KURS RUPIAH : Perlu Politik Dagang untuk Bertahan

KURS RUPIAH : Perlu Politik Dagang untuk BertahanIlustrasi pertanian kedelai. (Wahyu Darmawan/JIBI - Bisnis)
23 Maret 2015 21:40 WIB Ekbis Share :

Kurs rupiah yang melemah perlu disiasati dengan politik dagang.

Harianjogja.com, JOGJA-Dampak nilai tukar rupiah yang melemah dirasakan hampir di setiap lini, termasuk dari sektor ekspor mebel.

Pengusaha mebel di Kasongan, Kasihan, Sihono, mengaku mendapat kenaikan keuntungan hingga 25% dari sebelum rupiah melemah. Tapi, keuntungan itu ia dapatkan dari menaikkan harga mebel dari biasanya.

“Dulu kotak kayu [harga] Rp300.000 sekarang dijual Rp350.000 buat tamu [luar negeri]. Buat masyarakat lokal tetap Rp300.000. Kondisi seperti ini [rupiah melemah], politik dagang harus jalan,” ungkap bos Meubel Recycle Wismo Kriasto Sihono ini.

Jika ia tidak menaikkan harga untuk pembeli luar negeri, keuntungan yang diperoleh hanya sedikit. Sihono
mengaku heran dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Dulu ketika rupiah melemah, showroom-nya yang terletak di jalan utama Kasongan ramai dikunjungi pelanggan dari Jerman, Australia, Korea dan juga Amerika.

“Sekarang kondisinya justru kebalik. Rupiah melemah, tamunya sama saja. Makanya politik dagang harus jalan. Buat mereka [pembeli luar negeri], harga dinaikkan. Buat masyarakat lokal sendiri, harga tetap,” katanya lagi.

Berbeda dengan Suparno, seorang pengusaha mebel asal Kemasan, Sendangtirto, Berbah, Sleman. Meski dolar naik ia tampak santai-santai saja. Karena bahan baku kayu jati didapatkan dari lokal. Sementara hasil produksinya diekspor ke Singapura. Menurut dia, meski dolar naik tapi belum tentu memberikan keuntungan bagi eksportir. Harga jual atau nilai ekspor pun sama saja. Alasannya, karena nilai pemesanan barang yang akan dikirim ke luar negeri menyesuaikan dengan kesepakatan harga beberapa bulan sebelumnya.

"Kalau saya harga sudah ditentukan di awal pesan, kami membuat selesai lalu dikirim. Jadi mau berapapun
dolarnya saat ini saya terima sesuai kesepakatan awal. Intinya masih amanlah daripada perajin tempe," ujar pria yang banyak memberdayakan warga miskin di mebelnya ini.

Dalam sebulan ia mengirim barang seperti tempat tidur, meja kursi dan produk lainterbuat dari kayu jati. Kualitas kayu yang digunakan yaitu kayu jati lama. Karena jika menggunakan jati yang baru dapat mempengaruhi kualitas karena mengandung air. Sementara proses kirim melalui kontainer yang minim udara. Adapun pengiriman dilakukan satu hingga dua kali. Dengan nilai nominal minimal Rp60 Juta perbulannya. Kini Suparno tengah membidik pasar Amerika Serikat dengan menunggu kesepakatan harga.