INVESTASI YOGYAKARTA : Sultan: Lebih Baik Resmikan Toko Kelontong

INVESTASI YOGYAKARTA : Sultan: Lebih Baik Resmikan Toko Kelontong
29 Mei 2015 03:20 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Investasi Yogyakarta diharapkan datang dari pengusaha lokal.

Harianjogja.com, SLEMAN-Pemerintah DIY mendorong pengusaha lokal untuk melakukan investasi di DIY.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengungkapkan, pemerintah memiliki impian untuk menekan investor investor dari luar DIY. Pihaknya berharap, investor yang menguasai perekonomian DIY merupakan investor dari DIY sendiri. Bahkan, ia mengaku lebih senang jika meresmikan toko kelontong milik warga DIY ketimbang perusahaan lain yang dimiliki investor dari luar DIY.

“Mending toko kelontong diresmikan daripada hotel yang dimiliki 100% oleh orang luar Jogja karena untungnya ga untuk Jogja,” ungkap dia di Jogja City Mall, Sleman, Rabu (27/5/2015).

Ia mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi DIY 5,2%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 5,4% untuk 2014. Untuk itu, keberadaan investor dinilai sangat penting meskipun nantinya akan menimbulkan kontroversi dan perubahan fisik DIY.

Pengusaha harus bisa menarik investasi untuk menumbuhkan lapangan pekerjaan. Investasi yang dilakukan harus dari warga lokal. Ia mengungkapkan, investor dari luar DIY pada awalnya terlihat mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, ketika usaha sudah berjalan, investor hanya akan menanggung cost lokal seperti membayar upah tenaga kerja. Keuntungan yang didapat akan dibawa ke luar DIY.

“Tapi, kalau investor pengusaha lokal, keuntungannya akan kembali ke DIY juga. Siapa pun pengusaha lokal yang akan investasi pasti akan didukung,” ujar dia.

Ia mengungkapkan, jika pengusaha lokal tidak mampu untuk maju sendiri, maka bisa dilakukan bersama-sama karena kebersamaan merupakan karakter kultur masyarakat. Jika ada kesulitan, Sri Sultan HB X pun bersedia mendengarkan keluh kesah. Pengusaha lokal diimbau untuk tidak memendam permasalahan sendiri.

“Wong investor luar saja kalau ada masalah ngomong sama saya. Mosok yang di Jogja ga ngomong,” imbuh dia.

Sri Sultan HB X menjelaskan, pada 2014, simpanan di perbankan di DIY yang berasal dari perusahaan lokal dan kembali untuk investasi di DIY hanya 36%. Nilai tersebut, jika dihitung-hitung sekitar Rp80 triliun hingga Rp90 triliun. Jumlah tersebut dinilai sangat kecil dibandingkan dengan simpanan dari perusahaan luar DIY di perbankan yang digunakan untuk investasi keluar DIY.

Gubernur juga mendorong untuk mendorong kemajuan UMKM. Fakta di lapangan, pelaku UMKM sering memberikan talangan modal kepada pengusaha besar dengan menyetorkan barang dan dibayar ketika barang tersebut laku. Artinya, lanjut dia, cash flow UMKM macet.

“Kalau seperti itu kami akan bantu agar cash flow bisa jalan. Dg cara seperti itu [cash flow jalan] bisa tingkatkan produk lokal dalam konteks pasar bebas Asean,” ujar dia.

Ketua PHRI DIY Istidjab M Danunagoro mengatakan, ada 80 hotel berbintang dengan 8.500 kamar di DIY. Sementara, untuk hotel non-bintang di DIY terdapat 1.100 hotel non-bintang dengan 13.000 kamar. Sementara, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) DIY tercatat, sampai Februari 2015 ada 78 hotel bintang yang aktif. Sementara, untuk hotel non bintang dan akomodasi lain tercatat 1.071 unit.

Untuk keberadaan toko modern, Kepala Disperindagkop DIY Riadi Ida Bagus SS Di DIY mengungkapkan, ada sekitar 640 toko modern yang beroperasi di DIY. Toko tersebut sudah termasuk toko berjejaring, ataupun toko modern milik pribadi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Bambang Kristianto mengungkapkan, pertumbuhan Industri Mikro Kecil (IMK) DIY selama triwulan I mengalami pertumbuhan negatif sebesar -0,40% terhadap triwulan IV 2014 (q-to-q). Pertumbuhan pada triwulan I 2015 ini berbanding terbalik dengan angka pertumbuhan produksi mikro kecil di tingkat nasional yang mengalami pertumbuhan positif sebesar 0,64%.

Sementara, pertumbuhan produksi IKM DIY triwulan I 2015 terhadap triwulan I 2014 (y-o-y) juga mengalami pertumbuhan negatif sebesar -2,09%. Angka pertumbuhan produksi IMK triwulan I 2015 (y-o-y) di DIY tidak sejalan dengan angka pertumbuhan produksi IMK di tingkat nasional yang mengalami pertumbuhan positif sebesar 5,65%.