Advertisement
Warganet Ribut Soal Harga Pertamax Naik, Bagaimana Penjualan BBK Ini?
SPBU Pertamina. Ilustrasi - Solopos/Nicolous Irawan
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Dampak kenaikan harga Pertamax di wilayah DIY dan Jawa Tengah dari Rp8.900 menjadi Rp9.500 pada awal Juli ini tak begitu terasa di lapangan. Konsumsi masyarakat akan harga bahan bakar khusus (BBK) ini tercatat masih stabil.
Ketua Hiswana Migas DIY Siswanto mengakui dampak kenaikan harga Pertamax tak begitu terasa di lapangan. Hal itu terlihat dari jumlah konsumsi harian bahan bakar Pertamax di SPBU yang tak berubah. Ia menyebut jumlah konsumsi stagnan. Jika ada penurunan tidak mencapai angka 1% sejak kebijakan tersebut diterapkan pada 1 Juli lalu. Artinya kenaikan harga ini, tak lantas membuat konsumen Pertamax beralih ke jenis bahan bakar lain seperti Pertalite yang harganya lebih murah.
Advertisement
"Misalnya SPBU yang kebutuhan konsumsi hariannya tiga ton Pertamax, sekarang tetap segitu. Saya lihat seluruh SPBU yang totalnya berjumlah 106 begitu, stagnan konsumsinya," katanya kepada Harian Jogja, Senin (9/7).
Siswanto menuturkan hal itu disebabkan segmen konsumen Pertamax yang menyasar masyarakat kelas menengah ke atas. Konsumen BBK ini merupakan masyarakat yang secara finansial sudah stabil sehingga kenaikan harga Pertamax dianggap tak begitu memengaruhi keuangan mereka. Maka dengan adanya kenaikan harga ini, mereka tak lantas beralih mengonsumsi bahan bakar jenis lain untuk kendaraannya.
BACA JUGA
Apalagi Siswanto menganggap dengan tingkat kemampuan finansial konsumen Pertamax, mereka lebih mengutamakan kualitas dibandingkan harga. Mereka memilih bahan bakar yang pengaruhnya lebih baik kepada mesin kendaraan mereka meskipun harganya lebih mahal. Belum lagi soal tarikan mesin yang lebih halus jika menggunakan Pertamax. "Intinya konsumen sekarang makin cerdas. Mereka akan membeli bahan bakar sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing, tidak terpengaruh dengan naik turunnya harga," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, penyesuaian harga bahan bakar jenis Pertamax Series dan Dex Series sejak awal Juli merupakan dampak dari harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik. Tercatat saat ini, harga minyak dunia mencapai US$75 [Rp1,073 juta] per barel. Padahal Indonesia merupakan negara pengimpor minyak. Bahan baku BBM juga merupakan minyak mentah. Maka ketika harga minyak dunia naik tentu akan diikuti kenaikan BBM.
Apalagi kini permintaan akan minyak cenderung terus meningkat, karena pertumbuhan ekonomi masyarakat yang kian membaik. Hal itu mengakibatkan tidak seimbangnya antara suplai minyak mentah dan permintaan. Mau tak mau, pemerintah pun harus menyesuaikan dengan hal itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- LPS: Bank Syariah Kini Lebih Kompetitif dari Bank Konvensional
- Ancaman Siber Naik Tajam, OJK Minta Nasabah Jadi Benteng Pertama
- Eh, Ada Diskon 30 Persen Tiket Kereta Api untuk Lebaran, Ini Daftarnya
- BPOM Sita 41 Obat Herbal Ilegal Mengandung Bahan Kimia Obat
- Buyback Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian Turun Serempak
Advertisement
Kasus Pelecehan Siswi SLB Jogja Naik ke Penyidikan, Korban Trauma
Advertisement
Nawang Senja Jadi Spot Ngabuburit Favorit di Pantai Glagah
Advertisement
Berita Populer
- Arab Saudi Larang Impor Unggas Indonesia
- Bulog Pastikan Harga Beras dan Minyakita di DIY Stabil Jelang Lebaran
- Harga Emas Pegadaian 26 Februari 2026 Turun, UBS Rp3.082.000
- ART Indonesia-AS Resmi Berlaku, 1.819 Produk Tarif 0 Persen
- Rupiah Menguat ke Rp16.744 per Dolar AS, Dipicu Kebijakan Tarif Trump
- 105.000 Pikap Kopdes Merah Putih dari India Mulai Disalurkan
Advertisement
Advertisement







