EKONOMI KREATIF : Iseng Berbuah Untung

EKONOMI KREATIF : Iseng Berbuah Untung Laila Fathimah tengah merangkai bros-bros sebelum dipasarkan secara online, Sabtu (23/5/2015). (JIBI/Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah)
25 Mei 2015 21:20 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Ekonomi kreatif pembuatan bros sederhana hanya perlu waktu lima menit, untuk yang rumit hingga tiga jam.

Harianjogja.com, JOGJA—Berawal dari keisengan, Laila Fathimah mampu meraup keuntungan dari membuat bros. Ayla Bros bahkan sudah dipasarkan hampir ke seluruh wilayah Indonesia.

Laila bercerita, ia memulai usaha pada 2013 silam. Awalnya penggemar bros ini iseng membuat untuk dia kenakan sendiri. Ketika dipakai di tempat kerja, banyak rekan kerjanya yang ingin memiliki bros serupa.

“Karena banyak yang berminat, saya mulai menjualnya. Ternyata laku,” ujar dia kepada Harian Jogja di Rumah Produksi Ayla Bros Handmade, Jalan Brigjend Katamso No.222, Jogja, Sabtu (23/5).
Sampai saat ini, sudah ada lebih dari 100 model bros yang dia buat. Inspirasi bentuk didapat spontan dan dari melihat beragam bentuk kreasi dalam keseharian.

“Terkadang begitu bangun tidur mendapatkan ide baru, tapi banyak juga model melayani permintaan konsumen,” terangnya.

Perempuan kelahiran 1987 itu, memasarkan brosnya secara online mulai 2014. Pemesanan pun hampir merata di semua provinsi yang ada di Indonesia. Ia melayani berapa pun jumlah pemesanan.
Meskipun pelanggan hanya memesan satu bros, Laila tetap melayani.

Untuk bahan bros, Laila menggunakan kain sifon, organdi, satin, berbagai macam jenis pita, renda, mutiara KW 1, CJI, kristal sv China, dan bulu. Ia memastikan setiap karya yang dibuat sangat rapi. Untuk itu, ia meminta ketiga karyawannya untuk membuat bagian-bagian bros dengan rapi. Untuk proses penyatuannya, ditangani oleh Laila sendiri untuk memastikan kerapian bentuk. Lama pengerjaan sebuah bros berbeda-beda.

Untuk bentuk sederhana, hanya diperlukan waktu lima menit. Namun, untuk bros yang rumit, diperlukan waktu hingga tiga jam.

“Saya harus menjaga kepuasan pembeli. Itu jadi nilai lebih selain mereka bisa memesan sendiri modelnya,” lanjut dia.

Ia pun memastikan bros buatannya kuat. Untuk itu, ia tidak takut untuk terus melakukan beberapa perubahan. Misalnya, dengan mengganti peniti dari besi menjadi dari fiber plastik. Alasannya, peniti fiber plastik lebih kuat merekat sehingga tidak mudah lepas.

Selain itu, sebelum memasang mutiara KW 1, ia memastikan lem tembak benar-benar panas. “Kalau tidak panas banget, maka cepat lepas,” jelas dia. Ia memproduksi bros sekitar 20 lusin setiap bulannya.

Tingkat Kerumitan
Rentang harganya pun bermacam-macam tergantung dari tingkat kerumitan. Rentang harga
yang dipatok yakni Rp5.000 hingga Rp45.000. Namun, untuk pemesanan khusus misalnya untuk pernikahan dan foto model, ada harga yang dipatok sendiri tergantung dari kerumitan.

“Omzet setiap bulan rata-rata Rp4 juta hingga Rp5 juta,” ujar dia.

Laila menyadari, banyak produk pesaing di pasaran. Namun, dengan mempertahankan kualitas, ia yakin bisa bertahan. Konsistensi, kerja keras, dan restu orang tua menjadi kunci keberhasilannya. Rencananya, ia akan menambah lagi pekerja dan akan membuat outlet di Jogja pada 2016.