Advertisement

Rupiah Dekati Level Asumsi Pemerintah

Mutiara Nabila
Selasa, 27 November 2018 - 10:10 WIB
Laila Rochmatin
Rupiah Dekati Level Asumsi Pemerintah Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat Rp15.043 pada 2 Oktober 2018. - Bisnis/Radityo Eko

Advertisement

harianjogja.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah mendekati posisi target kurs yang ditetapkan pemerintah Rp14.400 dalam asumsi Rancangan Anggaran dan Belanja Negara 2019. Apresiasi kali ini terdorong sentimen global seperti isu kenaikan suku bunga The Fed dan KTT Brexit.

Pada penutupan perdagangan Senin (26/11), kurs rupiah menguat 69 poin atau 0,47% menjadi Rp14.475 per dolar AS ketika kurs Paman Sam tergelincir.

Sementara itu, pelemahan dolar AS terjadi lantaran mendapat komentar dovish dari Bank Sentral AS, Federal Reserve, terkait dengan kenaikan suku bunga yang direncanakan diterapkan pada Desember mendatang.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa pelemahan dolar AS terpengaruh nada penuh kehati-hatian dari The Fed pada Rapat Dewan Moneter (FOMC) ditambah dengan perkembangan pembahasan Brexit yang positif.

“Faktor utama yang mendorong rupiah saat ini adalah Konferensi Tingkat Tinggi Brexit antara Inggris dan Uni Eropa yang cukup bagus,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Senin (26/11).

Dalam pertemuan Parlemen Inggris, kemungkinan hasil KTT Uni Eropa bakal menjadi bahasan utama. Hal itu cukup positif dan menegaskan bahwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada April 2019 kemungkinan mendapat dukungan pasar.

Dilansir Reuters, dolar AS melemah tertekan mata uang euro yang menguat setelah Uni Eropa dan Inggris menyetujui kesepakatan Brexit dan tanda-tanda bahwa Italia bersedia untuk mencapai kompromi atas rencana anggaranya.

Namun, saat ini pasar dinilai lebih fokus kepada pergerakan politik di Uni Eropa dan Inggris, serta Italia. Masalah di Italia dengan Uni Eropa terkait dengan revisi anggaran belanja telah memberikan efek positif bagi mata uang Italia dan membuat dolar AS yang menjadi lawan euro mengalami pelemahan.

Adapun, Bank Sentral Eropa (ECB) pada pekan ini rencananya melakukan pertemuan untuk membahas pelonggaran kuantitatif atau kebijakan non-moneter konvensional terkait dengan perlambatan ekonomi global.

Advertisement

Pada perkembangan lain, pertemuan G20 di Buenos Aires 30 November menjadi agenda pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping untuk membahas perang dagang.

Apabila dalam pertemuan tesebut tidak ada kesepakatan, maka kemungkinan besar AS akan melanjutkan tarif senilai US$257 miliar kepada China. “Artinya [rupiah] masih dalam tahap adem ayem untuk pekan ini. Pembicaraan perang dagang baru akan memberikan gejolak pada pekan depan.”

Ibrahim menilai apa yang dilakukan oleh AS menjadi upaya untuk mempertahankan harga diri sehingga bakal terus berupaya menggulirkan tarif baru untuk menekan China pada awal Desember.

Advertisement

Hanya saja, dampak perang dagang kemungkinan baru bergejolak pada pekan depan. Hal itu dinilai bagus karena pasar tidak lagi hanya fokus pada kenaikan suku bunga The Fed dan perang dagang.

“Seandainya masih fokus ke sana, harusnya rupiah sudah melemah dari kemarin-kemarin. Melihat bahwa rupiah di pekan ini cukup kukuh, jadi kemungkinan target pemerintah Rp14.400 per dolar AS bisa tercapai di November ini,” ujarnya.

Proyeksinya, pada pekan ini mata uang Garuda bisa menguat ke Rp14.410 dan kemungkinan bisa melemah kembali mencapai Rp14.551 karena antisipasi pernyataan The Fed dan perang dagang.

Harga Minyak

Advertisement

Pergerakan nilai tukar rupiah melejit setelah sempat melemah 14 poin ke level Rp14.558 pada saat perdagangan lantaran harga minyak mentah dunia mengalami pelemahan tajam.

Pada sesi perdagangan siang, pergerakan kurs rupiah ke posisi penguatan setelah harga minyak mentah mengalami pelemahan ke level terendah selama satu tahun terakhir.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,73 poin atau 1,45% menjadi US$51,15 per barel dan mencatatkan penurunan hingga 15,34% secara year-to-date (ytd). Minyak Brent menguat 1,10 poin atau 1,87% menjadi US$59,90 per barel dan turun 10,42% ytd.

Advertisement

Meskipun mengalami kenaikan, harga tersebut masih menjadi yang terendah sepanjang tahun ini dan mencatatkan penurunan lebih dari 20% dari puncaknya pada posisi masing-masing US$75 dan US$85 per barel September lalu.

Analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar menuturkan bahwa kondisi tersebut direspons cukup positif oleh pelaku pasar domestik.

“Mengingat impor minyak menjadi komponen terbesar yang menyeret defisit transaksi berjalan domestik melebar,” tambahnya.

Penguatan rupiah memimpin perbaikan nilai tukar di Asia. Mengekor apresiasi rupiah, baht Thailand menguat 0,23%, disusul peso Filipina yang menguat 0,21, renminbi China dan won Korea Selatan terapresiasi 0,13% serta dolar Singapura dan bath Thailand dengan penguatan 0,12%.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Imperial Digital Printing, Jasa Percetakan Terlengkap di Jogja

Jogja
| Selasa, 27 September 2022, 22:57 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement