Mangunan dan Kaliurang Potensial untuk Glamping, Tertarik Mengembangkan?

Mangunan dan Kaliurang Potensial untuk Glamping, Tertarik Mengembangkan?Kawasan wisata Tlogoputri Kaliurang Sleman sepi wisatawan. - Harian Jogja/ Meigitaria Sanita
08 Januari 2019 14:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Objek wisata glamorous camping (glamping) yang mengusung konsep eco-wisata makin dilirik oleh para pelaku bisnis wisata dalam negeri. Konsep wisata berkemah dengan fasilitas lengkap di alam yang tengah booming di luar negeri tersebut mulai digarap oleh Badan Otorita Borobudur (BOB) di wilayah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Di Jogja, kawasan Mangunan dan Kaliurang dianggap potensial dijadikan objek wisata yang mengusung konsep glamping.

Ketua Association Of The Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) DIY, Udhi Sudiyanto menuturkan pada 2019 ini ada beberapa kecenderungan wisatawan yang perlu disikapi dengan tepat oleh para pengelola destinasi maupun stakeholder pariwisata di DIY. Wisatawan sekarang cenderung ingin mendapatkan pengalaman akan budaya dan kehidupan masyarakat yang mereka datangi. Jika dahulu objek wisata cukup didatangi, dilihat, dan dipotret saja sekarang menurut Udhi wisatawan ingin pengalaman lebih. Bisa menginap di lokasi wisatawan atau bahkan berinteraksi langsung dengan masyarakat pengelola objek wisata tersebut. Maka konsep glamping sebenarnya sangat cocok diterapkan.

Dengan konsep glamping, Udhi menyebut wisatawan bisa mendapatkan pengalaman baru. Lebih bagus lagi jika tak hanya menginap tetapi dikombinasikan dengan berkegiatan bersama masyarakat sekitar sehingga wisatawan tak hanya menikmati alam saja tetapi juga budayanya. “Saya rasa konsep glamping ini bagus ya. Kawasan Mangunan dan Kaliurang bisa jadi sangat cocok untuk konsep ini. Apalagi sekarang wisatawan juga tertarik dengan wisata di luar, di alam, bukan di dalam gedung. Artinya kesempatan untuk mengembangkan konsep glamping ini sangat terbuka,” ujarnya kepada Harian Jogja, Senin (7/1).

Maka Udhi mengatakan keberadaan paket-paket wisata ke lokasi glamping sangat diperlukan. Agar ada penyebaran dan pergerakan wisatawan ke daerah-daerah sehingga tidak terkonsentrasi di wilayah kota saja. Namun Udhi menegaskan sebelum menggarap konsep glamping ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pengelola objek wisata. Terutama dari sisi pembenahan sehingga glamping tersebut memiliki standar kualitas yang diharapkan oleh wisatawan. “Apabila objek tersebut [glamping] ditujukan untuk wisman juga harus menggunakan standar internasional tetapi kalau untuk wisnus juga digunakan standar nasional,” ujarnya.

Sedangkan dari segi aksesbilitas, Udhi menuturkan aksesibilitas di Jogja sudah cukup bagus. Jalanan sudah bagus dan tersedia, tinggal bagaimana para pelaku wisata dan stakeholder terkait bersama-sama memanfaatkan dan mengembangkannya sesuai target. Udhi juga berpesan satu hal yang harus diperhatikan yakni wisatawan ingin tetap terhubung dengan dunia luar sehingga koneksi koneski Internet menjadi hal penting untuk diperhatikan.