Timothy Ronald Masuk Daftar Pemegang Saham Tempo, Ini Nilainya

Ibad Durrohman
Ibad Durrohman Selasa, 03 November 2026 23:47 WIB
Timothy Ronald Masuk Daftar Pemegang Saham Tempo, Ini Nilainya

Foto ilustrasi perdagangan saham. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Nama influencer keuangan sekaligus investor muda Timothy Ronald kini masuk dalam jajaran pemegang saham PT Tempo Inti Media Tbk. (TMPO). Berdasarkan data kepemilikan saham Bursa Efek Indonesia (BEI) per 30 Oktober 2026, Timothy tercatat menguasai 13.373.100 saham atau setara dengan 1,26% dari total saham beredar perusahaan media tersebut.

Kepemilikan saham itu menjadi posisi baru Timothy sepanjang Oktober 2026. Sebab, pada bulan sebelumnya, namanya belum tercantum dalam daftar pemegang saham TMPO dengan kepemilikan di atas 1%.

Jika menggunakan acuan harga saham TMPO sebesar Rp234 per lembar, nilai kepemilikan Timothy diperkirakan mencapai Rp3,12 miliar. Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan harga pasar, bukan nilai transaksi pembelian saham yang sebenarnya.

Masuknya Timothy dalam daftar pemegang saham tersebut terjadi ketika saham TMPO mencatatkan penguatan signifikan di pasar modal. Pada perdagangan Selasa (3/11/2026), saham emiten media itu ditutup melesat 34,48% atau bertambah 60 poin ke level Rp234 per saham.

Dalam periode satu bulan perdagangan, saham TMPO juga tercatat menguat 34,48%. Sementara itu, secara year to date (YtD) sepanjang 2026, harga saham perusahaan tersebut telah meningkat 37,65%.

Lima Pemegang Saham Terbesar Tempo Inti Media

Berdasarkan daftar pemegang saham dengan kepemilikan di atas 5%, terdapat lima pihak yang menguasai porsi saham signifikan di PT Tempo Inti Media Tbk.

PT Jaya Raya Utama menempati posisi pertama sebagai pemegang saham terbesar dengan kepemilikan 28,42% atau setara 300,81 juta saham.

Di bawahnya terdapat Yayasan Tempo 21 Juni yang menggenggam 17,13% saham atau sebanyak 181,32 juta lembar. Selanjutnya, PT Grafiti Pers memiliki 12,14% saham dengan total kepemilikan mencapai 128,48 juta lembar.

Dua pemegang saham lainnya adalah Yayasan Pembangunan dan Yayasan Karyawan. Masing-masing menguasai 8,54% atau 90,43 juta saham serta 8,28% atau setara 87,63 juta saham.

Dengan demikian, Timothy Ronald menjadi salah satu pemegang saham yang tercatat memiliki lebih dari 1% saham perusahaan tersebut, meskipun porsinya masih berada di bawah lima pemegang saham utama.

Perjalanan Timothy Ronald Membangun Bisnis dari Usia Remaja

Nama Timothy Ronald dikenal di kalangan investor muda melalui aktivitasnya dalam edukasi keuangan dan investasi, terutama di sektor pasar saham serta aset kripto.

Sebelum membangun reputasi sebagai influencer keuangan, Timothy lebih dahulu merintis usaha sejak usia remaja. Bisnis pertamanya adalah menjual produk pomade atau minyak rambut impor yang dipasarkan melalui platform perdagangan elektronik.

Dalam wawancara bersama YouTuber Raditya Dika pada April 2021, Timothy mengungkapkan bahwa modal awal yang digunakannya untuk memulai usaha tersebut sekitar Rp2 juta. Dari aktivitas jual beli produk impor itu, dia mengaku mampu menghasilkan pendapatan Rp10 juta hingga Rp12 juta setiap bulan.

Pengalaman menjalankan bisnis tersebut kemudian memperkenalkannya pada dunia pemasaran digital dan copywriting. Timothy selanjutnya mendirikan agensi pemasaran yang menyasar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ketika berusia 19 tahun, agensi pemasaran yang dibangunnya telah memiliki sekitar 7 hingga 11 klien. Dari bisnis tersebut, Timothy mengklaim mampu memperoleh pendapatan hingga Rp50 juta per bulan.

Namun, perjalanan usahanya tidak selalu berjalan mulus. Pandemi Covid-19 pada 2020 memberikan dampak terhadap bisnis pemasaran yang dikelolanya karena sejumlah klien mengalami kesulitan keuangan. Kondisi itu turut menyebabkan pembayaran jasa pemasaran mengalami hambatan.

Di tengah situasi tersebut, Timothy mulai aktif memproduksi konten seputar keuangan dan investasi melalui media sosial, termasuk TikTok. Aktivitas pembuatan konten tersebut kemudian menjadi salah satu pintu masuk untuk mengembangkan bisnis edukasi finansial.

Mendirikan Ternak Uang dan Akademi Crypto

Pada 2020, Timothy bersama Raymond Chin dan Felicia Putri Tjiasaka mendirikan Ternak Uang. Platform tersebut dibangun dengan fokus pada edukasi keuangan dan investasi, terutama untuk generasi muda serta investor pemula.

Materi pembelajaran yang dikembangkan Ternak Uang mencakup berbagai aspek pasar modal. Mulai dari pengenalan investasi, analisis saham, pemahaman laporan keuangan, hingga pengelolaan portofolio.

Perkembangan platform tersebut juga terlihat dari jumlah penggunanya. Bisnis.com mencatat pada September 2021 Ternak Uang telah memiliki lebih dari 351.000 pengguna.

Pada periode tersebut, Ternak Uang turut mengembangkan program kelas investasi dengan menghadirkan sejumlah praktisi pasar modal sebagai mentor. Program ini menjadi bagian dari pengembangan layanan edukasi investasi yang ditawarkan kepada penggunanya.

Tidak berhenti di pasar saham, Timothy kemudian memperluas aktivitas bisnisnya ke sektor aset digital. Pada 2022, dia mendirikan Akademi Crypto yang berfokus pada pembelajaran teknologi blockchain dan investasi aset kripto.

Selain kedua bisnis edukasi tersebut, rekam jejak profesional Timothy juga mencakup sektor usaha lainnya.

Berdasarkan profil profesionalnya di LinkedIn, Timothy tercatat menjabat sebagai komisaris Holywings Group sejak 2024. Dia juga menjadi salah satu pemilik FLOQ, platform perdagangan aset kripto, sejak 2025.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online