Kado Dari Kertas ala Craftisserie

Kado Dari Kertas ala CraftisseriePemilik Craftisserie, Amelia Karina JaFar menunjukkan sebagian produknya belum lama ini. - Ist
15 Desember 2018 12:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJAMomen wisuda seringkali dirayakan dengan gempita. Jika memiliki kawan yang berhasil melampaui tahap ini, jauh-jauh hari kita tentu akan memikirkan kado apa yang tepat diberikan. Tak heran makin banyak jenis kado yang bisa dipilih, salah satunya paper quiling.

Momen wisuda jadi salah satu agenda yang ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa, tak luput pula penjual bunga dan suvenir. Tak heran kala wisuda, banyak penjual bunga maupun suvenir berupa boneka berjejalan di pelataran auditorium kampus. Namun kini, suvenir yang bisa dipilih makin beragam. Tak terbatas pada bunga dan boneka, tanaman imut seperti kaktus dan paper quiling yang cantik dan menarik pun bisa jadi kado yang berbeda. Salah satu yang menekuni bisnis ini ialah Amelia Karina Ja'far melalui produknya Craftisserie.

Ame, sapaannya, memulai usaha kerajinan berbahan dasar kertas ini pada 2016 lalu. Usaha ini bermula dari keinginan Ame membuat kado untuk kakaknya yang akan melangsungkan pernikahan. Memiliki hobi membuat prakarya, ia pun terinspirasi dari kreasi buatan tangan yang sering dilihatnya di media sosial Pinterest. Bahan dari kertas warna warni yang sederhana bisa disulap menjadi sebuah hiasan yang indah. "Dari itulah jadi ingin buka usaha," ujarnya kepada Harian Jogja pekan lalu.

Ame pun memulai dengan memproduksi pop up frame untuk suvenir. Sempat vakum menjalankan usaha karena harus menempuh KKN dan mengerjakan skripsi, Ame kembali melanjutkan usahanya dengan fokus pada produk paper quiling. Menurutnya, membuat kerajinan dari paper quiling susah susah gampang karena kompleksitasnya. Ia harus membuat pola nama pemesan dan kemudian ditempelkan dalam bingkai.

Kertas jenis buffalo 150 gsm dan hvs 80 gsm lalu digulung agar sesuai dengan pola yang sudah ditentukan. Karena harus telaten, Ame mengaku membutuhkan waktu selama empat puluh menit untuk membuat pola namanya saja. Setelah nama jadi, sekeliling pola nama dihias dengan gulungan kertas yang lain dengan berbagai warna. Pada awalnya, urusan potong memotong kertas jadi kendala tersendiri bagi Ame. Pasalnya ia harus memotongi kertas satu persatu sesuai ukuran secara manual. Namun kini ada mesin pemotong kertas otomatis yang memudahkan perkerjaannya.

Pola nama seringkali digunakan karena menurut Ame, pemesan Craftisserie biasanya membelinya sebagai kado. Nama yang akan diberi kado wajib dicantumkan pada paper quiling tersebut tetapi ada pula yang membeli untuk digunakan sebagai hiasan rumah (home decor) seperti yang kini marak di Instagram. "Mayoritas yang pesan cewek untuk kado wisuda dan pernikahan," ucapnya.

Harga produknya yang terjangkau memang sangat cocok di kantong mahasiswa. Hanya dengan membayar Rp100.000 hingga Rp300.000 per bingkai paper quilling yang dibuatnya, konsumen bisa menghadiahkan kado yang menarik untuk dijadikan pajangan. Penentuan harga ini menurut Ame disesuaikan dengan ukuran bingkai, jumlah huruf pada nama, dan juga kerumitan desain.

Memasarkan produknya hanya melalui media sosial Instagram, Ame menuturkan sudah mendapatkan omzet yang lumayan, yakni sekitar Rp3 juta per bulan. Pemesannya pun banyak yang berasal dari luar kota seperti Jakarta. Ame melalui produknya Craftisserie juga pernah diundang untuk berbagi tentang bisnis kreatifnya di stasiun televisi nasional. Meski demikian, Ame menyebut masih menimbang-nimbang untuk menggunakan media promosi seperti situs marketplace lain. "Meski sudah dibantu beberapa tenaga, masih terbatas waktu dan tenaga kalau mengerjakan banyak produksi," tuturnya. Meski masih terus mengembangkan usahanya, Ame selalu memastikan ia punya ciri khas dengan kompetitor lain yang serupa agar konsumennya puas dengan produk bikinannya.