sedangkan tiga saham lainnya stagnan.
Saham BBCA Anjlok Hampir 14%
BBCA mencatatkan nilai transaksi terbesar di antara saham yang diperdagangkan, yakni mencapai Rp5,3 triliun. Namun, harga saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut merosot 13,99% atau turun 850 poin ke level Rp5.225 per saham.
Pelemahan juga dialami saham bank pelat merah. BBRI turun 12,26% ke posisi Rp2.720 per saham dengan nilai transaksi Rp1,9 triliun. Sementara itu, BMRI terkoreksi 8,54% ke level Rp3.640 dengan nilai transaksi Rp1,4 triliun.
BACA JUGA
Saham BBNI turut tertekan dengan penurunan sebesar 10,85% ke posisi Rp3.040 per saham.
Koreksi tidak hanya terjadi pada sektor perbankan. Sejumlah saham berkapitalisasi besar dari sektor lain juga mengalami penurunan signifikan. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) melemah 11,66% ke level Rp1.970, sedangkan PT Astra International Tbk. (ASII) turun 9,62% ke posisi Rp4.320.
Di sektor teknologi, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) merosot 11,11% menjadi Rp24 per saham.
Saham Tambang Ikut Berguguran
Gelombang tekanan jual turut menyasar saham-saham pertambangan. PT Timah Tbk. (TINS) mencatatkan penurunan 14,87% ke level Rp3.550 per saham. Adapun saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) terkoreksi 12,37% ke posisi Rp2.620.
Penurunan dua digit juga dialami PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) yang melemah 10,84% menjadi Rp10.075 per saham. Saham PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) turun 10,28% ke level Rp2.880.
Sementara itu, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) terkoreksi 8,13% ke posisi Rp2.260 per saham. Saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) juga menyusut 7,82% menjadi Rp23.275.
Pelemahan lintas sektor tersebut terjadi ketika pasar modal Indonesia menghadapi perhatian investor global terhadap transparansi dan integritas perdagangan saham.
MSCI Pertanyakan Efektivitas Reformasi Pasar Modal
Koreksi tajam IHSG berlangsung setelah penyedia indeks global MSCI Inc. membuka konsultasi publik terkait usulan reklasifikasi Indeks MSCI Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market.
Wacana perubahan klasifikasi tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi posisi saham Indonesia dalam indeks global yang digunakan investor internasional sebagai salah satu acuan investasi.
Di tengah perkembangan tersebut, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan bahwa efektivitas pelaksanaan reformasi pasar modal menjadi salah satu hal yang dibahas dalam pertemuan dengan MSCI.
Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi mengatakan pertemuan itu melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Danantara, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, MSCI Inc., FTSE Russell, dan Moody's.
Menurut Iding, sebagian besar pertanyaan dalam pertemuan tersebut berkaitan dengan kebijakan fiskal dan moneter. MSCI juga menyoroti efektivitas kebijakan serta penegakan pelaksanaannya.
”Sebagian besar pertanyaan memang terkait dengan kebijakan fiskal dan moneter. MSCI waktu itu mempertanyakan mengenai efektivitas dan enforcement, gitu aja. Jadi tidak ada sinyal bahwa ini ada kemungkinan di standalone market,” kata Iding di BEI, Jumat.
Pernyataan tersebut disampaikan BEI saat menjelaskan pembahasan dalam pertemuan dengan sejumlah lembaga dan penyedia indeks global. Iding menegaskan tidak ada sinyal dari pertemuan itu yang menunjukkan kemungkinan Indonesia masuk kategori pasar mandiri atau Standalone Market.
Konsultasi MSCI Berlangsung hingga April 2027
Konsultasi publik mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar Indonesia dijadwalkan berlangsung hingga 30 April 2027. Pengumuman keputusan final ditargetkan paling lambat Juni 2027.
Hasil konsultasi tersebut akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan klasifikasi pasar modal Indonesia pada indeks global MSCI.
Bagi investor, perkembangan proses konsultasi ini menjadi salah satu hal yang perlu dicermati di tengah volatilitas pasar. Sementara itu, sorotan terhadap transparansi, integritas, serta efektivitas reformasi pasar modal menjadi bagian penting dari pembahasan mengenai posisi Indonesia di mata investor internasional.
Meski tekanan jual pada sesi pertama terlihat meluas, data perdagangan tersebut menggambarkan kondisi pasar hingga pukul 11.30 WIB pada Jumat (16/10/2026), bukan hasil akhir perdagangan sepanjang hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Share