Gas Mako Natuna Bakal Disalurkan 100 Persen untuk Kebutuhan Domestik

M. Ryan Hidayatullah
M. Ryan Hidayatullah Minggu, 01 November 2026 20:47 WIB
Gas Mako Natuna Bakal Disalurkan 100 Persen untuk Kebutuhan Domestik

Ilustrasi Proyek LNG Abadi, Blok Masela./YouTube Sekretariat Kabinet\r\n\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mempercepat pengembangan Lapangan Gas Mako di Wilayah Kerja (WK) Duyung, Natuna. Proyek lepas pantai tersebut ditargetkan rampung dalam dua tahun ke depan dengan kapasitas produksi mencapai 111 juta standar kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd).

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan produksi pipa sepanjang 80 kilometer (km) untuk mendukung proyek tersebut mulai dilakukan di Batam. Pipa yang diproduksi di dalam negeri itu akan digunakan untuk menyalurkan gas dari Lapangan Mako.

"Produksi pipa dalam negeri sepanjang 80 km untuk proyek Pengembangan Lapangan Gas Offshore WK Duyung Lapangan Mako Natuna, oleh Konsorsium KKKS West Natuna Exploration Ltd., Conrad [25%] dan PT Nation Natuna Barat [75%], hari ini mulai diproduksi di Batam," kata Djoko dalam keterangannya dikutip Minggu (1/11/2026).

Djoko menuturkan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek dijadwalkan berlangsung pada Desember 2026. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia direncanakan menghadiri agenda tersebut.

Pengembangan Lapangan Mako Libatkan Industri Dalam Negeri

Pengembangan Lapangan Mako mencakup pembangunan fasilitas produksi yang dikerjakan di sejumlah fasilitas industri dalam negeri. Pekerjaan tersebut melibatkan PT PAL Indonesia di Surabaya serta fasilitas produksi di Batam.

Dalam dua tahun mendatang, proyek akan melalui beberapa tahapan pekerjaan. Tahapan itu meliputi pengeboran sumur lepas pantai di Natuna, pembangunan fasilitas produksi, hingga pemasangan pipa bawah laut sepanjang 80 km.

Infrastruktur pipa tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung penyaluran gas dari Lapangan Mako menuju konsumen.

Seluruh Produksi Gas Mako untuk Pasar Domestik

Djoko menjelaskan, Lapangan Mako sebelumnya direncanakan memasok gas ke Singapura. Rencana itu berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur pipa dari Natuna yang sebelumnya hanya menghubungkan wilayah tersebut dengan Singapura.

Namun, rencana penyaluran berubah setelah pembangunan pipa West Natuna Transmission System (WNTS) yang menghubungkan Pulau Pemping dengan Batam selesai. Dengan tersedianya jalur tersebut dan persetujuan Menteri ESDM, seluruh produksi gas Lapangan Mako akan dialirkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Gas yang awalnya akan dialirkan ke Singapura karena hanya ada satu pipa dari Natuna ke Singapura, namun dengan selesainya pembangunan pipa WNTS Pulau Pemping-Batam dan atas persetujuan Bapak Menteri ESDM, maka akhirnya gas seluruhnya 100% dialirkan ke domestik," ujarnya.

Gas dari Lapangan Mako nantinya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan sektor kelistrikan di Batam dan wilayah sekitarnya. Keputusan tersebut diambil meskipun harga gas yang ditawarkan pasar Singapura disebut lebih tinggi dibandingkan harga di pasar domestik.

Menurut Djoko, kebijakan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya energi nasional untuk kebutuhan masyarakat Indonesia. Dia juga mengaitkan kebijakan itu dengan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.

"Atas persetujuan Bapak Menteri ESDM maka akhirnya gas seluruhnya 100% dialirkan ke domestik khususnya untuk kelistrikan di Batam dan sekitarnya, meskipun harga gas ke Singapura lebih tinggi, namun demi NKRI, demi Merah Putih, demi masyarakat Indonesia," tutur Djoko.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online