Waspada, WHO Tetapkan Ebola Kongo-Uganda Darurat Kesehatan Global
WHO menetapkan wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan global akibat risiko penyebaran lintas negara.
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi./IST
Harianjogja.com, SEMARANG—Defisit neraca perdagangan di Jawa Tengah (Jateng) melebar karena banyaknya barang impor ketimbang ekspor. Neraca perdagangan di Jateng mencapai US$5.343,28 sepanjang Januari sampai Agustus 2018. Sedangkan Agustus saja defisit neraca perdagangan mencapai US$973,18.
Kepala Bidang Statistik dan Distribusi BPS Provinsi Jateng Sri Herawati menuturkan defisit neraca perdagangan memang cukup lebar. Hal ini dikarenakan ketergantungan industri Jateng akan bahan baku luar negeri cukup tinggi. "Ketergantungan para pelaku industri di Jateng memang cukup tinggi terutama bahan baku tekstil, produk mineral dan pesawat mekanik. Sehingga defisit neraca perdagangan melebar," kata Sri Senin (17/9/2018).
Sri mengatakan penyebab defisit sebagian besar disumbangkan oleh produk migas yakni 60%, sementara sisanya disumbang oleh bahan baku industri. Untuk itu, pemerintah sedang memikirkan membuat bahan baku subtitusi untuk menekan angka impor.
Disisi lain sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jateng Arif Sambodo meyakini dalam waktu lima tahun para pelaku usaha tidak usah melakukan impor. Sebab, bahan baku seluruhnya akan diproduksi dalam negeri agar angka impor semakin tertekan.
"Kalau pertumbuhan industri tumbuh terus meskipun tidak sampai angka 1 persen tumbuh menggeliat. Targetnya dalam lima tahun ke depan. Saya bisa bilang lima tahun ke depan karena dari otomotif itu menginginkan kandungan lokal pada 2020 sebanyak 90 persen bisa lokal. Kalau begitu dalam lima tahun ke depan industri substitusi impor mungkin tidak yang berat atau high tech dulu, yang medium bisa menggantikan yang dari impor," ujarnya.
Arif menuturkan khusus untuk industri tekstil sebenarnya sudah bisa menggunakan bahan baku asli Indonesia. Namun, masih ada beberapa perusahaan tekstil yang mengimpor bahan baku dari luar negeri. Untuk itu, dia mendorong para pengusaha untuk menggunakan produk lokal.
"Untuk tekstil itu kebanyakan yang tinggi dari kapas dan sebagainya. Ada beberapa perusahaan seperti yang di Kabupaten Sukoharjo itu mulai dari pemintalan sampai garmen mereka sudah produksi, tapi beberapa masih impor. Kalau bisa kita dorong mulai dari hulu, mungkin dari kapasnya tidak bisa karena masalah geografis, tapi untuk memintakan dan mewarnai bisa dilakukan di dalam negeri," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis Indonesia
WHO menetapkan wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan global akibat risiko penyebaran lintas negara.
Harga sembako Banyumas jelang Iduladha 2026 masih stabil. Harga sapi dan domba naik, namun stok pangan dipastikan tetap aman.
BMKG DIY memperingatkan potensi El Nino 2026 yang memicu musim kemarau lebih kering dan risiko kekeringan ekstrem mulai Juli hingga Oktober.
Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) menyelenggarakan SV Career Days UGM 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM mulai Kamis (21/5/2026)
Gapasdap mengungkap 7 kapal tenggelam di Gilimanuk diduga akibat truk ODOL. Pelanggaran muatan berlebih kini ancam keselamatan pelayaran.
JMS 2026 mempertemukan ratusan media lokal Jawa Tengah untuk menyusun strategi menghadapi disrupsi digital dan tantangan AI.